Budi Arista Romadhoni
Rabu, 21 Oktober 2026 | 19:53 WIB
Ketua BPPD DIY, GKR Bendara menyampaikan tentang persiapan JCWF 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • BPPD DIY membidik *wellness tourism* untuk mengatasi sepi kunjungan dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
  • GKR Bendara menyatakan pengembangan tersebut memerlukan standar baku *Javanese Wellness* serta integrasi komunitas dengan industri pariwisata.
  • Jogja Cultural Wellness Festival 2026 akan diselenggarakan pada November mendatang guna mengintegrasikan budaya dan kebugaran.

SuaraJogja.id - Pariwisata Yogyakarta membutuhkan pasar baru agar tak terus bergantung pada destinasi konvensional. Di tengah tantangan low season atau musim libur sepi, pembatasan perjalanan dinas, hingga studi tur, wisata berbasis kebugaran dan kesejahteraan atau wellness tourism mulai dibidik sebagai alternatif untuk mendatangkan wisatawan sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) DIY.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap. Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, GKR Bendara, mengungkapkan masih ada sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari penyusunan standar wisata wellness khas Jawa atau Javanese Wellness hingga menghubungkan komunitas dengan industri perjalanan wisata.

Bendara mengatakan, pengembangan Javanese Wellness membutuhkan SOP atau panduan baku yang dapat menjadi acuan bersama. Panduan tersebut penting untuk memperjelas karakteristik wellness khas Jawa sekaligus membedakannya dari konsep wellness yang berkembang di berbagai belahan dunia.

"Pertama, bagaimana kita bisa punya sebuah SOP atau panduan baku yang disebut Javanese Wellness, karena itu belum ada. Kita harus tahu dulu apa yang membedakan Javanese Wellness dengan wellness di seluruh dunia. Apa akarnya, dari mana asalnya? Ini yang sedang kita coba gali lebih dalam," tandasnya dalam persiapan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026).

Chairman JCWF itu menyebut, panduan tersebut penting untuk memperjelas karakteristik wellness khas Jawa sekaligus membedakannya dari konsep wellness yang berkembang di berbagai belahan dunia.

Puteri bungsu Gubernur DIY itu berharap panduan tersebut dapat diperkenalkan dalam penyelenggaraan Festival Wellness tahun depan. Dengan demikian, pelaku industri pariwisata memiliki acuan untuk mengembangkan produk wisata yang lebih terarah dan memiliki karakter khas Yogyakarta.

Sebab selain persoalan standar, pengembangan konsep wisata itu juga memiliki tantangan lain. Yakni menghubungkan konsep wellness dengan industri pariwisata. Produk tersebut perlu dikemas agar benar-benar bisa dijual dan menjadi pilihan wisatawan.

Menurut Bendara, paket wisata yang populer di Yogyakarta hingga kini masih didominasi kunjungan ke destinasi ikonik. Sebut saja Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Keraton.

Meski demikian permintaan terhadap kegiatan wellness mulai muncul, terutama dari wisatawan domestik dan kalangan perusahaan yang menginginkan aktivitas tambahan di luar agenda wisata konvensional.

Baca Juga: Aksi Mahasiswa di DPRD DIY Memanas, Kaca Pintu Pecah dan Tembok Dicoret

Menurutnya, kebutuhan wisatawan perlu dipetakan agar kegiatan yang ditawarkan sesuai dengan minat, waktu, dan kedalaman pengalaman yang diinginkan. Wisatawan yang menginginkan aktivitas ringan, misalnya, dapat mengikuti meditasi melalui gamelan atau seni. 

Sementara itu, wisatawan yang menginginkan pengalaman lebih mendalam bisa diarahkan pada kegiatan seperti breathwork atau sound healing.

Karena itu, kolaborasi antara biro perjalanan dan komunitas wellness menjadi penting. 

"Komunitas perlu diperkenalkan kepada pelaku industri agar aktivitas yang mereka miliki bisa masuk ke dalam paket wisata dan menjangkau pasar yang lebih luas," jelasnya.

Salah satu upaya memperkenalkan potensi tersebut, lanjutnya melalui JCWF 2026 yang akan berlangsung pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, JCWF mengusung tema RECONNECT: Reconnecting People, Culture & Wellbeing. 

"Festival ini dirancang untuk mengintegrasikan kekayaan budaya Jawa, pengalaman wellness, dan pariwisata berkelanjutan," jelasnya.

Load More