- Dinas Kesehatan DIY mencatat 349 suspek campak hingga 3 Maret 2026, dengan 57 di antaranya terkonfirmasi positif.
- Meskipun kasus meningkat, belum ada laporan kasus campak yang menyebabkan kematian di wilayah DIY hingga saat itu.
- Imunisasi tetap menjadi upaya pencegahan utama, meskipun masih ada sebagian kecil masyarakat yang menolak pemberian vaksinasi.
SuaraJogja.id - Kasus campak kembali muncul di DIY. Dinas Kesehatan (dinkes) DIY mencatat ratusan warga terduga atau suspek campak sejak awal tahun 2026.
Hingga 3 Maret 2026, jumlah suspek campak di DIY tercatat mencapai 349 kasus. Dari jumlah itu, sebanyak 57 orang di antaranya telah dinyatakan positif terinfeksi penyakit tersebut.
Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi di Yogyakarta, Jumat (6/3/2026) menyampaikan meski jumlah suspek cukup banyak, hingga saat ini belum ada laporan kasus campak yang berujung pada kematian di wilayah DIY.
"Per 3 Maret 2026, 57 kasus [campak] yang terkonfirmasi positif. Sampai saat ini tidak ada kasus campak meninggal dunia di DIY," jelasnya.
Menurut Anung, penyakit campak merupakan penyakit menular yang penyebarannya sangat cepat, terutama pada anak-anak. Virus campak dapat menyebar melalui droplet atau percikan saat penderita batuk dan bersin.
Penularannya pun sangat mudah terjadi apabila tidak dilakukan langkah pencegahan yang tepat. Karenanya Dinkes melakukan upaya pencegahan melalui imunisasi.
"Imunisasi masih menjadi langkah paling efektif untuk melindungi masyarakat dari risiko penularan campak," ujarnya.
Anung menyebut, berdasarkan data tahun 2025, cakupan imunisasi campak di DIY tergolong tinggi. Cakupan imunisasi campak dosis pertama di DIY mencapai 98,2 persen, sementara untuk dosis kedua mencapai 96,1 persen.
Angka tersebut dinilai sudah memenuhi target untuk mendukung terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok di masyarakat. Dengan capaian tersebut, secara umum program imunisasi di DIY dinilai berjalan baik.
Baca Juga: Aveta Hotel Malioboro Mengadakan Buka Bersama Anak-anak Panti Asuhan Mustika Tama
"Cakupan yang tinggi diharapkan mampu menekan penyebaran penyakit menular, termasuk campak," tandasnya.
Meski tinggi, Dinkes mengakui masih terdapat sebagian kecil kelompok masyarakat di beberapa wilayah yang menolak imunisasi. Penolakan tersebut umumnya dilatarbelakangi oleh keyakinan tertentu yang membuat orang tua enggan memberikan imunisasi kepada anak mereka.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinkes melakukan berbagai upaya edukasi kepada masyarakat secara berjenjang. Pendekatan juga dilakukan dengan melibatkan berbagai sektor di luar kesehatan.
"Kami melakukan pendekatan dan advokasi tidak hanya melalui sektor kesehatan, tetapi juga melibatkan sektor pendidikan dan sektor keagamaan untuk membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat sesuai dengan kewenangannya masing-masing," ungkapnya.
Namun upaya tersebut, lanjutnya belum sepenuhnya berhasil mengubah pandangan sebagian kecil masyarakat yang tetap menolak imunisasi karena alasan keyakinan. Anung pun mengingatkan campak bukan penyakit yang bisa dianggap ringan.
Selain mudah menular, penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius, terutama pada anak balita. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain infeksi paru-paru, diare berat, hingga gangguan pada sistem saraf.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais