Husna Rahmayunita | Rosiana Chozanah
Rabu, 13 Mei 2026 | 11:59 WIB
Seminar Moderasi Beragama di UNY (Istimewa)
Baca 10 detik
  • UNY gelar seminar moderasi beragama di SRMA 20 Sleman, mengajak siswa dan guru memahami pentingnya toleransi di era digital.

  • Prof. Marzuki menekankan pendidikan agama relevan dengan kehidupan sehari-hari dan perlunya menanamkan moderasi sejak dini.

  • Dr. Fungki Febiantoni dorong generasi muda untuk berpikir terbuka, kritis, dan menyebarkan cinta agar tercipta harmoni.

SuaraJogja.id - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar seminar bertema moderasi beragama di (Sekolah Rakyat Menengah Atas) SRMA 20 Sleman, Rabu (6/5/2026).

Kegiatan yang masuk program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diikuti 75 siswa, 30 guru, dan 5 wali asuh.

Acara berlangsung hangat dan interaktif, dengan para siswa tak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi serta terlibat sebagai pemandu acara hingga kepanitiaan.

Kepala sekolah Reti Sudarsih mengapresiasi kegiatan ini dan berharap bisa berlanjut agar siswa memiliki bekal menghadapi tantangan sosial di masa depan.

"Kami berharap, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai bekal bagi siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan,” tutur Reti Sudarsih sembari melanjutkan proses penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Sekolah Rakyat dan UNY.

Dalam sesi pertama, Guru Besar Ilmu Pendidikan Agama Islam UNY, Marzuki, menekankan pentingnya pendidikan agama yang relevan dengan era digital.

Marzuki juga menuturkan pengalaman di Bali, di mana umat beragama saling membantu menjaga ketertiban saat ibadah, sebagai contoh nyata moderasi beragama.

“Di sana, ketika umat Muslim menunaikan salat Jumat, masyarakat nonmuslim membantu mengatur parkir dan menjaga lingkungan sekitar, sebaliknya, saat umat agama lain melaksanakan ibadah, masyarakat Muslim yang menjaga ketertiban area ibadah” ungkapnya.

Sementara itu, Pakar Pendidikan Agama Islam UNY, Fungki Febiantoni, menambahkan bahwa moderasi bisa diwujudkan lewat sikap open minded, critical thinking, dan spread love.

Baca Juga: Penjualan Hewan Kurban di Sleman Lesu, Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet

Fungki pun mengajak siswa menyebarkan kebaikan lewat tindakan sederhana, seperti tidak menyakiti orang lain.

“Coba sekarang masing-masing mencubit tangannya, tentu rasanya sakit dan tidak enak, maka jika tidak mau disakiti, jangan menyakiti orang lain” pesan Fungki.

Load More