Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 31 Oktober 2026 | 09:10 WIB
Aksi Suara Ibu Indonesia di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).
Baca 10 detik
  • Kelompok Suara Ibu Indonesia bersama mahasiswa menggelar aksi protes kebakaran hutan di Yogyakarta pada 30 Oktober 2026.
  • Siti Fauziah Saekhoni menyatakan pengelolaan negara merugikan rakyat kecil akibat dampak krisis ekonomi yang dirasakan langsung.
  • Massa menuntut penanganan bencana profesional, prioritas anggaran hak dasar, serta jaminan kebebasan berpendapat dari pemerintah.

SuaraJogja.id - Kelompok masyarakat yang mengatasnamakan Suara Ibu Indonesia menggelar aksi respons atas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bertajuk 'ASAP BUKAN TAKDIR' di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).

Aksi terbuka ini menggandeng elemen mahasiswa UGM, Sasenitala, serta ISI Bergerak untuk memantik protes publik melalui pertunjukan seni visual dan dialog warga.

Juru Bicara Aksi, Siti Fauziah Saekhoni atau yang dikenal luas sebagai pemeran Bu Tejo dalam film Tilik menilai kondisi pengelolaan negara saat ini sudah sangat memprihatinkan dan merugikan rakyat kecil.

"Remuk! (Kondisi negara saat ini), kita yang setiap hari belanja, ngecakke duit (mengatur keuangan), beli untuk kebutuhan rumah, yang paling terasa dampaknya itu pasti kami," kata Ozie sapaan akrabnya. 

Ozie merinci empat tuntutan utama aksi kali ini. Pertama, menuntut pemerintah bekerja secara andal dan profesional dalam menangani bencana tanpa bersikap serampangan.

"Tangani bencana dengan profesional, serius, dan cepat dan tepat! Ojo mung ngawang-ngawang (jangan cuma membayangkan) sak karepmu dewe," tegasnya.

Kedua, aksi tersebut mendesak pemerintah agar memprioritaskan anggaran belanja negara untuk menstabilkan perekonomian serta memenuhi hak-hak dasar warga, mulai dari udara bersih, kesehatan, pendidikan, hingga harga bahan pokok.

"Prioritaskan belanja negara untuk menstabilkan ekonomi dan pemenuhan hak dasar warga. Udara bersih, kesehatan, pendidikan, dan harga pokok, bukan memperkaya elit," ujarnya.

Tuntutan ketiga menyoroti praktik adu domba antarwarga serta mobilisasi massa tanpa seragam oleh aparat saat beberapa kali massa menggelar aksi demonstrasi.

Baca Juga: JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi

Sementara poin keempat menuntut jaminan kebebasan berpendapat dan penghentian pemblokiran konten suara rakyat di media sosial.

"Jaminan kebebasan berpendapat dan stop sensor suara rakyat di media sosial. Jangan asal takedown-takedown. Merasa bahwasanya kowe iki sing duwe negara ngono? (Kamu yang punya negara) Salah! Yang punya itu kami semua ini, kalian hanya diamanahi," tuturnya.

Dipilihnya lokasi aksi Titik Nol Kilometer kali ini ketimbang kawasan Bunderan UGM seperti beberapa aksi sebelumnya bukan tanpa alasan. 

Suara Ibu Indonesia menyebut h itu sebagai upaya menyadarkan masyarakat luas dan wisatawan bahwa dampak krisis ekonomi serta buruknya tata kelola negara dirasakan oleh seluruh warga Indonesia secara merata.

"Kita tuh pengen membawa kesadaran ini lebih luas ke masyarakat terutama wisatawan yang lewat gitu bahwa keresahan ini bukan hanya di Jogja tapi seluruh Indonesia," ungkapnya.

Meski sudah menggelar aksi sebanyak sepuluh kali dalam kurun satu tahun terakhir, rombongan ibu-ibu berisik, kata Ozie, siap terus bersuara secara beradab hingga keadilan benar-benar terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia.

Load More