SuaraJogja.id - Banyak mahasiswa memandang pekerjaan paruh waktu sebagai beban sulit yang harus diseimbangkan dengan tuntutan akademis yang tinggi. Cerita mengenai kelelahan, penurunan nilai, dan stres sering menjadi narasi sehari-hari.
Namun, ada sekelompok siswa yang berhasil menemukan celah produktivitas dengan mengubah cara mengelola waktu dan energi mereka.
Salah satunya adalah Muhammad Aliyul Himam Archam, mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Aisyiyah Yogyakarta, yang berhasil merancang strategi efektif dalam menghadapi kesibukan.
Bersama dengan Kandi Aulia Sekartami Mahasiswa Universitas Aisyiyah Yogyakarta dan Ferradia Febryana Mahasiswa Universitas Islam Mulia, mereka menunjukkan bahwa dengan manajemen waktu yang tepat, hambatan dapat diubah menjadi peluang.
Selain itu, kami ingin menggali pergeseran pola pikir dari "pembelajar pasif" menjadi "praktisi yang taktis," serta memberikan inspirasi melalui solusi nyata yang dapat diterima oleh mahasiswa lainnya.
Mencakup pengalaman sehari-hari mahasiswa yang bekerja paruh waktu di berbagai sektor. Fokus utama berfokus pada bagaimana mereka bertransisi antara ruang kelas dan ruang kerja, serta bagaimana mereka memanfaatkan waktu-waktu sempit untuk mengerjakan.
Himam, Kerja di salah satu tenant Plaza Ambarrukmo sebagai sales associate selama satu tahun empat bulan, menggambarkan tantangan yang harus dihadapi.
"Seringkali, saya merasa capek setelah pulang kerja, dan kadang sulit untuk fokus pada tugas kuliah," ujarnya. Ia ingat saat ketika tugas kuliah harus dikumpulkan pada pagi hari, sementara shift kerja baru berakhir larut malam.
"Masalahnya bukan hanya soal jumlah jam, tetapi juga tentang kebocoran energi. Terkadang saya merasa baterai habis sebelum belajar dimulai," ujarnya.
Baca Juga: Langkah Kecil di Kota Asing: Cerita Mahasiswa Perantau Menemukan Rumah Kedua di Jogja
Kondisi ini membuatnya harus menemukan cara untuk mengatur waktu yang lebih baik agar tidak terjebak dalam stres dan keterlambatan.
Kandi Aulia Sekartami, mahasiswa Ilmu Komunikasi, juga mengalami masalah serupa. Kerja di salah satu restoran cepat saji sebagai kasir di Jogja City Mall, ia sering menghadapi jadwal kerja yang diaktifkan dengan jam kuliah.
"Karena jam kerja yang mepet dengan selesai kuliah jadinya saya biasanya konfirmasi terlebih dahulu ke manajer karena masih kuliah yang penting sudah konfirmasi sebelumnya" ujar Kandi.
Misalnya, ketika ada acara keluarga yang mendesak atau tugas yang perlu diselesaikan, biasanya Kandi harus berkomunikasi dengan manajer agar dapat menyusun ulang jadwal.
Ferradia Febryana, mahasiswa D3 Kebidanan, menambahkan tantangannya berupa kesibukan yang tinggi karena harus melakukan praktik di bidang kebidanan sambil bekerja.
"Saya sering dipanggil untuk memijat bayi, tapi terkadang harus memilih antara pekerjaan atau kuliah," ujar Ferradia.
Situasi ini sering kali membuatnya merasa terjepit, terutama ketika harus mengambil keputusan dengan cepat.
Muhammad Aliyul Himam Archam menemukan beberapa solusi praktis untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Ia mulai dengan membuat jadwal bulanan yang jelas.
"Saya mencatat dan mengatur jadwal kerja dalam satu tempat. Ini membantu saya melihat kapan harus fokus belajar dan kapan bisa bekerja," ujarnya. Saat di tempat kerja, ia memanfaatkan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas.
"Saya sering menggunakan waktu istirahat yang satu jam itu untuk mencicil tugas. Setelah pulang kerja, saya tinggal melanjutkan apa yang sudah saya kerjakan," tambah Himam.
Dengan cara ini, ia dapat menjaga kinerja akademiknya tanpa mengorbankan pekerjaannya.
Kandi Aulia Sekartami juga menerapkan strategi serupa melalui catatan dan pengingat.
“Saya membuat daftar tugas dan rencana waktu. Misalnya, jika ada kuliah online, saya meminta izin kepada manajer untuk mengambil sedikit waktu istirahat,” ujarnya.
Pendekatan ini menjadikannya lebih disiplin dalam menjalani kewajibannya, baik di tempat kerja maupun di kelas.
Ferradia Febryana mengandalkan komunikasi yang baik dengan atasan dan dosen.
"Saya selalu memberitahu bos tentang jadwal kuliah yang saling mengganggu, dan jika perlu, saya akan meminta penjadwalan ulang," ujarnya. Hal ini membuat Ferradia Febryana merasa lebih tenang dan tidak terbebani.
Keuntungan dari usaha dan manajemen waktu yang baik tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga menjanjikan dampak positif di masa depan. Muhammad Aliyul Himam Archam merasa lebih siap untuk masuk ke dunia kerja setelah lulus.
"Pengalaman bekerja ini membuat saya lebih percaya diri dan mahir dalam berkomunikasi dengan orang lain. Itu sangat penting bagi jurusan saya," ujarnya.
Kandi Aulia Sekartami menambahkan, "Keterampilan yang saya pelajari di tempat kerja tidak hanya relevan untuk karir saya, tetapi juga membantu saya dalam menyelesaikan tugas kuliah."
Dari pengalaman ini, ia merasa bahwa bekerja sambil kuliah adalah bentuk investasi diri yang positif.
Ferradia Febryana juga merasakan perkembangan dalam diri.
"Saya menjadi lebih disiplin dan mampu mengatasi tekanan. Banyak hal yang saya pelajari di tempat kerja ternyata sangat berguna untuk kuliah," ujarnya.
Pengalamannya sebagai pekerja juga meningkatkan kepercayaan dirinya.
Kisah Himam, Kandi, dan Ferradia adalah contoh nyata bahwa kuliah sambil bekerja bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk tumbuh.
Dengan menerapkan sistem manajemen waktu yang efektif, siswa dapat menciptakan keseimbangan antara pendidikan dan pekerjaan.
"Kalau saya bisa membangun sistem ini, maka mahasiswa lain juga bisa," ucap Muhammad Aliyul Himam Archam optimis.
Dengan manajemen yang baik, hambatan waktu dalam berkuliah dan bekerja dapat diatasi, sehingga setiap mahasiswa dapat berinvestasi untuk masa depan yang lebih cerah. Jika mereka bisa, maka kamu juga bisa!
Kontributor : Laili Nur Fajar Firdayanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
- Terpopuler: 7 HP Layar Super Amoled, Samsung Galaxy A07 5G Rilis di Indonesia
Pilihan
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
Terkini
-
Prambanan Shiva Festival: Ketika 1.008 Dipa Menyatukan Spiritualitas, Budaya, dan Pariwisata Global
-
Siaga di Parangtritis, SAR Antisipasi Lonjakan Wisawatan Padusan Jelang Ramadan 2026
-
Prioritaskan Pedagang dari Warga Lokal, Ratusan Lapak Siap Meriahkan Kampung Ramadan Jogokariyan
-
37 Ribu Penonton Hadiri IHR Jateng Derby 2026, Musisi Ndarboy Kaget Karena Dua Hal Ini
-
BRI Buka Desa BRILiaN 2026, Target 6.000 Desa Berdaya