Budi Arista Romadhoni
Selasa, 22 September 2026 | 16:36 WIB
Wiratni Budhijanto menyampaikan paparannya di GIK UGM, Selasa (22/9/2026).(Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Direktur Pengembangan Usaha UGM Wiratni menyatakan Yogyakarta menghadapi paradoks karena banyaknya kampus belum menghasilkan inovasi yang terhubung dengan masyarakat.
  • Wakil Ketua Umum Kadin DIY Aryo Wiryawan menjelaskan kekuatan ekonomi Yogyakarta bertumpu pada gagasan kreatif yang belum terhubung optimal dengan industri.
  • UGM menggelar acara Global Innovation and Future Technology Summit 2026 pada tanggal 21 hingga 22 Oktober 2026 di GIK UGM.

SuaraJogja.id - Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan. Ratusan perguruan tinggi tumbuh di wilayah ini dengan akademisi, peneliti, mahasiswa dan berbagai komunitas dengan kapasitas pengetahuan yang besar.

Namun ada paradoks yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar. Di tengah padatnya kampus dan banyaknya orang pintar, inovasi yang lahir dari Yogyakarta belum sepenuhnya mampu keluar dari lingkungan akademik dan menjawab kebutuhan masyarakat.

Direktur Direktorat Pengembangan Usaha UGM, Wiratni, menyebut persoalannya bukan karena Yogyakarta kekurangan orang pintar maupun sumber pengetahuan. Masalahnya justru karena berbagai potensi tersebut belum cukup banyak dipertemukan. 

"Jogja ini sebetulnya sudah sangat istimewa karena kita sudah lama dikenal sebagai kota pendidikan. Jadi ini pasti isinya orang pintar-pintar. Masalahnya itu hanya karena belum saling ketemu satu sama lain sehingga belum begitu banyak inovasi-inovasi yang lahir dari Jogja," papar Wiratni Budhijanto disela persiapan Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 di GIK UGM, Selasa (22/9/2026).

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik UGM ini, banyaknya kampus belum otomatis menghasilkan ekosistem inovasi yang kuat. Karenanya potensi kampus perlu dipertemukan dengan dunia usaha, investor, dan masyarakat. 

Namun hilirisasi inovasi juga tidak boleh selalu dimaknai sebagai upaya mengejar keuntungan komersial. Ada persoalan masyarakat yang membutuhkan solusi, tetapi belum tentu sejak awal memiliki nilai bisnis.

Ia mencontohkan persoalan sampah yang jadi masalah serius di DIY. Masyarakat membutuhkan solusi, sementara perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan teknologi yang mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikannya.

"Hilirisasi itu tidak selalu berarti komersialisasi, tidak selalu ujung-ujungnya duit," tandasnya.

Selain ekosistem, tantangan lain yang jadi PR  adalah pembiayaan. Karena itu, keterlibatan dunia usaha dibutuhkan untuk membantu mencarikan skema pembiayaan penyelesaian masalah tersebut.

Baca Juga: Sidak Dini Hari, Pemda DIY Temukan Pengelolaan MBG Tak Sesuai SOP, SPPG SMKN 2 Jogja Distop

"Syukur-syukur nanti ada sesuatu yang komersial juga dari situ, yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia industri, tidak hanya untuk universitas, tapi juga untuk masyarakat yang mungkin tidak secara langsung terlibat di bisnisnya," katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko yang menyatakan ekosistem inovasi harus dibangun komprehensif. Hal ini penting agar produk akademik terserap utuh.

"UGM mendayagunakan GIK, yang berdiri di atas lahan seluas 5 hektar dengan luas bangunan 9 hektar, sebagai ruang temu publik," ujarnya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Perikanan dan Kelautan Kadin DIY, Aryo Wiryawan, menyatakan  Yogyakarta memang tidak memiliki kekayaan sumber daya alam besar seperti daerah penghasil tambang.

Namun kondisi tersebut bukan berarti tidak memiliki modal ekonomi karena modal utama Yogyakarta justru berada pada gagasan dan pengetahuan.

"Yogyakarta ini kan tidak punya natural resources yang besar, kita nggak punya tambang. Jadi kekuatan ekonomi kita itu apa? Tambang ide, bukan tambang fisik," tandasnya.

Load More