Dinkes Bantul Sebut Kasus DBD di Tahun 2019 Masih Tinggi, Segini Temuannya

Kasus DBD di Kabupaten Bantul mencapai 1323 kasus.

Galih Priatmojo
Selasa, 07 Januari 2020 | 19:32 WIB
Dinkes Bantul Sebut Kasus DBD di Tahun 2019 Masih Tinggi, Segini Temuannya
Pasien demam berdarah dirawat di rumah sakit. (Shutterstock)

SuaraJogja.id - Dinas kesehatan Kabupaten Bantul mewaspadai merebaknya penyakit Demam Berdarah (DBD) di awal musim penghujan ini. Sebab, cuaca yang terjadi saat ini masih sangat mendukung pertumbuhan nyamuk Aedest Aegepty (nyamuk pembawa penyakit DBD).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja menuturkan penderita DBD selama tahun 2019 ada sebanyak 1.323 kasus. Jika dihitung dengan hitungan statistik angka DBD di Kabupaten Bantul mencapai 148,78 per 100 ribu penduduk. Angka tersebut tergolong cukup tinggi sehingga perlu upaya komprehensif untuk melakukan pengendalian.

Kendati demikian, Agus mengklaim meskipun angka kasus DBD selama tahun 2019 cukup tinggi namun kematian akibat penyakit DBD masih rendah. Pihaknya mencatat dari 1.323 kasus DBD, hanya 4 orang yang meninggal. Jika diprosentase maka angkanya masih cukup kecil yaitu 0,3%.

"Masih sesuai target nasional. Target nasional di bawah 1%,"ujarnya.

Baca Juga:Wakil Bupati Bantul Sebut Banyak BUMDes yang Tak Sehat

Hal ini mungkin saja bisa terjadi, di mana kasus demam berdarah tidak bisa ditekan karena kondisi alam, kondisi cuaca dan juga mobilitas penduduk serta kepadatan penduduk. Dan yang menjadi pemicu utamanya sebenarnya adalah mobilitas penduduk yang tidak bisa dibatasi.

"namun yang jelas mobilitas penduduk tersebut sangat menunjang pertumbuhan angka DBD. Kerja di luar kemudian pembawa penyakit DBD ke Bantul,"tambahnya.

Agus menyebut langkah antisipasi yang dilakukan dari tahun ke tahun memang tetap sama. Yaitu gerakan pemberantasan sarang nyamuk karena itu satu-satunya cara yang efektif. Langkah selanjutnya adalah dengan abatisasi di mana nasyarakat sebetulnya bisa melakukan sendiri dengan meminta serbuk Abate ke Puskesmas.

Cara selanjutnya adalah dengan mengerahkan Jumantik juru pemantau jentik karena mereka bisa mengendalikan penyakit DBD adalah dengan angka bebas jentik yang tinggi. Dan selama ini angka Bebas Jentik Kabupaten Bantul belum bisa mencapai target 95 %.

"Sekarang Kabupaten Bantul angka bebas jentiknya baru 84 %. Itu variabel antara. Kalau tidak dikendalikan ya pasti DBDnya tinggi,"tuturnya.

Baca Juga:Hadapi Musim Hujan, Pemkab Bantul Imbau Masyarakat Lakukan 4 Tips Ini

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Bantul, Sri Wahyu Joko Santosa menambahkan, untuk pengendalian angka DBD pihaknya memang meminimalisir penggunaan cara fogging. pihaknya belum menjadikan fogging sebagai prioritas karena masih ada efek sampingnya, sebab bahan yang digunakan adalah pestisida.

"Bahannya itu pestisida. Sementara di kita ada pihak-pihak yang rentan dan harus dilindungi yaitu anak-anak dan ibu-ibu,"ujarnya.

Kontributor : Julianto

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak