Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:25 WIB
Ilustrasi Kampus UNY. [@unyofficial / Instagram]
Baca 10 detik
  • Aliansi Mahasiswa UNY menggelar aksi protes menolak wacana SPPG saat momentum wisuda di lingkungan kampus pada Rabu, 24 Juni 2026.
  • Aksi tersebut memicu perdebatan antara mahasiswa dengan wakil rektor karena dilakukan di area rektorat tanpa mengantongi izin resmi.
  • Pihak rektorat membantah tudingan implementasi SPPG dan menilai aksi mahasiswa mengotori fasilitas kampus serta menggunakan kalimat yang tidak pantas.

SuaraJogja.id - Aliansi Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengungkap kronologi debat antara mahasiswa dan pihak rektorat di lingkungan kampus yang sempat viral di media sosial. 

Menurut aliansi, aksi tersebut sejak awal hanya bertujuan membentangkan spanduk dan berfoto di area rektorat sebelum akhirnya berpindah ke gerbang utama kampus.

Perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, Andri, mengatakan aksi sengaja digelar bertepatan dengan momentum wisuda pada Rabu (24/6/2026) lalu agar pesan yang mereka bawa dapat diketahui lebih banyak orang. Meski demikian, ia menegaskan massa tidak berniat mengganggu jalannya kegiatan wisuda.

"Sebetulnya kami ya itu, hanya sebatas membentangkan, foto, selesai, karena memang tujuan kami utama untuk berorasi itu ya di depan UNY itu, di pintu gerbang, pintu gerbang utama," kata Andri saat dihubungi awak media, Jumat (26/6/2026).

Namun, sebelum mencapai tangga rektorat, rombongan mahasiswa mengaku dicegat sejumlah petugas keamanan dan seorang pejabat kampus yang belakangan diketahui merupakan wakil rektor. 

Menurut Andri, upaya mereka memasuki area tersebut ditolak sehingga sempat terjadi adu argumen di selasar rektorat sebelum akhirnya massa memutuskan bergeser ke gerbang utama kampus.

Andri mengatakan spanduk yang mereka bawa berukuran sekitar 2x2 meter dengan tulisan penolakan terhadap wacana SPPG di UNY. Selain itu, terdapat satu spanduk lain yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah secara nasional.

"Isinya tulisan 'rektor pendidikan, tidak tahu pendidikan', 'kampus tempat memasak pikiran, bukan tempat memasak MBG', 'kami mahasiswa UNY menolak SPPG'. Hanya tiga kalimat tersebut yang kami tuliskan di spanduk itu," tandasnya.

Penolakan mahasiswa itu, kata dia, bukan didasarkan pada keberadaan SPPG yang telah beroperasi di UNY. Melainkan sebagai respons atas pernyataan rektor yang menyatakan kesiapan kampus menerima program tersebut. 

Baca Juga: Forum BEM DIY Sindir Demo Pro MBG demi Wajan, Gerindra Tak Muncul dalam Unjukrasa di DPRD

"Kita itu kan tidak merespons ketika SPPG itu sudah diimplementasikan. Kita hanya merespons pernyataan rektor untuk menerima (rencana pembangunan SPPG) di saat kampus-kampus lain menolak," ujarnya.

Lebih lanjut, Andri menyebut mahasiswa menilai kampus seharusnya tetap menjadi ruang kritik terhadap kebijakan publik. Apalagi program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini masih menyisakan persoalan transparansi, akuntabilitas, hingga risiko dalam pelaksanaannya.

"Ya, kampus itu harusnya ya sebagai kekuatan moral, sebagai kontrol sosial dari kebijakan publik," tegasnya.

Andri bahkan mengaku terkejut dengan respons yang diberikan pihak rektorat saat aksi berlangsung. Menurutnya, bahasa yang digunakan pejabat kampus dalam video viral tersebut tidak semestinya disampaikan kepada mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi.

"Kita sempat kaget ya, kenapa bisa dengan bahasa yang seperti itu, karena kita juga jarang menemukan bahasa-bahasa yang sampah, ini kotor di dalam aksi kita selama ini," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum UNY, Siswanto, mengatakan saat itu mahasiswa melakukan teatrikal di Hall Rektorat tanpa izin ketika lokasi sedang dipadati wisudawan beserta orang tua. 

Load More