Prospektif, Pemkab Bantul Perkenalkan Penanaman Bawang Merah di Pegunungan

Pembudidayaan bawang merah tersebut berhasil dilakukan di dataran tinggi atau kawasan perbukitan Desa Selopamioro Imogiri yang berada di pedukuhan Nawungan.

Chandra Iswinarno
Jum'at, 19 Juli 2019 | 14:43 WIB
Prospektif, Pemkab Bantul Perkenalkan Penanaman Bawang Merah di Pegunungan
Petani memanen bawang merah. [Antara]

SuaraJogja.id - Di tengah tingginya harga komoditas bawang merah di pasaran, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengenalkan penanaman bawang merah di dataran tinggi daerah tersebut.

Langkah itu dilakukan untuk mengoptimalkan produksi tanaman hortikultura tersebut.

"Memang selama berpuluh-puluh tahun ini, tidak pernah menanam bawang merah di dataran tinggi. Sehingga empat tahun ini mulai 2016, 2017, 2018 dan 2019, kami perkenalkan bawang merah di dataran tinggi," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi seperti diberitakan Antara di Bantul pada Jumat (19/7/2019).

Dia mengemukakan pembudidayaan bawang merah tersebut berhasil dilakukan di dataran tinggi atau kawasan perbukitan Desa Selopamioro Imogiri yang berada di pedukuhan Nawungan.

Baca Juga:Bawang Merah Hingga Harga Tiket Pesawat Sumbang Inflasi Mei 2019

"Dan Alhamdulillah tahun ini di Srunggo 1 dan Srunggo dua Desa Selopamioro sudah mulai mengembangkan tanaman bawang merah," katanya.

Dia menyebut lahan bawang merah yang sudah berkembang tahun ini di wilayah Srunggo kurang lebih seluas 50 hektare, sementara yang berkembang di Nawungan sudah mencapai seluas 150 hektare.

Dia menjelaskan, di Bantul sebetulnya juga sudah ada wilayah yang menjadi sentra pengembangan bawang merah yaitu di wilayah Sanden dan Kretek atau wilayah pesisir selatan.

"Kalau di Ketek memang masih tetap dan ajeg cuma kami kembangkan di bukit atau dataran tinggi," katanya.

Dia mengatakan, pengembangan tanaman bawang merah di dataran tinggi yang juga direspon positif oleh para petani itu karena memang harga panen yang tinggi, hal itu karena selama pertumbuhan harus ada perawatan khusus agar tidak terkena penyakit atau hama.

Baca Juga:Petani Bawang Merah Minta Pemerintah Jaga Kestabilan Harga

"Kenapa mereka beralih karena memang harganya cukup tinggi walaupun sebetulnya risikonya juga cukup besar. Dan itu berpengaruh pada kondisi iklim, karena airnya sedikit maka kami mencari komoditas yang bukan padi," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak