- Ngatiyem dan Lastri memprotes pernyataan Presiden Prabowo mengenai upah buruh pengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogram.
- Kedua buruh tersebut hanya menerima upah sebesar Rp3.000 per kilogram dari hasil mengupas bawang di Pasar Beringharjo.
- Pernyataan presiden tersebut membuat pelanggan takut menggunakan jasa mereka sehingga menurunkan pendapatan harian para buruh.
SuaraJogja.id - Ngatiyem dan Lastri terlihat sibuk mengupas bawang merah pesanan salah satu pelanggan mereka di lantai 2 Pasar Beringharjo, Kamis (20/8/2026).
Tanpa berhenti meski mata pedih, dua buruh ini dengan lantang memprotes pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut buruh pengupas barang bisa dibayar Rp 700 ribu per kilogram (kg) dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR beberapa waktu lalu.
Bukan tanpa alasan, Ngatiyem dan Lastri yang sudah bekerja sebagai buruh pengupas bawang selama puluhan tahun tidak pernah sekalipun menerima bayaran sebegitu besarnya. Alih-alih ratusan ribu, tiap kali mengupas bawang merah atau putih, keduanya hanya mendapatkan upah sebesar Rp3.000 per kg.
"Salah ngomong itu [presiden], mosok kok bisa pak presiden bilang upah ngupas bawang Rp700 ribu per kilo. Ya nggak mungkin," papar Ngatiyem.
Menurutnya, harga bawang merah tidak pernah lebih dari Rp 60.000-70.000 per kg. Karenanya mustahil harga buruh mengupas bawang lebih tinggi dari harga harga jual komoditas tersebut.
"Ya masak harga mengupasnya lebih mahal dari bawangnya, ya jadi tidak laku," paparnya.
Ngatiyem menyebut, pernyataan Prabowo dirasakan dampaknya. Pelanggan jadi takut meminta mereka mengupas bawang.
Padahal pekerjaan itu sangat membantunya menambah penghasilan sebagai pedagang sayur. Apalagi saat ini penjualan sayuran sepi pembeli karena program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat harga jual sayuran naik signifikan.
"Ya gara-gara omongan presiden itu, [pelanggan] jadi takut ngoncek (mengupas-red) bawang ke kami," tandasnya.
Baca Juga: Swiss-Belhotel Airport Yogyakarta Gelar GSM Bertema "Noesantara 45" Sambut HUT ke-81 RI
Ketakutan pelanggan itu terasa berat bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan tersebut. Sebab mengupas bawang bukan pekerjaan dengan penghasilan tetap. Jumlah bawang yang dikupas bergantung pada ada tidaknya pesanan.
Dalam sehari, Lastri megaku tak lebih bisa mengupas bawang sekitar 10 kg. Itu pun harus dikerjakan lebih dari 2 atau 3 orang agar bisa selesai dalam satu hari.
Tetapi angka 10 kilogram itu tidak selalu selesai sekaligus. Bawang dikerjakan sedikit demi sedikit, bahkan bisa berlanjut hingga malam. Artinya, upah yang diterima harus dibagi di antara mereka.
Dengan kondisi tersebut, penghasilan yang didapat juga jauh dari bayangan angka ratusan ribu rupiah per kg. Biasanya pelanggan mereka merupakan warung makan, resto dan hotel.
"Paling banyak kerja dari pagi sampai sore dapat Rp 15 ribu kalau mengupas 10 kg bawang dua orang," ujarnya.
Kedua perempuan ini mengaku pekerjaannya mengupas bawang belakangan memang tidak selalu ramai. Ada hari ketika bawang yang harus dikupas cukup banyak, tetapi ada pula saat pekerjaan hanya sekitar 2 atau 3 kg.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dapat Warisan PR Karhutla, Menko Polkam Dudung Siap Terjun Langsung ke Lokasi
- 4 Rekomendasi Pelembap Viva untuk Kulit Kering, Bantu Perbaiki Skin Barrier
- Aliran Minyak di Selat Hormuz Sudah Normal, Mengapa Harga BBM Masih Mahal?
- Selamat Tinggal Kevin Diks, Cabut Lebih Cepat dari Skuad Timnas Indonesia Usai Juara
- 8 Sneakers Lokal Paling Nyaman dan Modis untuk Gaya Harian, Mulai Rp200 Ribuan
Pilihan
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
-
Satgas PKH Pamer Tumpukan Duit Rp13 Triliun Hasil Penyelamataan Keuangan Negara di Hadapan Prabowo
-
Nama Puan Disebut Jadi Pengganti Gibran, Begini Respons Ketua DPR
-
Disaksikan Andi Gani dan Perwakilan Buruh, DPR Resmi Sahkan RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Jadi UU
Terkini
-
Tren "Pernikahan Hemat" Meningkat, Merapi Merbabu Hadirkan Paket Wedding Mulai Rp45 Juta
-
MK Tolak Diskualifikasi, Gibran Harus Gentleman Buka Bukti Ijazah
-
Dari Merapi hingga Gajah Wong, Folklor Jogja Bicara Bencana tapi Tak Ceritakan Megathrust
-
BRI Junio Gandeng Mobile Legends: Bang Bang, Hadirkan Kartu Debit Edisi Khusus
-
Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Luar, Ini Alasannya