Nur Khotimah | Rosiana Chozanah
Senin, 29 Juni 2026 | 13:09 WIB
Peluncuran film tentang kesehatan mental di kalangan remaja (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Film remaja DIY Histeria Kolektif dan Di Balik Nilai Merah jadi kampanye kesehatan mental, angkat isu tekanan akademik dan fenomena sosial.
  • PRYAKKUM meluncurkan Buku Saku Sehat Mental Remaja untuk literasi, panduan emosi, dan mencegah self-diagnosis.
  • Acara Ruang Aman untuk Kita jadi wadah kolaborasi sekolah, organisasi, dan pemerintah, sekaligus ruang aman remaja bicara mental health.

SuaraJogja.id - Industri hiburan remaja di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru saja menghadirkan gebrakan penting, yakni merilis dua film pendek karya siswa SMA yang menjadikan isu kesehatan mental sebagai sorotan utama.

Film berjudul "Histeria Kolektif" dan "Di Balik Nilai Merah" diluncurkan dalam acara “Ruang Aman untuk Kita” yang digelar Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK, dengan dukungan CBM Global, di Auditorium IFI Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026).

Kedua film ini bukan sekadar karya seni, melainkan media kampanye yang membumi.

Film "Histeria Kolektif" mengangkat fenomena kesurupan massal di sekolah, yang sering dianggap mistis, padahal bisa jadi cerminan tekanan psikologis, stres, atau kepanikan yang menular.

Sementara "Di Balik Nilai Merah" menyoroti stigma terhadap siswa berprestasi rendah, mengingatkan guru dan orang tua bahwa nilai akademik bukan satu-satunya ukuran kemampuan anak.

“Seharusnya anak dengan nilai rendah dimotivasi agar bisa mempelajari pelajaran lagi, bukan malah tidak memotivasi,” ujar Devinta Idya Putri, penulis cerita film "Di Balik Nilai Merah".

Menurut Project Manager Program ASIK, Fina Umi, film dipilih karena lebih dekat dengan kehidupan remaja, terutama dalam lingkungan sosial mereka.

“Tujuan utama peluncuran film ini untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental pada orang muda,” jelas Fina Umi.

Fina menambahkan, buku saku yang turut diluncurkan berfungsi mencegah remaja melakukan self-diagnosis hanya dari konten media sosial.

Baca Juga: Data Pusat Tak Akurat, DPRD Jogja Desak Aturan Lokal agar Bantuan Pendidikan Tepat Sasaran

“Sering kali remaja membaca konten di media sosial lalu langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan tertentu. Padahal diagnosis tidak bisa dilakukan sendiri,” tegas Fina.

Manajer Program Rehabilitasi PRYAKKUM, Christian Pramudya, menekankan pentingnya partisipasi aktif remaja dalam isu ini.

“Saat ini kita tidak bisa lagi menempatkan orang muda hanya sebagai penerima manfaat. Mereka perlu ditempatkan sebagai subjek yang ikut merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi berbagai program yang menyangkut kehidupan mereka, termasuk isu kesehatan mental,” ujar Christian.

Kampanye ini juga dilengkapi dengan peluncuran Buku Saku Sehat Mental Remaja dan Orang Muda, yang berisi panduan mengenali emosi, membangun relasi sehat, hingga akses layanan profesional.

Acara semakin semarak dengan pertunjukan seni, talkshow, skrining kesehatan mental gratis, hingga booth interaktif. Semua ini dirancang untuk memecah stigma bahwa membicarakan kesehatan mental adalah hal tabu.

Lebih dari 80 peserta hadir, mulai dari pelajar SMA/SMK, Forum Anak, organisasi penyandang disabilitas, hingga perwakilan Dinas Pendidikan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kesehatan mental adalah isu kolektif yang membutuhkan ekosistem suportif dari semua pihak.

Load More