- Kurator seni Febrian Adinata Hasibuan mengecam praktik sensor karya seni dalam Pameran Nandur Srawung di Yogyakarta, Kamis (22/10/2026).
- Febrian menyatakan pemerintah seharusnya mendengarkan kritik seniman dan memberikan dukungan anggaran negara, bukan melakukan pembatasan atau represi.
- Sebanyak 100 seniman memamerkan karya untuk menampilkan kritik sosial di tengah penyelenggaraan pameran tanggal 21–28 Oktober 2026.
Dia berharap pemerintah tetap perlu hadir dalam perkembangan kesenian nasional. Namun, kehadiran itu harus diwujudkan melalui dukungan, bukan tindakan represif.
"Saya kira kesenian di Indonesia mulai tumbuh. Pemerintah mesti hadir dalam bentuk apa pun, dalam upaya apa pun, tapi selain melakukan represi," ungkapnya.
Febrian menambahkan, meski represk terjadi, kritik mengenai kebebasan berekspresi tetap mengemuka. Sebut saja di tengah penyelenggaraan Nandur Srawung yang berlangsung pada 21–28 Oktober 2026, sejumlah karya seniman ditampilkan sebagai kritik.
Di antaranya lukisan dari kayu karya Dedy Shofianto. Melalui karya berjudul "Bentang Alam Sumatra Kini" yang menampilkan perbedaan hutan sebelum dan sesudah kebakaran.
"Dari sisi atas, seniman mencoba memetakan kondisi Sumatra akibat karhutla," ungkapnya.
Melalui tema utama Akademi, pameran kali ini dirancang sebagai platform kuratorial yang berfokus pada pengembangan praktik, pengetahuan, dan jejaring bagi seniman muda Indonesia. Gagasan itu dibagi menjadi tiga subtema, yakni Lanskap pada 2026, Lab pada 2027, dan Lintasan pada 2028.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Akademi: Lanskap berupaya membaca sekaligus memetakan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia melalui beragam perspektif. Pameran dan program publik menjadi ruang untuk menelusuri gagasan artistik, metode kerja, praktik berkesenian, hingga keterlibatan publik dalam ekosistem seni.
"Sebanyak 100 seniman terpilih dari 264 pendaftar terlibat dalam pameran tersebut. Mereka berasal dari berbagai wilayah, di antaranya Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau, dengan latar belakang serta medium karya yang beragam," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga: Den Baguse Ngarso Punya Kebiasaan Kaul Prihatin Tidur di Teras, Sempat Dipijat Sebelum Meninggal
Berita Terkait
Terpopuler
- Mudah, Ini Cara Menghentikan Spam Call di HP Android dan iPhone
- Pengamat Nilai Manuver KSP Listyo Bongkar Hambatan Birokrasi Jadi Investasi Jangka Panjang
- Pengacara Kamaruddin Simanjuntak Sakit Apa? Meninggal Dunia di Usia 52 Tahun
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Seniman Sindir Represi dan Anggaran Seni yang Tergeser Program Prioritas
-
YAYAYA FEST 2026 Hadir di Jogja: Konser Inklusif, Ramah Difabel dan Lingkungan
-
Pakar UGM Sentil Dua Tahun Prabowo-Gibran, Jangan Cuma Retorika, Rakyat Butuh Aksi Nyata
-
Tak Hanya Jualan Candi dan Keraton untuk Dongkrak Pariwisata, Jogja Bidik Javanese Wellness Tourism
-
Perkuat Kemitraan Global, BRI Hubungkan Investor dengan Potensi Indonesia