- Kepala Taman Budaya Yogyakarta Purwiati menyatakan efisiensi anggaran pemerintah menyebabkan pengurangan volume kegiatan seni dan jumlah kurator pada Kamis, 13 Agustus 2026.
- Taman Budaya Yogyakarta juga menghadapi masalah keterbatasan sumber daya manusia akibat minimnya jumlah pegawai serta banyaknya pegawai yang memasuki masa pensiun.
- Taman Budaya Yogyakarta tetap menyelenggarakan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 bertajuk For Your People pada 14 hingga 23 Agustus 2026.
TBY juga masih berupaya menunjukkan kegiatan kebudayaan tidak boleh berhenti. Salah satunya melalui Lomba dan Pameran Fotografi Rana Budaya #4 pada 14–23 Agustus 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.
Kurator Rana Budaya #4, Rangga Purbaya, mengatakan tema FYP sengaja memainkan istilah populer For You Page yang lekat dengan algoritma media sosial. Namun, Rana Budaya menawarkan makna berbeda: For Your People.
Gagasan tersebut mengajak publik menggeser perhatian dari "saya" menuju "kita", dari layar digital menuju manusia dan ruang kehidupan yang ada di sekitar.
"Pameran ini adalah ajakan untuk melambat. Perhatian kita digeser dari saya ke kita, dari dunia maya ke ruang-ruang fisik tempat kebudayaan benar-benar terjadi," ungkapnya.
Menurut Rangga, fotografi dalam pameran ini tidak ditempatkan sekadar sebagai praktik menghasilkan gambar. Kamera justru diposisikan sebagai alat untuk mengamati, mendengarkan dan membangun empati.
Karya-karya yang dipamerkan merekam kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga, komunitas, pekerjaan, tradisi, ritual, gotong royong, lingkungan, pangan hingga berbagai peristiwa yang kerap luput dari perhatian.
"Kebudayaan tidak hanya hadir di panggung besar, museum atau peristiwa monumental. Kebudayaan juga tumbuh di warung kopi, pasar, rumah, jalan kampung, ruang kerja dan lingkungan tempat tinggal," demikian gagasan kuratorialnya.
Rangga mengatakan fotografi juga dapat menjadi cara untuk melawan lupa. Setiap fotografer, kata dia, membuat pilihan mengenai siapa yang dipotret, apa yang diperhatikan, kapan kamera diangkat dan momen apa yang dianggap layak disimpan.
Pilihan tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari arsip sosial mengenai suatu masa. Dalam Rana Budaya #4, karya fotografi juga tidak hanya disajikan dalam bentuk foto tunggal.
Baca Juga: Ulah Pemuda Perusak Bendera Merah Putih di Bantul Berbuntut Panjang, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan
"Fotografer diberi ruang untuk membangun cerita melalui tiga hingga lima foto dalam satu rangkaian," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Elektabilitas PPP Cuma 1,9 Persen, Mardiono Singgung 'Kecelakaan Politik' 2024
-
Wacana Capres Harus Didukung 2 Fraksi DPR, PPP Soroti Keterwakilan Suara Rakyat
-
YOGYAKOMTEK 2026 Resmi Dibuka, Pameran Komputer Terbesar di DIY
-
Honda DBL Jogja 2026 Dimulai: Sensasi Riding Test dan Peluang Bawa Pulang New Honda BeAT
-
Influenza A Terdeteksi di DIY, 24 Kasus Muncul, Sekolah Belum Diliburkan