Budi Arista Romadhoni
Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:58 WIB
Penyaluran donasi Pemda DIY bagi korban gempa NTT di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 merusak permukiman warga dan memutus komunikasi mahasiswa asal NTT di Yogyakarta.
  • Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyalurkan bantuan dana senilai satu miliar rupiah kepada Pemerintah Provinsi NTT.
  • Pemda DIY meminta kampus mengidentifikasi mahasiswa asal NTT di Yogyakarta untuk diberikan keringanan biaya pendidikan serta bantuan pangan.

SuaraJogja.id - Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 tak hanya memporak-porandakan permukiman warga. Bencana itu juga membuat mahasiswa asal NTT yang berada jauh di Yogyakarta hidup dalam kecemasan.

Bilamana tidak, banyak diantara mereka yang terputus komunikasiby dengan keluarga di kampung halaman. Sebut saj Vansianus Masir atau Ancik, mahasiswa semester VIII Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD Yogyakarta asal Desa Wangkarweli, Kecamatan Lambaleda Timur, Kabupaten Manggarai Timur.

Sejak hari pertama gempa, komunikasi Ancik dengan orang tuanya terputus. Jaringan telepon dan internet di kampungnya hilang timbul, membuat informasi mengenai kondisi keluarga hanya bisa diperoleh melalui orang lain.

"Pas hari pertama, waktu bangun tidur lihat di WhatsApp banyak yang memuat story tentang gempa ini, terus saya langsung telepon. Kebetulan mama waktu itu aktif. Setelah itu tidak aktif," kata Ancik usai penyaluran donasi Pemda DIY pada korban gempa NTT di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026).

Kabar uibunya selamat baru ia dapatkan melalui seorang teman yang masih bisa mengakses Facebook atau Meta dari daerah tersebut. Listrik di kampungnya pun baru kembali menyala setelah beberapa hari.

Namun banyak rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa. Di Desa Wangkarweli, Ancik menerima informasi sedikitnya lima rumah mengalami kerusakan parah. Tiga rumah bahkan harus ditinggalkan penghuninya karena kondisi tanah di sekitar permukiman mengalami longsor dan retakan.

"Di bagian barat itu ada lereng. Akibat gempa kemarin tanahnya luruh sehingga rumah-rumah yang di sebelah baratnya ada retak dan terpaksa mengungsi. Ada tiga rumah yang mengungsi," jelasnya.

Satu rumah di dusunnya juga dilaporkan mengalami kerusakan parah hingga warga terdampak berada dalam kondisi terisolir.

Ancik mengaku belum mendapatkan informasi lengkap mengenai kondisi dusun-dusun lain karena komunikasi masih terkendala selama dua hari terakhir.

Baca Juga: Perempuan Ini Terjang Ombak 2 Meter Demi Kibarkan Bendera Merah Putih di Tengah Laut

Yang paling mengkhawatirkan, menurut Ancik, bantuan pemerintah belum sampai ke desanya. Akses menuju lokasi terdampak juga terganggu akibat longsor.

"Sampai sekarang belum ada bantuan sama sekali dari pemerintah sehingga kami yang diaspora sekarang lagi galang donasi untuk membantu keluarga yang terdampak di sana," jelasnya.

Pemerintah desa, lanjutnya masih melakukan pendataan warga terdampak. Sementara kebutuhan pangan tetap harus dipenuhi. Situasi tersebut membuat warga yang berada di luar daerah bergerak secara mandiri mengumpulkan donasi untuk membantu keluarga mereka.

"Kami baru berusaha menggalang donasi," paparnya.

Di Yogyakarta, Ancik juga menghadapi persoalan lain. Sebagai mahasiswa semester VIII yang sedang menyusun skripsi, ia harus tetap memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyelesaikan pendidikan. Ketika keluarganya di kampung halaman sedang menghadapi bencana, dia tidak bisa berharap banyak.

Padahal di STPMD APMD misalnya, ia menyebut terdapat sekitar 20 mahasiswa asal Manggarai yang tergabung dalam kelompok komunikasi.
Karenanya Ancik berharap bantuan dari banyak pihak, termasuk donasi yang disiapkan Pemda DIY.

Load More