- Fenomena main hakim sendiri marak terjadi di berbagai daerah termasuk Yogyakarta karena hilangnya kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.
- Pakar hukum UMY Danang Wahyu Muhammad menyatakan pada 28 Juli 2026 bahwa kekerasan massa lahir akibat frustrasi masyarakat terhadap aparat.
- Tindakan menghakimi secara sepihak dikhawatirkan merusak fondasi negara hukum serta mengancam keselamatan orang yang belum tentu terbukti bersalah.
"Kalau sistemnya sudah ada, kemudian aparatnya bermain-main, ya bagaimana?" katanya.
Kondisi inilah yang dinilai Danang sangat mengkhawatirkan. Sebab ketika masyarakat tidak lagi percaya kepada hukum, mereka dapat mulai merasa menyelesaikan persoalan dengan cara sendiri merupakan tindakan yang sah.
Padahal persoalan itulah yang jadi bahaya terbesar. Seseorang yang dianggap sebagai pelaku kejahatan belum tentu benar-benar bersalah. Proses hukum mestinya diperlukan untuk memastikan fakta, memeriksa bukti, menghadirkan saksi serta memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk mendapatkan keadilan.
Namun ketika semua itu digantikan oleh keputusan massa, tidak ada lagi jaminan kebenaran akan menjadi dasar tindakan.
Yang tersisa hanyalah amarah.
"Main hakim sendiri sampai orang meninggal dibunuh menjadi kekhawatiran serius yang perlu diperhatikan ketika kepercayaan terhadap sistem hukum semakin melemah," tandasnya.
Danang menilai kemarahan masyarakat juga tidak bisa dilepaskan dari respons pemerintah dan perilaku elite politik. Ketika masyarakat menyampaikan keresahan tetapi mendapatkan jawaban yang dianggap tidak menyelesaikan persoalan, maka frustrasi publik justru dapat semakin membesar.
Padahal masyarakat, lanjutnya tidak hanya membutuhkan aturan. Mereka membutuhkan bukti bahwa aturan tersebut benar-benar berlaku secara adil.
Hukum yang hanya terlihat kuat di atas kertas tetapi lemah dalam pelaksanaan justru dapat melahirkan sinisme. Ketika masyarakat melihat adanya ketidakadilan, penanganan perkara yang dianggap tidak transparan, atau aparat yang dinilai tidak konsisten, kepercayaan akan terkikis sedikit demi sedikit.
"Jika hukum tidak mampu memberikan keadilan, akhirnya masyarakat menciptakan keadilan sendiri. Inilah yang harus dihentikan," tandasnya.
Baca Juga: Kantor Kemenkumham DIY Mau Dibangun di Mana? Paku Alam X Beri Bocoran Lokasinya
Karenanya Danang kembali mengingatkan fenomena main hakim sendiri, termasuk di DIY seharusnya menjadi alarm bagi aparat penegak hukum dan pemerintah. Penegakan hukum yang lamban, tidak transparanatau dianggap tebang pilih bukan hanya berisiko merusak citra institusi.
Kondisi itu dapat mendorong masyarakat mengambil alih peran negara dengan cara-cara yang justru melahirkan kekerasan baru. Sebabbatas antara kemarahan, pembelaan diri, pencegahan kejahatan dan main hakim sendiri bisa menjadi sangat tipis.
Karena itu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum bukan lagi sekadar agenda reformasi institusi. Ini adalah kebutuhan mendesak untuk mencegah masyarakat terjebak dalam lingkaran kekerasan karena negara hukum tidak boleh kalah oleh hukum rimba.
"Jika masyarakat mulai memilih jalanan sebagai tempat mencari keadilan, maka yang sesungguhnya sedang runtuh bukan hanya kepercayaan terhadap aparat, tetapi juga fondasi negara hukum itu sendiri," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi