- Puluhan becak listrik Danais di Malioboro dikabarkan rusak, tetapi Dishub DIY membantah itu produk gagal.
- Kerusakan terjadi karena kendaraan melampaui spesifikasi datar dan penerima hibah terkendala biaya perbaikan mandiri.
- Dishub DIY telah melakukan evaluasi dari pengadaan 2023 dengan menyempurnakan model baru pada tahun 2024.
SuaraJogja.id - Program becak listrik berbasis Dana Keistimewaan (Danais) yang digadang-gadang menjadi simbol transformasi transportasi ramah lingkungan di Kawasan Malioboro ramai di media sosial (medsos). Belum genap tiga tahun sejak mulai dioperasikan pada 2023 silam, puluhan unit becak listrik dikabarkan mengalami kerusakan karena merupakan produk gagal.
Data yang beredar menyebut sekitar 35 unit becak listrik tidak lagi beroperasi secara normal. Padahal kendaraan yang merupakan hasil pengadaan perdana tersebut memiliki nilai sekitar Rp43 juta per unit atau lebih dari Rp2 miliar untuk 50 unit yang dihibahkan kepada tukang becak di kawasan Malioboro.
Dinas Perhubungan (Dishub) DIY pun buka suara terkait kasus itu. Kepala Bidang Angkutan Dishub DIY, Wulan Sapto Nugroho di Yogyakarta, Jumat (7/8/2026) menyatakan becak listrik 2023 merupakan proyek percontohan yang melalui proses panjang sebelum diproduksi massal. Karenanya alih-alih merupakan produk gagal, becak listrik tersebut masih pada tahap awal ujicoba.
"Jadi bukan merupakan kegagalan produk," ujarnya.
Baca Juga:Murah, Mudah Didapat, Sulit Ditinggalkan, Kisah Kelam Mantan Pengguna Obat Keras di Jogja
Menurut Sapto, sebelum diluncurkan pada 2023 lalu, Pemda sudah lebih dulu menggelar sayembara pembuatan purwarupa pada 2022. Sejumlah desain diuji, kemudian dipilih model terbaik hasil pengembangan Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT).
Kemudian produk itu diajukan ke Pemda DIY untuk mendapat persetujuan Gubernur DIY. Setelah dapt ijin, maka becak listrik tersebut diproduksi menggunakan Danais.
"Pengadaan ini bukan asal beli. Diawali sayembara prototype, diuji, dipilih yang nilainya paling baik, lalu disetujui menjadi model becak listrik tahun 2023," ujar Sapto.
Sapto menyebut kondisi industri kendaraan listrik saat pengadaan juga berbeda dengan sekarang. Pada 2023, pilihan produsen kendaraan listrik masih sangat sedikit. Karena itu, pemda akhirnya menggunakan produk Selis yang tersedia melalui e-katalog pemerintah.
"Kendaraan listrik waktu itu belum berkembang seperti sekarang. Produsennya juga belum banyak," katanya.
Baca Juga:Haraku Ramen Buka Gerai Pertama di Jogja, Cita Rasanya Dipuji Bupati Sleman: Cocok di Lidah!
Namun seiring perkembangan waktu, lanjut Sapto, ada keluhan dari peneriba hibah becak Selis tersebut. Sebagian besar keluhan berasal dari pengemudi becak motor atau bentor yang membandingkan performa becak listrik dengan kendaraan bermesin yang selama ini mereka gunakan.
Sebaliknya, penerima yang sebelumnya merupakan pengayuh becak kayuh justru menyambut positif becak listrik. Sebab becak itu lebih ringan dan mendapat bantuan tenaga listrik.
"Kalau bekas pengayuh becak kayuh, mereka senang. Yang banyak protes justru mantan pengemudi becak motor karena dibandingkan dengan bentor, baik kecepatan maupun kenyamanannya," ujarnya.
Sapto mengungkap fakta lain yang dinilai menjadi penyebab kerusakan yang ramai diperbincangkan di medsos saat ini. Konsep awal becak listrik tersebut sebenarnya hanya diperuntukkan sebagai becak wisata yang beroperasi di kawasan datar seperti Malioboro.
Namun dalam praktiknya, banyak pengemudi membawa kendaraan itu pulang ke rumah masing-masing. Tak tanggung-tanggung, becak tersebut dibawa jauh ke Bantul maupun Kulon Progo yang memiliki kontur jalan menanjak dan tidak rata. Padahal desain becak listrik tersebut tidak dirancang untuk kondisi demikian.
"Kalau digunakan di luar spesifikasinya tentu akan memengaruhi kondisi kendaraan," jelasnya.