Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Senin, 20 Juli 2026 | 09:45 WIB
Ilustrasi duduk di depan laptop kerja WFH (freepik/rawpixel-com)
Baca 10 detik
  • Dosen FK-KKM UGM Zaenal Muttaqien menyatakan kebiasaan duduk terlalu lama menghambat aliran darah serta oksigen menuju otak manusia.
  • Masyarakat disarankan rutin bergerak setiap satu jam dan melakukan transisi posisi tubuh secara bertahap untuk menjaga sirkulasi darah.
  • Olahraga ritmis selama 30 hingga 40 menit bermanfaat meningkatkan fungsi otak namun tidak boleh dilakukan sesaat setelah makan.

SuaraJogja.id - Kebiasaan duduk berjam-jam saat bekerja maupun scrolling media sosial dinilai dapat mengganggu fungsi otak. Persoalan utamanya bukan aktivitas menggunakan gawai, melainkan minimnya gerak tubuh yang membuat aliran darah dan pasokan oksigen ke otak tidak optimal.

"Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen," kata Dosen Fisiologi FK-KKM UGM, Zaenal Muttaqien Sofro, Senin (20/7/2026).

Ia menjelaskan, posisi duduk terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat pengaruh gravitasi. Kondisi tersebut menyebabkan suplai darah ke otak berkurang sehingga berpotensi memengaruhi kinerja organ tersebut apabila terus berlangsung.

"Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi," ungkapnya.

Masyarakat diimbau agar tidak duduk terus-menerus lebih dari satu jam. Namun, tubuh perlu digerakkan dengan berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit agar sirkulasi darah kembali lancar.

Selain duduk terlalu lama, perubahan posisi tubuh secara mendadak dapat mengurangi aliran darah menuju otak. Saat seseorang langsung berdiri setelah berbaring, aliran darah ke otak bisa turun hingga sekitar 60 persen sehingga tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Oleh itu, Zaenal menyarankan agar seseorang tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Tubuh sebaiknya dimulai dengan berbaring miring sekitar 30 detik, kemudian duduk selama 30 detik sebelum berdiri perlahan dan melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali ke otak.

Dalam penelitiannya menggunakan orthostatic test, ia menjelaskan bahwa kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi organ-organ tubuh di bawahnya, terutama jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah

"Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan," ucapnya.

Baca Juga: Tiga Kampus Tersandung Kasus Pelecehan Seksual, Satgas Seharusnya Tak Sekadar Formalitas

Dipaparkan Zaenal, menjaga fungsi otak juga dapat dilakukan melalui olahraga yang tepat. Olahraga sebaiknya melibatkan kelompok otot besar, dilakukan secara ritmis, dan berlangsung terus-menerus selama sekitar 30-40 menit agar kebugaran tubuh sekaligus sirkulasi darah ke otak tetap terjaga.

"Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri," jelasnya.

Namun, ia mengingatkan olahraga berat tidak dilakukan sesaat setelah makan. Pasalnya hal itu dapat meningkatkan risiko gangguan jantung, terutama pada aktivitas dengan intensitas tinggi.

"Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan resiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak," tandasnya.

Load More