- Prabowo Subianto dikritik PP Aisyiyah karena pernyataan kontroversialnya mengenai ketidaktergantungan masyarakat desa terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat.
- Pelemahan rupiah mencapai Rp17.668 per dolar mengakibatkan lonjakan harga kebutuhan pokok serta membebani ekonomi masyarakat di pelosok desa.
- PP Aisyiyah mendesak pemerintah segera fokus pada solusi ekonomi konkret guna menstabilkan harga daripada sekadar melontarkan pernyataan kontraproduktif.
SuaraJogja.id - Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak membutuhkan dolar menuai kritik tajam di tengah situasi ekonomi nasional yang sedang genting.
Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah menilai narasi tersebut sangat tidak pantas dan justru mencederai perasaan rakyat, mengingat saat ini nilai tukar rupiah sedang hancur-hancuran hingga menyentuh level psikologis Rp 17.668 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan nilai tukar ini berdampak langsung pada lonjakan biaya hidup yang mencekik masyarakat, dari kota hingga pelosok desa.
Ketua Umum PP Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan bahwa seorang pemimpin negara seharusnya menunjukkan empati di tengah carut-marut ekonomi, bukan melontarkan pernyataan yang seolah menafikan realitas sulit di akar rumput.
"Statement itu tidak pas di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang sulit," tegas Salmah Orbayinah disela Konferensi Nasional Milad ke 109 di Yogyakarta, Senin (18/5/2026).
Salmah mengingatkan adanya kesalahpahaman mendasar jika menganggap masyarakat desa kebal terhadap fluktuasi dolar. Meskipun transaksi harian di desa menggunakan rupiah, harga barang-barang kebutuhan pokok, energi, dan biaya produksi pertanian sangat dipengaruhi oleh kurs global. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku atau energi meningkat, yang ujungnya mengerek harga barang di tingkat konsumen akhir di desa.
"Walaupun orang desa tidak menggunakan dolar secara langsung, dampaknya tetap terasa sampai ke desa. Harga kebutuhan pokok, energi, hingga bahan pangan bisa ikut terpengaruh," ujarnya.
Ia mencontohkan realitas pahit yang dihadapi ibu rumah tangga di berbagai daerah saat ini. Kenaikan harga tidak bisa dibantah hanya dengan retorika politik.
"Misalnya harga minyak goreng saja sekarang terasa mahal. Itu terjadi bukan karena masyarakat menggunakan dolar, tetapi karena dampak ekonomi global yang mempengaruhi harga dan rupiah," tandasnya.
Baca Juga: Seminar Moderasi Beragama UNY, Generasi Z Sleman Belajar Toleransi di Era Digital
Dampak domino dari pelemahan rupiah ini juga memukul sektor pendidikan dan kelompok rentan. Biaya operasional perguruan tinggi yang membengkak akibat kenaikan biaya energi akhirnya membebani mahasiswa. Aisyiyah menyoroti fakta memilukan di mana banyak mahasiswa kini berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
"Banyak mahasiswa yang bahkan untuk makan saja masih kesulitan. Ada yang kos dengan kondisi sangat sederhana, bahkan alas tidurnya hanya tanah," ungkapnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.
Di tengah situasi krisis ini, PP Aisyiyah mendesak pemerintah, termasuk presiden terpilih, untuk berhenti mengeluarkan pernyataan kontraproduktif dan fokus pada solusi konkret untuk menstabilkan ekonomi. Beban krisis tidak seharusnya hanya ditanggung rakyat dengan diminta berhemat.
"Rakyat tidak hanya diharusnya berhemat, tapi pemerintah mestinya juga membuat kebijakan yang tepat," tandasnya.
Sementara itu, Sekretaris PP Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah menambahkan, meskipun organisasinya mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal, realitas keterhubungan ekonomi global tidak bisa diabaikan. Stabilitas makroekonomi nasional tetap menjadi kunci.
"Terutama kelompok rentan yang saat ini menghadapi tekanan ekonomi sekaligus tantangan sosial yang semakin kompleks," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
- Timnas Indonesia vs Everbody: Panen Cibiran dari Negara Se-Asia Tenggara
- Indonesia Impor Nikel dari Filipina Gara-gara RKAB
Pilihan
-
Babak I Indonesia vs Bangladesh: Garuda Pesta Gol, Mitchell Baker Quattrick
-
Bahlil Jadi Menko Hilirisasi Baru, Bagaimana Nasib Proyek Batu Bara di Sumsel?
-
Buntut Temuan di Lapas Cibinong, Dirjenpas Mashudi Mundur dari Jabatan
-
Reshuffle Kabinet: 'Orang Jokowi' Tersingkir, Sugiono Disebut Rangkap Jadi Menko PMK
-
Diberhentikan dari Kapolri, Listyo Sigit Prabowo Disebut Bakal Jadi Kepala KSP
Terkini
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi
-
BRI Peduli Buka Peluang Bagi Penyandang Disabilitas di Makassar Dengan Pembekalan Kewirausahaan
-
Erna dan Ari, Pasangan Atlet Disabilitas yang Tumbuh Bersama Lewat Warung Kelontong
-
DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran
-
Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas