Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 03 November 2026 | 16:14 WIB
Pembukaan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 IAGI dan GEOSEA XIX Convention & Exhibition 2026 di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, Selasa (3/11/2026). [Suara.com/Hiskia]
Baca 10 detik
  • IAGI menggelar PIT ke-55 dan GEOSEA XIX di Yogyakarta pada 2-5 November 2026 untuk membahas pengelolaan sumber daya dan mitigasi bencana.
  • SKK Migas menyatakan eksplorasi migas dan pemanfaatan teknologi modern berperan penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan serta transisi energi nasional.
  • Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan penilaian bahaya geologi harus menjadi bagian integral dalam pengambilan keputusan investasi dan penyusunan tata ruang.

SuaraJogja.id - Kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, berada di posisi strategis sekaligus rentan karena dilewati jalur tektonik aktif. Kondisi ini memberikan keberlimpahan sumber daya mineral dan energi, tetapi di saat yang sama membawa ancaman risiko bencana geologi yang tinggi. 

Menjawab tantangan tersebut, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 bersamaan dengan GEOSEA XIX Convention & Exhibition 2026 di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta, pada 2-5 November 2026.

Forum ilmiah berskala regional ini mempertemukan sekitar 900 peserta dan membahas 190 makalah ilmiah terkait pengelolaan sumber daya, mitigasi bencana, hingga pelestarian warisan geologi.

Ketua Umum Pengurus Pusat IAGI, STJ Budi Santoso, menekankan pentingnya keseimbangan dalam pengelolaan bumi agar kekayaan alam tidak berakhir menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat.

"Tantangan ini memunculkan pertanyaan mendasar. Bagaimana kita dapat memanfaatkan sumber daya bumi secara bertanggung jawab, mengurangi risiko geologi, dan melestarikan warisan geologi kita sekaligus memastikan pembangunan yang berkelanjutan?" kata Budi dalam sambutannya, Selasa (2/11/2026).

IAGI menegaskan komitmennya untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebijakan publik, memperkuat kapasitas riset, serta mendorong kerja sama lintas negara di Asia Tenggara. 

Penyelenggaraan forum ini menjadi momentum penting untuk merumuskan aksi nyata dan rekomendasi strategis bagi para pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan transisi energi global dan perubahan iklim.

"Jadi kita tidak hanya bertemu merumuskan hal-hal yang scientifically, itu bagus, tetapi juga sesuatu yang kita bisa terapkan. Ada risiko geologi juga ada di sana. Pada saat ini kita sedang berpikir alam harus diselamatkan, tapi pada saat yang sama kita bisa tetap mendapatkan manfaatnya," tandasnya.

Sementara itu, dari sudut pandang ketahanan energi nasional, pemanfaatan ilmu geosains memiliki peran vital dalam mendukung pencapaian swasembada energi sekaligus masa transisi menuju emisi rendah.

Baca Juga: Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya

Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan bahwa kegiatan eksplorasi migas di wilayah Indonesia masih memperlihatkan potensi besar, khususnya pada sumber daya gas bumi di berbagai cekungan baru.

"Penemuan tersebut memberikan optimisme mengenai besarnya potensi geologi Indonesia. Sekaligus mengingatkan kita bahwa kegiatan eksplorasi tetap memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional, termasuk di tengah transisi energi," ungkap Rikky.

SKK Migas mendorong penerapan strategi balanced exploration serta pemanfaatan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI-assisted exploration) untuk mengurangi tingkat ketidakpastian bawah permukaan. 

Kendati demikian, seluruh kegiatan eksplorasi dan produksi migas harus tetap memprioritaskan keselamatan operasional dan pemetaan risiko geologi guna mencegah gangguan akibat bencana alam.

Pemerintah melalui Badan Geologi Kementerian ESDM turut menyoroti pentingnya penyediaan data dasar geologi yang akurat sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan investasi maupun penyusunan tata ruang wilayah.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya mineral kritis dan energi harus berjalan beriringan dengan langkah-langkah mitigasi kebencanaan secara terpadu.

Load More