- Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menerima teror sejak Februari 2026 pasca surat kritik kepada Presiden terkait hak pendidikan.
- Tiyo mengalami teror digital meliputi ancaman penculikan, pembunuhan karakter dengan isu LGBT, hingga tuduhan manipulasi dana KIP-K.
- Rangkaian intimidasi meluas hingga mengancam fisik Tiyo dan keluarganya, namun BEM UGM menyatakan tidak akan gentar mengawal isu publik.
SuaraJogja.id - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto mengungkap rangkaian teror yang ia terima sejak awal Februari 2026 kemarin.
Teror ini datang usai pihaknya melayangkan surat terbuka bernada keras kepada Direktur Eksekutif UNICEF untuk menegur Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gagal melindungi hak pendidikan warga negara.
Teror Personal dan Pembunuhan Karakter
Tiyo menyebut, teror bermula pada 9 Februari 2026, saat ia menerima pesan beruntun dari nomor asing dengan kode Inggris Raya. Nada pesan sejak awal sudah berupa ancaman dan tuduhan serius.
Pesan singkat tersebut tidak sekadar menyudutkan secara opini tapi sekaligus menuduhnya sebagai agen asing. Lebih parah lagi pihak tak dikenal itu melontarkan mengancam penculikan.
"Mereka juga mengancam penculikan, bahkan mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar, 'Awas LGBT di UGM' dengan foto saya," kata Tiyo dikutip, Rabu (18/2/2026).
Tak berhenti di pesan singkat, serangan terhadap Tiyo meluas ke berbagai platform media sosial seperti Facebook, X, Instagram, hingga TikTok.
Ia mengaku menjadi sasaran narasi yang merusak reputasi, mulai dari tuduhan orientasi seksual hingga fitnah kehidupan pribadi.
Selain itu, beredar pula konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan fotonya dengan narasi tak senonoh. Ia menyebut konten tersebut sebagai upaya pembunuhan karakter yang sistematis.
Baca Juga: Yu Beruk Meninggal Dunia, Jogja Kehilangan 'Ratu Panggung'
"Bahkan ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu digenerate oleh Artificial Intelligence dengan tulisan bahwa 'Tiyo ini adalah langganan, Tiyo ini suka menyewa LC karaoke'," ucapnya.
Dituding Manipulasi Dana KIP-K
Isu lain yang tak kalah masif adalah tudingan manipulasi dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Tiyo selaku Ketua BEM UGM dituduh memiliki relasi kuasa dalam rekomendasi penerima KIP-K hingga menerima setoran dari mahasiswa penerima bantuan tersebut.
"Semua orang tahu bahwa Ketua BEM UGM itu tidak pernah ngurusi rekomendasi KIP," ungkapnya.
BEM UGM memang pernah melakukan penggalangan dana untuk membantu mahasiswa penerima KIP-K yang mengalami keterlambatan pencairan dana. Namun, terkait dengan praktik penggelapan seperti yang dituduhkan itu sama sekali tak berdasar.
Tak sampai di situ saja, isu yang diembuskan adalah pelabelan dirinya sebagai 'anak abah' usai foto bersama Anies Baswedan dalam sebuah kegiatan reuni alumni BEM beredar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Di Tangan Suahasil, MBG Jadi Prioritas Subsidi Energi Dipangkas
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
- Tan Cheng Hoe Gerah Lihat Pemain Malaysia Larut dalam Kekecewaan: Stop Nangis
- 7 Sepatu Jalan Paling Awet yang Solnya Empuk untuk Perjalanan Jauh
Pilihan
-
Kalapas Cibinong Dipecat dari ASN, Buntut Klaster Mewah dalam Penjara
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
Terkini
-
Tak Sekadar Turnamen, Juara ANC Dibidik Masuk Jalur Pembinaan FFI hingga U-21
-
Proyek PSEL DIY Dikebut Akhir Tahun, Tapi Izin Belum Diajukan
-
Stem Cell Jadi Ladang Bisnis Kecantikan, Dokter Ingatkan Produk Ilegal dan Klaim Berlebihan
-
BRI dan KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi melalui PELOPOR 2026
-
Papermoon Gelar Pesta Boneka #10 di Jogja, Hadirkan 193 Seniman dari 24 Negara