Budi Arista Romadhoni
Senin, 26 Oktober 2026 | 16:34 WIB
Sejumlah pasien BPJS di RS Bethesda Yogyakarta, Senin (26/10/2026). [Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi]
Baca 10 detik
  • RS Bethesda Yogyakarta menerapkan strategi subsidi silang dan pengembangan wisata medis untuk mengatasi kenaikan biaya operasional BPJS.
  • Direktur Utama Edy Wibowo menyatakan bahwa rumah sakit di Yogyakarta ini tetap memprioritaskan pertolongan medis darurat bagi pasien kurang mampu.
  • Pada Oktober 2026, RS Bethesda mencatat sepuluh ribu ulasan Google dengan rating 4,8 berkat peningkatan komunikasi dan pelayanan.

Di tengah tantangan pembiayaan, pengalaman pasien menjadi salah satu tolok ukur untuk mengevaluasi kualitas pelayanan. Menariknya, pasien kelas III dan BPJS dan pasien onkologi justru menjadi kelompok yang memberikan kontribusi besar terhadap ulasan masyarakat mengenai pelayanan rumah sakit tersebut.

RS Bethesda Yogyakarta mencapai 10.000 ulasan Google dengan rating 4,8 pada Oktober 2026. Berdasarkan data rumah sakit pada 24 Oktober 2026, jumlah tersebut meningkat dari sekitar 1.600 ulasan pada 1 Januari 2025.

Edy mengungkapkan, kelompok pasien yang banyak memberikan ulasan berasal dari pasien kelas III, yang sebagian merupakan masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Selain itu pasien onkologi, termasuk mereka yang menjalani perawatan paliatif.

Di sisi lain, RS juga berupaya meningkatkan pengalaman pasien melalui perbaikan komunikasi dan budaya pelayanan. Salah satunya melalui program Salsa Kejo yang diluncurkan pada 2025 untuk membangun kebiasaan menyapa pasien secara lebih ramah dan terstandar

"Pencapaian itu bukan sekadar angka reputasi digital. Ulasan pasien menjadi salah satu cara untuk mendengarkan pengalaman masyarakat, mengidentifikasi kekurangan, sekaligus menentukan perbaikan pelayanan," paparnya.

Menurut Edy, kondisi tersebut menjadi pengingat pelayanan kesehatan tidak semata-mata berkaitan dengan fasilitas mewah atau kenyamanan kamar rawat inap. Kepedulian, respons petugas, serta kesediaan mendampingi pasien yang menghadapi kondisi berat juga menjadi bagian penting dari pengalaman pelayanan.

Peningkatan jumlah ulasan juga membawa konsekuensi bagi manajemen. Semakin banyak masyarakat menyampaikan pengalaman, semakin besar pula kebutuhan untuk membaca, mengevaluasi, dan menindaklanjuti setiap masukan.

"Kesembuhan bukan satu-satunya ukuran kepuasan. Cara petugas memperlakukan pasien juga menentukan apakah masyarakat merasa diperhatikan dan memperoleh pelayanan yang layak," jelasnya.

Edy menambahkan, selain subsidi silang, wisata medis juga akan dikembangkan pada 2027 nanti sebagai peluang untuk mengembangkan pelayanan kesehatan sekaligus menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Menurut Edy, pasien yang datang dari luar daerah untuk mendapatkan pelayanan kesehatan biasanya tidak datang sendirian. 

Baca Juga: Dari Boven Digoel ke Bangku Kuliah, 25 Pemuda Papua Selatan Mengejar Mimpi Tenaga Ahli Perkebunan

Mereka dapat didampingi keluarga yang membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya selama berada di Yogyakarta. Dengan demikian, manfaat wisata medis tidak hanya dirasakan oleh rumah sakit namun juga hotel, warung makan, pedagang, transportasi, dan pelaku usaha lainnya.

"Konsep medical tourism sebenarnya satu orang berobat ke Jogja, kemudian mereka membutuhkan jajan, tempat menginap, dan kebutuhan lainnya. Jadi, kontribusi kita juga bisa dirasakan hotel dan usaha masyarakat sekitar," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More