- Dua kakak beradik, Arta (16) dan Rizki (10), mencari rongsokan di bantaran Kali Gajah Wong sejak pandemi untuk menyambung hidup.
- Arta mengajari adiknya baca tulis dan hitung di sela waktu kerja meskipun dirinya berhenti sekolah dasar demi membantu ayah.
- Keluarga ini hidup bergantung pada penghasilan tidak menentu dari barang bekas, sambil menunggu janji bantuan pendidikan yang belum terealisasi.
Menabung untuk Masa Depan
Diungkapkan Arta memang penghasilan dari mengumpulkan botol plastik, kardus, dan kaleng memang tidak menentu. Terkadang mereka hanya membawa pulang Rp10.000 hingga Rp20.000 jika ditimbang langsung di jalan.
Ketika dibawa pulang dan lebih dulu dikumpulkan menjadi satu nilainya kadang bisa lebih tinggi meski tidak signifikan. Namun dengan kondisi itu mereka tetap disiplin menyisihkan uang untuk ditabung.
"Ya untuk ditabung sama buat jajan sehari-hari," tuturnya.
Di tengah ketidakpastian pendidikan dan ekonomi mereka, Arta tetap memegang teguh semangat yang diberikan oleh ayahnya. Setiap hari sebelum berangkat keliling doa dan dukungan orang tua menjadi bahan bakar utamanya untuk tetap bekerja keras.
"Dukungan orang tua itu yang bikin semangat," imbuhnya.
Arta punya satu harapan sederhana namun mendalam. Ia ingin suatu saat nanti usahanya berbuah manis hingga mampu memiliki rumah sendiri dan menjadi orang yang berguna bagi sesama.
"Ke depane saya kepingin jadi orang yang berguna. Jadi orang yang sukses punya usaha sendiri, bisa buat bantu orang tua," tandasnya.
Adapun kini Arta dan Rizki tinggal bersama bersama sang ayah Susilo serta ibu sambungnya di bantaran Sungai Gajah Wong. Mereka hidup dalam kontrakan sederhana pinggir kali dengan biaya Rp500 ribu per bulan.
Baca Juga: JPW Soroti Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Oknum Guru SLB di Jogja, Minta Percepat Proses Hukum
Menanti Harapan yang Nyata
Sang ayah, Susilo, mengungkapkan bahwa sudah banyak instansi dan individu yang datang menawarkan bantuan.
Namun hingga kini janji-janji tersebut belum ada yang terealisasi secara konkret.
"Sebenarnya itu kalau ada instansi atau orang yang menolong memang sudah banyak, orang-orang yang menginginkan Arta itu sekolah lagi atau adiknya sekolah lagi, tapi sampai saat ini saya sendiri menunggu nggak ada yang kembali merespons," ungkapnya.
Ia sebenarnya menyimpan keinginan besar untuk melihat anak-anaknya kembali bersekolah.
"Saya terbuka untuk kalau memang ada orang yang ingin menyekolahkan anak saya, saya terbuka," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi