- Sekda Kota Yogyakarta Budi Santosa Asrori menyatakan terdapat 11 kasus perundungan pada semester pertama 2026 di Yogyakarta.
- UNY menilai perundungan pelajar merupakan reproduksi kekerasan lintas generasi yang diwariskan melalui kebiasaan sosial sejak lama.
- Pemerintah Kota Yogyakarta menerapkan Pendidikan Khas Kejogjaan untuk memutus siklus kekerasan berbasis kearifan lokal.
SuaraJogja.id - Kasus bullying atau perundungan di lembaga pendidikan terus saja berulang meski upaya penanganan maupun antisipsi terus dilakukan. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (disdikpora) Kota Yogyakarta mencatat, sebanyak 196 kasus bullying terjadi di kota ini pada 2025 lalu.
"Kalau tahun ini untuk semester pertama ada 11 kasus bullying yang dilaporkan di kota jogja," ujar Sekda Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori disela Deklarasi Antibullying di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Selasa (29/9/2026) sore.
Menurutnya, kondisi tersebut sebenarnya menunjukkan meningkatnya kepedulian berbagai pihak terhadap persoalan bullying. Kasus yang sebelumnya mungkin dianggap sebagai persoalan biasa kini lebih cepat dikenali dan dilaporkan.
Namun persoalannya bukan hanya bagaimana menangani korban dan pelaku ketika bullying terjadi. Tantangan yang lebih besar adalah menghentikan reproduksi perilaku kekerasan agar tidak diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
Karena itu, kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman.
Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot dengan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Nilai-nilai budaya seperti menghormati yang lebih tua sekaligus menghargai yang lebih muda diharapkan dapat diterapkan melalui pembiasaan di lingkungan sekolah.
Pendekatan budaya Yogyakarta itu tidak sekedar menjadi slogan, melainkan diterjemahkan dalam kebiasaan sehari-hari di sekolah dan lingkungan sosial anak.
"Intinya bagaimana kita menghormati yang lebih tua, tapi juga harus menghargai yang lebih muda," ujarnya.
Sementara itu Ketua Pusat Unggulan IPTEKS Kajian Ilmu Pendidikan (PUI KIP) UNY, Ariefa Efianingrum menyatakan fenomena bullying bukan sekadar kasus yang berulang. Lebih dari itu telah menjadi perilaku yang direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca Juga: Toko Hamzah Batik Malioboro Terbakar Dini Hari, Saksi Sempat Dengar Suara Ledakan
"Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Yogyakarta dikenal memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai lokal yang menjunjung penghormatan, tata krama, serta kehidupan sosial yang harmonis," paparnya.
Ariefa mengatakan persoalan bullying perlu dilihat lebih jauh. Menurutnya, kekerasan yang terjadi di kalangan pelajar tidak selalu muncul sebagai perilaku baru.
Ia mencontohkan perilaku mengejek atau memanggil seseorang dengan nama orang tua. Kebiasaan yang pernah terjadi pada generasi sebelumnya, menurut dia, masih ditemukan pada generasi sekarang, termasuk Generasi Z hingga Generasi Alpha.
Fenomena tersebut disebut sebagai reproduksi bullying. Perilaku kekerasan diwariskan melalui kebiasaan sosial dan kemudian muncul kembali dalam bentuk yang mungkin berbeda.
Karena itu, menurut Arifah, upaya penanganan bullying tidak cukup hanya mengandalkan hukuman setelah kasus terjadi. Siklus kekerasan harus diputus melalui pembiasaan perilaku yang mengedepankan penghormatan, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
"Yang perlu kita putus bersama adalah siklus kekerasan itu dengan mengkampanyekan nilai-nilai lokal, kearifan lokal adiluhung atau lokal wisdom yang menguatkan respect atau menghargai, cinta kasih, hormat dan saling mengasihi," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Urutan Pemakaian Air Mawar, Moisturizer, dan Sunscreen di Pagi Hari yang Tepat
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 15 Kode Redeem FF Terbaru 27 September 2026, Lengkap Trik Jitu Dapatkan Bundle Sasuke
- 9 Bedak Padat dan Tabur Terbaik di Indomaret di Bawah 50 Ribu
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
Terkini
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang
-
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
-
Warganet Khawatir Girder Tol Jogja-Solo Rawan Roboh, Kontraktor Beri Penjelasan
-
Kasus Keracunan MBG Berulang di Jogja, Orang Tua Unjukrasa Desak Proses Hukum SPPG
-
Gandeng Ndarboy dan Happy Asmara, Film Musikal 'Cidro Asmoro' Siap Gebrak Bioskop 2026!