- Gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menyebabkan ribuan rumah rusak dan menelan ribuan korban jiwa.
- Semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat Yogyakarta menjadi kunci utama dalam mempercepat proses pemulihan pasca bencana tersebut.
- Pengalaman gempa 2006 mendorong penguatan kapasitas masyarakat serta kelembagaan dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Indonesia.
SuaraJogja.id - Hampir dua dekade berlalu sejak Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 mengguncang DIY dan Jawa Tengah. Ribuan rumah runtuh, fasilitas umum rusak, serta 6 ribu lebih warga menjadi korban jiwa.
Namun di balik tragedi tersebut, gempa 2026 di kota ini masih menjadi pelajaran penting dalam penanganan bencana. Bahkan menjadi rujukan dalam penanganan bencana di Indonesia karena kuatnya gotong royong dan solidaritas masyarakat Yogyakarta.
"Pada hari pertama setelah Gempa Yogyakarta 2006, di depan kantor sudah tersedia delapan mobil lengkap dengan sopir yang siap digunakan untuk respons bencana. Banyak relawan yang langsung bergerak tanpa menanyakan biaya operasional atau bensin. Hal seperti ini jarang terjadi di daerah lain," papar Dewan Pakar Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Rahmawati Husein dalam seminar sinergi UGM-Kagama "20 Tahun Gempa Yogyakarta 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa di UGM, Yogyakarta, Sabtu (30/6/2026).
Menurut Rahma, keberhasilan Yogyakarta bangkit dari keterpurukan pascagempa bukan hanya karena bantuan yang datang dari pemerintah maupun lembaga kemanusiaan. Namun karena masyarakat mampu menjadi kekuatan utama dalam proses penyelamatan, pemulihan, hingga rekonstruksi.
Pengalaman Gempa Yogyakarta 2006 menunjukkan bagaimana modal sosial yang dimiliki masyarakat dapat menjadi faktor penentu dalam keberhasilan penanganan bencana. Sebelum bertugas di Yogyakarta, Rahma pernah menjadi koordinator program Muhammadiyah di Aceh pascatsunami.
Pengalaman tersebut membuatnya melihat langsung perbedaan karakter masyarakat dalam merespons bencana. Menurutnya, salah satu hal yang paling berkesan dari Yogyakarta adalah tingginya semangat gotong royong yang muncul secara spontan ketika bencana terjadi.
"Solidaritas sosial yang terbangun membuat proses tanggap darurat berlangsung lebih cepat dan efektif," tandasnya.
Rahma menambahkan, pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Muhammadiyah memperkuat kelembagaan kebencanaan. Sebelum Muktamar Muhammadiyah tahun 2010, belum ada lembaga khusus yang menangani kebencanaan secara terstruktur.
Padahal Muhammadiyah setiap tahun terlibat dalam respons lebih dari 100 kejadian bencana. Bahkan pada 2022 jumlah respons yang dilakukan mencapai lebih dari 200 kejadian di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Siap Lari di Mandiri Jogja Marathon 2026? Marriott Yogyakarta Hadirkan Paket Race & Rest Bagi Pelari
"Kami menyadari bahwa bencana tidak akan berkurang, bahkan cenderung bertambah. Karena itu yang harus ditingkatkan adalah kapasitas masyarakat. Semakin tinggi kapasitas masyarakat, maka risiko yang dihadapi akan semakin rendah," katanya.
Rahma menyebut, organisasi keagamaan memiliki posisi strategis dalam pengurangan risiko bencana. Sebab keberadaannya melekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jaringan masjid, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan organisasi sosial memungkinkan pesan-pesan mitigasi menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
"Berbagai penelitian menunjukkan peran organisasi berbasis keagamaan sangat besar dalam mitigasi maupun respons bencana," ujarnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi, lanjutnya adalah mengubah cara pandang sebagian masyarakat yang menganggap bencana sepenuhnya merupakan takdir. Akibatnya mereka berpikir tidak perlu melakukan persiapan.
Karena itu Muhammadiyah mengembangkan pendekatan yang menggabungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keagamaan. Pendekatan teologis tersebut dinilai penting karena edukasi kebencanaan tidak cukup hanya menggunakan pendekatan ilmiah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, Sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM Dorong UMKM Bertumbuh
-
Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, Muhammadiyah Minta Pencarian Gunakan Teknologi Terbaru
-
Heboh LHKP Muhammadiyah Cap Program MBG Haram, Haedar Nashir Buka Suara
-
Jelang Tanwir ke-114, Muhammadiyah Sentil Masalah Bangsa Menumpuk, Elite Tak Gerak Cepat
-
Dana Desa Dipangkas untuk Kopdes Merah Putih, Banyak Lurah Takut Masuk Penjara, DIY Andalkan Danais