- Seorang dosen UST Yogyakarta diduga melakukan kekerasan seksual terhadap empat mahasiswanya, menyusul kasus serupa di ISI Yogyakarta.
- Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengritik keras maraknya kekerasan seksual yang mencerminkan rendahnya keadaban publik di dunia pendidikan.
- Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti menegaskan komitmen memperkuat kontribusi kemanusiaan melalui pembaruan visi dan misi periode 2026.
SuaraJogja.id - Kekerasan seksual masih saja marak terjadi di lembaga pendidikan, termasuk di Yogyakarta. Kasus terbaru salah seorang dosen di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) diduga melakukan kekerasan seksual pada empat mahasiswanya.
Sebelumnya ISI Yogyakarta menonaktifkan dosen setelah Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) menyelesaikan pemeriksaan atas laporan kekerasan seksual yang melibatkan dosen dan mahasiswa.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir melontarkan kritik keras terhadap masih terjadinya kekerasan seksual di berbagai lembaga pendidikan. Menurutnya, kasus-kasus tersebut menunjukkan rendahnya keadaban publik dalam memuliakan manusia.
"Kita prihatin dengan problem-problem kekerasan di lembaga apa pun. Karena ini menunjukkan kita ini belum akil balig peradaban,” ujar Haedar usai memberikan pesan dalam milad ke-35 Unisa di Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).
Haedar menilai, persoalan kekerasan seksual tidak bisa dipandang semata-mata sebagai pelanggaran hukum. Lebih dari itu, kekerasan terhadap perempuan, laki-laki, maupun anak-anak menunjukkan masih lemahnya implementasi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mempertanyakan bagaimana kekerasan seksual masih bisa terjadi di lembaga pendidikan yang semestinya menjadi tempat menanamkan nilai moral dan agama.
Menurut Haedar, kondisi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara nilai-nilai agama yang diajarkan dan praktik kehidupan yang dijalankan. Pendidikan agama seharusnya tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga tercermin dalam perilaku yang menghormati martabat manusia.
Selain menjadi persoalan moral, kekerasan seksual juga berkaitan dengan rendahnya keadaban publik. Karena itu, lembaga pendidikan harus memiliki kepekaan terhadap berbagai bentuk kekerasan dan menjadikan perlindungan terhadap manusia sebagai bagian penting dari tanggung jawab institusional.
“Ini kan masalah pemuliaan manusia, baik perempuan maupun laki-laki, maupun anak-anak,” tegasnya.
Baca Juga: 161 Bank di Indonesia Bertumbangan, 3 di Antaranya dari Jogja! Cek Masalahnya
Karenanya Haedar meminta kampus-kampus Aisyiyah dibawah Muhammadiyah, termasuk Unisa Yogyakarta agar tidak hanya berfokus pada isu-isu perempuan, hak, dan kesetaraan. Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari gerakan perempuan Aisyiyah, kampus itu harus mampu membuktikan diri melalui kualitas akademik, keunggulan institusi, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.
Apalagi kampus tersebut menjadi model universitas yang dikelola organisasi perempuan berkemajuan. Keunggulan perguruan tinggi tersebut diharapkan menjadi representasi keberhasilan gerakan Aisyiyah dalam membangun sumber daya manusia.
Kampus-kampus Aisyiyah harus melakukan gerakan advokasi bila terjadi kasus kekerasan seksual. Upaya tersebut, menurutnya, perlu menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk merespons persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
"Unisa juga harus menjadi pengayom bagi perguruan tinggi 'Aisyiyah lainnya. Hubungan antara institusi yang telah berkembang dan yang masih bertumbuh harus dibangun melalui kolaborasi agar kemajuan dapat dirasakan bersama," paparnya.
Sementara itu, Rektor Unisa Yogyakarta Warsiti menegaskan komitmen kampusnya untuk memperkuat kontribusi bagi kemanusiaan dan kebangsaan melalui pembaruan visi dan misi mulai 2026.
Kampus itu saat ini memasuki fase kedua pengembangan dengan visi menjadi universitas unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan karakter utama berkhidmat pada kemanusiaan dan kebangsaan berdasarkan Islam Berkemajuan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rudy Masud Senyum Semringah Bersama Istri di Singapura, Media Asing: Rakyatnya Sesak Nafas
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
Pilihan
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Krisis! Kelangkaan BBM Meluas Tak Hanya Bali, Antrean Berjam-jam
-
Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud Bungkam usai Viral Sarapan di Singapura
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
Terkini
-
Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
-
Muhammadiyah Tegas Minta KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi BNPB
-
Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan jadi Tanda Peradaban Kita Belum Akil Balig
-
75 Persen Responden Stres Hadapi Kebijakan Prabowo, Haedar Nashir Desak Pemerintah Berbenah
-
Film Empat Musim Pertiwi: Saat Realitas Penyintas Kekerasan Seksual Bertemu Fiksi Sinematik