- Jogja Police Watch mengecam penanganan demonstrasi ricuh di Yogyakarta oleh kepolisian pada Selasa, 1 September 2026.
- Baharuddin Kamba menilai kepolisian gagal menjalankan tugas pengayoman karena membiarkan kekerasan terhadap massa aksi sipil.
- JPW mendesak kepolisian menghentikan pendekatan militeristis serta praktik pelibatan organisasi masyarakat dalam mengamankan unjuk rasa.
SuaraJogja.id - Jogja Police Watch (JPW) mengecam keras kebobrokan penanganan pengamanan aksi demonstrasi yang berujung kericuhan di Simpang 4 Gramedia, Kota Yogyakarta,Selasa(1/9/2026).
Aparat dinilai selaku pemelihara keamanan gagal menjalankan fungsinya secara profesional meskipun telah menerjunkan ratusan personel ke lokasi kejadian.
Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch, Baharuddin Kamba, menegaskan bahwa bentrokan fisik yang menimpa massa aksi sipil di tengah kerumunan aparat merupakan bukti nyata pengabaian tugas utama institusi Bhayangkara.
Pelaksanaan fungsi pengayoman dan perlindungan warga di lapangan dinilai masih sangat jauh dari janji manis slogan resmi kepolisian. Institusi penegak hukum justru kerap kali terindikasi membiarkan tindakan intimidasi serta kekerasan fisik terhadap massa aktivis sipil yang berunjuk rasa secara terbuka.
"Sudah jelas bahwa kepolisian diberikan mandat oleh konstitusi sebagai alat negara bukan alat kekuasaan yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dengan slogan melindungi, mengayomi, melayani masyarakat serta menegakan hukum," kata Kamba dikonfirmasi, Rabu (2/9/2026).
JPW mencium adanya kecurigaan sistematis dan paranoia dari tubuh kepolisian dalam merespons suara kritis masyarakat sipil di ruang publik.
Cara-cara penanganan unjuk rasa bernuansa kekerasan ini menunjukkan bahwa watak militeristis warisan rezim masa lalu belum sepenuhnya habis dari budaya kerja korps Bhayangkara.
"Mencurigai kritik dari masyarakat sipil terhadap kebijakan pemerintah dan aksi demontrasi masih melekat di institusi Polri. Ada kesan budaya militerisme warisan orde baru belum sepenuhnya hilang dari lembaga tribrata tersebut," tegasnya.
Gaya pendekatan yang cenderung konfrontatif dan memelihara potensi bentrokan memperlihatkan belum adanya ikhtiar sungguh-sungguh dari Polri untuk bertransformasi menjadi lembaga pengamanan yang berkarakter humanis dan berperspektif sipil.
Baca Juga: Demo Berujung Bentrok di Simpang Gramedia Jogja, 6 Mahasiswa Dilarikan ke RS Panti Rapih
"Sampai sekarang belum ada upaya serius dari institusi Polri berkarakter sipil termasuk menangani aksi demontrasi," imbuhnya.
JPW turut mendesak agar praktik penggalangan atau pelibatan ormas dalam menghadapi aksi massa pengkritik pemerintah segera dihentikan total.
Penyerahan fungsi pengamanan kepada kelompok kemasyarakatan non-formal dianggap melanggar hukum serta membuka celah terjadinya premanisme yang mengancam keselamatan warga sipil.
"Pelibatan Ormas dalam menangani aksi demontrasi seperti yang terjadi di Jakarta perlu dievaluasi secara menyeluruh dan tuntas. Karena bukan merupakan tugas dan wewenang ormas untuk menangani aksi demontrasi apalagi jika terjadi tindak kekerasan," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Bedak Marcks Bisa Buat Apa Aja? Ini 3 Kegunaannya untuk Rawat Kulit Wajah
- 4 Body Lotion Malam untuk Mencerahkan dan Melembapkan, Bikin Kulit Lebih Glowing
Pilihan
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
Terkini
-
Dosen UNY Kembangkan Smart Box dan Monopoli JAPRODJA untuk Perkuat Pendidikan Khas Kejogjaan
-
Dari Pembiayaan hingga Pemberdayaan, BRI Perkuat Jutaan UMKM untuk Asta Cita
-
Untuk Kedua Kalinya, SMPN 3 Panggang Jadi Lokasi Program Beasiswa dan Bantuan Pendidikan
-
Rp1,17 Miliar untuk Poles Fasad Malioboro, Sejarah dan Ekonomi Warga Diklaim Tak Tersisih
-
Duit Sudah Disetor, Perekrut Menghilang, Calon Pekerja Migran di DIY Jadi Korban