- BPJS Kesehatan belum menanggung biaya sepatu koreksi bagi 125 anak penderita kaki pengkor di Yogyakarta hingga kini.
- Pusat Rehabilitasi YAKKUM mengandalkan bantuan organisasi asing untuk menyediakan sepatu koreksi gratis demi keberhasilan terapi anak-anak tersebut.
- Pemerintah Daerah DIY menyediakan program Jamkesos sebagai penyangga layanan kesehatan bagi disabilitas di luar tanggungan BPJS Kesehatan.
"Kami tidak membatasi selama masyarakat memang membutuhkan dan ada rekomendasi dari dokter untuk disabilitas. Jika ada rekomendasi tersebut, kami akan memberikan pelayanan," paparnya.
Menurut dia, Jamkesos berfungsi sebagai "buffer" atau penyangga ketika kebutuhan kesehatan warga tidak dapat diakomodasi oleh BPJS Kesehatan.
Program ini juga menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu masyarakat miskin yang belum memiliki BPJS aktif. Selain itu bagi mereka yang membutuhkan layanan tertentu yang tidak masuk dalam skema pembiayaan BPJS.
Namun keberadaan Jamkesos belum sepenuhnya menjawab persoalan alat bantu disabilitas yang membutuhkan pembiayaan berkelanjutan. Terlebih penentuan kebutuhan alat bantu tetap bergantung pada rekomendasi tenaga medis dan ketersediaan anggaran daerah.
"Artinya, kebutuhan yang tidak terakomodasi oleh BPJS insyaallah bisa kami layani melalui program Jamkesos," ujarnya.
Widyaningsih, warga Sedayu, Bantul, menjadi salah satu orang tua yang merasakan langsung bagaimana mahalnya perjuangan mengembalikan fungsi kaki anaknya agar dapat tumbuh normal. Putrinya, Alyssa Satria Abriora, didiagnosis mengalami clubfoot sejak lahir.
"Awalnya kami tidak memahami kondisi itu. Setelah mendapat penjelasan dokter, kami mulai menjalani pengobatan," ujarnya.
Informasi mengenai program bantuan sepatu koreksi diperolehnya secara tidak sengaja dari seorang teman melalui pesan WhatsApp. Dari informasi sederhana itu, perjalanan panjang terapi Alyssa dimulai.
Saat itu Alyssa harus menjalani serangkaian tindakan medis, mulai dari pemasangan gips, operasi kecil, hingga penggunaan sepatu koreksi dalam jangka waktu yang sangat lama.
Baca Juga: Kadin Sleman Sambut Reaktivasi Bandara Adisutjipto, Diyakini Bangkitkan Mesin Ekonomi Sleman
Anak tersebut mulai memakai sepatu koreksi pada usia sekitar satu setengah tahun. Pada tahap awal, sepatu harus digunakan selama 23 jam sehari selama tiga bulan penuh.
Setelah kondisi membaik, durasi penggunaan dikurangi menjadi 16 jam per hari dan kemudian hanya digunakan saat tidur. Namun kesabaran tersebut akhirnya membuahkan hasil.
"Alhamdulillah sekarang kondisi anak saya sangat baik. Dia bisa berjalan normal, memakai sepatu biasa seperti teman-temannya, dan tidak pernah mengeluh sakit," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Menteri LH Akui Negara Kecolongan, Siap Tindak Tegas Perusak Alam Usai Berguru ke Sultan Jogja
-
SD Negeri Banyak yang Kekurangan Murid, Pemerintah Siapkan Opsi 'Regrouping'
-
Video Pengejaran Maling LPG 3 Kg di Bantul Viral, Pelaku Lolos Meski Sempat Terjatuh
-
Curhat ke Sri Sultan, GNB Ungkap Krisis Kepercayaan Publik pada Negara Kian Mengkhawatirkan
-
Mobil Brimob Terserempet KA Bandara di Sedayu, Begini Kronologinya