-
UNY gelar seminar moderasi beragama di SRMA 20 Sleman, mengajak siswa dan guru memahami pentingnya toleransi di era digital.
-
Prof. Marzuki menekankan pendidikan agama relevan dengan kehidupan sehari-hari dan perlunya menanamkan moderasi sejak dini.
-
Dr. Fungki Febiantoni dorong generasi muda untuk berpikir terbuka, kritis, dan menyebarkan cinta agar tercipta harmoni.
SuaraJogja.id - Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar seminar bertema moderasi beragama di (Sekolah Rakyat Menengah Atas) SRMA 20 Sleman, Rabu (6/5/2026).
Kegiatan yang masuk program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini diikuti 75 siswa, 30 guru, dan 5 wali asuh.
Acara berlangsung hangat dan interaktif, dengan para siswa tak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi serta terlibat sebagai pemandu acara hingga kepanitiaan.
Kepala sekolah Reti Sudarsih mengapresiasi kegiatan ini dan berharap bisa berlanjut agar siswa memiliki bekal menghadapi tantangan sosial di masa depan.
"Kami berharap, kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut sebagai bekal bagi siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan,” tutur Reti Sudarsih sembari melanjutkan proses penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Sekolah Rakyat dan UNY.
Dalam sesi pertama, Guru Besar Ilmu Pendidikan Agama Islam UNY, Marzuki, menekankan pentingnya pendidikan agama yang relevan dengan era digital.
Marzuki juga menuturkan pengalaman di Bali, di mana umat beragama saling membantu menjaga ketertiban saat ibadah, sebagai contoh nyata moderasi beragama.
“Di sana, ketika umat Muslim menunaikan salat Jumat, masyarakat nonmuslim membantu mengatur parkir dan menjaga lingkungan sekitar, sebaliknya, saat umat agama lain melaksanakan ibadah, masyarakat Muslim yang menjaga ketertiban area ibadah” ungkapnya.
Sementara itu, Pakar Pendidikan Agama Islam UNY, Fungki Febiantoni, menambahkan bahwa moderasi bisa diwujudkan lewat sikap open minded, critical thinking, dan spread love.
Baca Juga: Penjualan Hewan Kurban di Sleman Lesu, Pedagang Keluhkan Penurunan Omzet
Fungki pun mengajak siswa menyebarkan kebaikan lewat tindakan sederhana, seperti tidak menyakiti orang lain.
“Coba sekarang masing-masing mencubit tangannya, tentu rasanya sakit dan tidak enak, maka jika tidak mau disakiti, jangan menyakiti orang lain” pesan Fungki.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Jargas Digenjot Demi Ketahanan Energi, Antara Manfaat Belum Merata dan Kesiapan yang jadi Tantangan
-
BRImo Catat 49,7 Juta Pengguna, Transaksi Melejit Rp4.166 Triliun
-
Bukan Lomba, Ribuan Warga Jogja Bersih-bersih Kali Code Sembari Mural untuk Rayakan HUT RI ke-81
-
Pusat AI Resmi Beroperasi di UGM, Pemerintah Soroti Pentingnya Inovasi Berbasis Masalah Riil
-
Sembilan SPPG di DIY Terancam Ditutup Permanen, Satu SPPG Langganan Keracunan Ditutup