Irwan Febri
Jum'at, 25 September 2026 | 15:05 WIB
Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan MUHI merangkum perjalanan panjang SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. (Dok. IKAMUHI)
Baca 10 detik
  • IKAMUHI bersama SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menerbitkan buku berjudul MUHI untuk Negeri pada September 2026 di Bantul.
  • Buku setebal 418 halaman tersebut mendokumentasikan sejarah 77 tahun sekolah serta kiprah para alumninya di berbagai bidang kehidupan.
  • Penyusunan buku melibatkan empat jurnalis dan lebih dari 120 narasumber dari berbagai latar belakang angkatan lulusan.

SuaraJogja.id - MUHI untuk Negeri, Jejak 77 Tahun SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan Kiprah Para Alumninya
YOGYAKARTA – Jejak perjalanan SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) selama 77 tahun kini dirangkum dalam sebuah buku. Berjudul MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih, buku tersebut merekam perjalanan sekolah sekaligus kiprah para alumninya di berbagai bidang.

Buku yang diterbitkan LaksBang Akademika itu merupakan kolaborasi Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) bersama MUHI. Buku tersebut dijadwalkan terbit pada September 2026 sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan panjang salah satu institusi pendidikan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Dengan ketebalan xxviii, 418 halaman dan berukuran 21 x 29 sentimeter, buku ini mengulas sejarah MUHI, cerita para alumni, serta kontribusi mereka bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, alumni MUHI 1984, mengatakan buku tersebut disusun bukan hanya untuk mendokumentasikan masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali memori mengenai perjalanan sekolah, guru, dan alumni.

“Melalui lembaran buku ini, kita diajak untuk tidak melupakan akar sejarah dan perjuangan para pendiri serta guru-guru kita terdahulu. Buku ini juga merangkum kisah inspiratif dari beberapa alumni yang telah menorehkan prestasi di berbagai bidang. Ini menjadi bukti nyata bahwa bangku-bangku kelas MUHI berhasil menempa generasi yang unggul dan berdampak bagi masyarakat bangsa dan negara,” tutur Ida dalam soft launcing buku tersebut di peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium UMY, Bantul, Yogyakarta, Rabu (23/9/2026).

Penyusunan buku melibatkan empat jurnalis, yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; dan Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.

Ketua Tim Penulis Fernan Rahadi mengatakan proses penulisan dilakukan dengan menggali cerita langsung dari para alumni dan pihak-pihak yang memiliki kaitan dengan perjalanan MUHI.

"Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak," jelas dia.

Sebanyak lebih dari 120 narasumber dilibatkan dalam proses penyusunan buku. Mereka berasal dari beragam latar belakang, mulai dari alumni, kepala sekolah, guru, mantan kepala sekolah, mantan guru, pembina ekstrakurikuler, pegiat sekolah, hingga keluarga sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari sejarah MUHI.

Baca Juga: Influenza A Terdeteksi di DIY, 24 Kasus Muncul, Sekolah Belum Diliburkan

Cakupan cerita alumni juga membentang lebih dari enam dekade. Lulusan dari berbagai angkatan, mulai 1963 hingga 2025, mendapat ruang dalam proses pengumpulan kisah. Alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963, yang meninggal dunia ketika proses penyusunan buku berlangsung.

Pemilihan alumni dilakukan dengan melihat rekam kontribusi mereka di berbagai bidang, baik di tingkat lokal maupun nasional. Keterwakilan bidang, pencapaian, serta rekomendasi dan data dari pihak MUHI, terutama untuk alumni generasi muda, turut menjadi pertimbangan.

Sejumlah nama yang dikenal luas turut tercatat dalam buku tersebut. Di antaranya budayawan Emha Ainun Nadjib, musisi Ebiet G Ade dan Eross Sheila on 7, Bupati Ngawi Ony Harsono, akademisi Fathul Wahid, serta sutradara Fajar Nugros.

Proses pengerjaan buku berlangsung lebih dari tiga bulan. Selain melakukan wawancara, tim penulis juga melakukan penelusuran dokumentasi dan foto untuk melengkapi cerita yang disajikan.

Kehadiran MUHI untuk Negeri tidak berhenti pada pencatatan sejarah sekolah. Buku ini juga menggambarkan perjalanan para lulusan setelah meninggalkan bangku sekolah dan bagaimana pendidikan di MUHI turut menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai pendokumentasian sejarah lembaga pendidikan merupakan langkah penting agar perjalanan sebuah institusi tidak terputus dari generasi ke generasi.

Load More