Budi Arista Romadhoni
Senin, 16 Februari 2026 | 18:32 WIB
Suasana Shiva Grha Kebangkitan Spiritualitas Candi Prambanan melalui Mahashivaratri. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Perayaan Mahashivaratri skala besar pertama di Indonesia diadakan di Candi Prambanan, menegaskan fungsinya sebagai monumen hidup.
  • Festival diawali kirab budaya lima kilometer menampilkan persatuan melalui benda sakral dari 36 provinsi.
  • Puncak acara adalah penyalaan serempak 1.008 dipa, bertujuan memperkuat spiritualitas, pariwisata, dan harmoni kebangsaan.

SuaraJogja.id - Candi Prambanan, situs warisan dunia yang megah, baru saja menjadi saksi sejarah perayaan Mahashivaratri pertama di Indonesia dalam skala besar, menandai puncak dari Prambanan Shiva Festival.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, perhelatan ini menegaskan posisi Prambanan sebagai "living monument" – monumen hidup yang tak hanya menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga terus berdenyut dengan spiritualitas, budaya, dan potensi pariwisata berkelas internasional.

Sorotan utama jatuh pada momen magis penyalaan 1.008 dipa atau pelita, yang secara simbolis menerangi kebangkitan spiritualitas dan harmoni dalam keberagaman.

Rangkaian festival ini dibuka dengan prosesi kirab budaya sejauh lima kilometer dari Candi Kedulan menuju Candi Prambanan.

Kirab ini bukan sekadar pawai, melainkan manifestasi persatuan bangsa, menampilkan barisan pembawa benda sakral dan air suci dari 36 provinsi, diiringi pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 1.000 meter.

Simbolisme kebangsaan ini diperkuat dalam prosesi Maha Gangga Tirta Gamana, di mana air dari seluruh provinsi dan sembilan candi Nusantara disucikan oleh 35 Sulinggih. Ini adalah ritual pembersihan diri dan harmoni semesta, sebuah pesan universal yang relevan bagi siapa saja.

Puncak keagungan spiritual terjadi saat 1.008 dipa dinyalakan serempak di pelataran candi.

Cahaya ribuan pelita ini, diiringi bunyi damaru yang ritmis dan sajian video mapping memukau di Candi Prambanan, menciptakan atmosfer yang tak hanya magis tetapi juga menggugah jiwa.

Ritual kemudian berlanjut dengan upacara Abhisekam yang berlangsung hingga fajar menyingsing, sebuah meditasi mendalam demi kedamaian dunia.

Baca Juga: 7 Saksi Diperiksa, Palang Pintu Tertahan Truk, Polisi Dalami Kelalaian Kecelakaan Maut Prambanan

Momen ini bukan hanya milik umat Hindu, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang dapat dirasakan oleh siapa pun yang hadir, melampaui batas-batas keyakinan.

Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian nilai spiritual dan penguatan sektor pariwisata.

"Prambanan Shiva Festival merupakan bukti bahwa kami ingin candi ini tidak hanya berdiri kokoh sebagai monumen masa lalu, tetapi benar-benar hidup sebagai warisan budaya yang sakral. Dari sisi pariwisata, kegiatan ini diharapkan mampu mendongkrak kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara,” jelasnya dikutip dari keterangan tertulis pada Senin (16/2/2026). 

Pernyataan ini menegaskan visi pemerintah untuk menjadikan situs warisan dunia ini sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman spiritual otentik sekaligus daya tarik budaya kelas dunia.

Febrina Intan, Direktur InJourney Destination Management, menambahkan bahwa festival ini adalah perwujudan harmonisasi ruang spiritual, seni, dan budaya.

"Keagungan Prambanan kita harapkan hadir secara inklusif, sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk dapat ikut mengagumi, menghargai, dan terinspirasi oleh keagungan situs suci ini. Kita ingin menunjukkan bahwa spiritualitas tidak harus memisahkan, tetapi justru menyatukan," jelasnya.

Inklusivitas ini terbukti dari partisipasi pengunjung seperti Echa dari Jakarta, yang merasa bersyukur bisa mengikuti penyalaan 1.008 dipa dan merasakan harmoni dalam keberagaman.

"Cinta kasih doa itu memang buat siapa saja, universal gitu. Jadi bersyukur bisa berada di sini, ngerasain energinya, berbagi energinya, di momen ini," ujarnya.

Apresiasi internasional datang dari Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, yang menyebut Candi Prambanan sebagai "kuil Shiva terbaik yang pernah ia lihat di dunia."

Ia melihat potensi besar untuk menarik wisatawan India, khususnya yang sudah banyak berkunjung ke Bali, untuk juga menjelajahi kekayaan warisan budaya di Yogyakarta, termasuk Prambanan.

Ini membuka peluang besar bagi pariwisata Indonesia untuk menarik segmen pasar baru yang kaya akan nilai spiritual dan budaya.

Ketua Umum PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, menegaskan bahwa Mahashivaratri adalah momentum untuk membangun manusia Indonesia yang utuh secara lahir, batin, dan sosial.

Pembentangan bendera Merah Putih sepanjang hampir seribu meter dalam kirab budaya menjadi simbol kuat persatuan dan semangat kebangsaan yang terjalin erat dengan spiritualitas.

Kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Pariwisata, Kementerian Agama, Kementerian Kebudayaan, PHDI, InJourney Destination Management, dan Pertamina Patra Niaga, menegaskan bahwa festival ini adalah tonggak baru dalam pengelolaan warisan budaya yang menyatukan spiritualitas, kebudayaan, dan pariwisata dalam satu tarikan napas kebangsaan.

Load More