- UNY mengembangkan Smart Box dan Monopoli JAPRODJA untuk mendukung Pendidikan Khas Kejogjaan.
- Media tersebut membantu siswa mengenal budaya dan potensi DIY secara interaktif.
- Pembelajaran dirancang untuk memperkuat karakter sekaligus kecintaan siswa terhadap budaya lokal.
SuaraJogja.id - Inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal terus dikembangkan untuk memperkuat Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui pengembangan media pembelajaran Smart Box dan Monopoli JAPRODJA (Jelajah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) yang dirancang untuk mendukung pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan.
Media ini dikembangkan dalam Proyek Kepemimpinan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital.
Dosen FISIP Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Yumi Hartati, M.Pd., mengatakan bahwa pendidikan saat ini tidak cukup hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga perlu menumbuhkan identitas, karakter, dan kecintaan peserta didik terhadap budaya lokal.
Menurutnya, Pendidikan Khas Kejogjaan memiliki peran strategis untuk menjaga keberlangsungan nilai, sejarah, tradisi, serta kearifan lokal Yogyakarta agar tetap hidup di kalangan generasi muda.
"Pendidikan Khas Kejogjaan perlu dikembangkan melalui pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan media pembelajaran kreatif seperti Smart Box dan Monopoli JAPRODJA," ujar Yumi, Selasa (20/10).
Smart Box dikembangkan sebagai media pembelajaran interaktif yang berisi kartu informasi, pertanyaan, teka-teki, gambar, hingga tantangan edukatif terkait materi budaya dan IPS. Sementara Monopoli JAPRODJA mengajak siswa mengenal sejarah, budaya, kondisi wilayah, serta potensi daerah di DIY melalui konsep permainan edukatif.
Melalui kedua media tersebut, siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi juga didorong untuk berdiskusi, bekerja sama, mengambil keputusan, serta menyampaikan pendapat selama proses belajar berlangsung.
Yumi menjelaskan bahwa pembelajaran budaya lokal perlu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, bukan sekadar menghafal nama tokoh, tradisi, atau tempat bersejarah.
Baca Juga: Dorong Inovasi PAI dan Kualitas Pendidikan, UNY Bekali Guru dengan Project Based Learning
"Budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu yang harus dihafalkan, melainkan sumber nilai yang dapat digunakan untuk memahami persoalan masa kini dan membangun tanggung jawab bagi masa depan," katanya.
Selain memperkenalkan budaya lokal, Smart Box dan Monopoli JAPRODJA juga dinilai mampu mendukung pembentukan karakter siswa. Melalui aktivitas permainan dan diskusi, peserta didik dapat belajar mengenai tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, kepedulian sosial, hingga sikap menghargai orang lain.
Pengembangan kedua media tersebut juga menjadi sarana bagi mahasiswa PPG untuk melatih kemampuan merancang solusi pembelajaran berdasarkan kebutuhan sekolah. Menurut Yumi, inovasi pendidikan harus lahir dari kebutuhan nyata peserta didik dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh sekolah.
"Calon guru tidak cukup hanya memahami teori pendidikan, tetapi juga perlu mampu mengidentifikasi kebutuhan di sekolah, merancang solusi, mengembangkan produk pembelajaran, serta melakukan evaluasi dan perbaikan berdasarkan pengalaman implementasi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penggunaan media pembelajaran baru tetap perlu disertai evaluasi yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat diukur secara objektif, baik dari aspek keterlibatan siswa, pemahaman materi, maupun umpan balik dari guru dan peserta didik.
Yumi berharap penguatan Pendidikan Khas Kejogjaan melalui media pembelajaran kreatif dapat membantu generasi muda mengenali identitas budayanya di tengah derasnya pengaruh globalisasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hasil Survei Terbaru SMRC Soal Capres: Prabowo Hanya Raih 9,8 Persen, Kalah Telak Dari Dedi Mulyadi
- Pilih Kursi Komisaris Ketimbang Partai, Musyafirin Resmi Diusulkan Dipecat PDIP
- Survei Capres PPI: Prabowo Masih Perkasa, Anies Tempel Ketat, Gibran di Bawah AHY
- Bedak Marcks Bisa Buat Apa Aja? Ini 3 Kegunaannya untuk Rawat Kulit Wajah
- 4 Body Lotion Malam untuk Mencerahkan dan Melembapkan, Bikin Kulit Lebih Glowing
Pilihan
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
-
Mantan Kadiv Hubinter Napoleon Bonaparte Meninggal, Pengacara: Doakan Bapak Diampuni Dosa-dosanya
-
Pekan Kelam IHSG: Drama BYAN Haji Isam, Turun Kelas MSCI Hingga Rekor Terburuk Bursa
-
Rakyat Kecil Jadi Korban Antrean BBM, dari Ojol Kehilangan Pendapatan hingga Kampus Terpaksa WFH
Terkini
-
Dosen UNY Kembangkan Smart Box dan Monopoli JAPRODJA untuk Perkuat Pendidikan Khas Kejogjaan
-
Dari Pembiayaan hingga Pemberdayaan, BRI Perkuat Jutaan UMKM untuk Asta Cita
-
Untuk Kedua Kalinya, SMPN 3 Panggang Jadi Lokasi Program Beasiswa dan Bantuan Pendidikan
-
Rp1,17 Miliar untuk Poles Fasad Malioboro, Sejarah dan Ekonomi Warga Diklaim Tak Tersisih
-
Duit Sudah Disetor, Perekrut Menghilang, Calon Pekerja Migran di DIY Jadi Korban