facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

80 Persen Air Warga Tercemar Limbah Tinja, BPBD Kulon Progo Minta Warga Cek Septic Tank

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana Selasa, 08 Juni 2021 | 18:01 WIB

80 Persen Air Warga Tercemar Limbah Tinja, BPBD Kulon Progo Minta Warga Cek Septic Tank
Ilustrasi septic tank. [Shutterstock]

Hingga saat ini hampir 80 persen air yang digunakan warga dinyatakan telah tercemar limbah tinja.

SuaraJogja.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulon Progo mengimbau masyarakat dapat segera memutus kontaminasi air sanitasi ke air tanah. Pasalnya, hingga saat ini hampir 80 persen air yang digunakan warga dinyatakan telah tercemar limbah tinja.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Joko Satyo Agus Nahrowi menuturkan, persentase pencemaran air tersebut itu didapatkan dari hasil uji laboratorium yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo.

Salah satu upaya yang disarankan untuk menghindari pencemaran air tersebut yaitu dengan kembali melakukan pengecekan terhadap septic tank.

"Jika warga mengecek septic tanknya masing-masing bisa memutus kontaminasi dari air sanitasi ke air tanah. Sehingga generasi 25 tahun mendatang tidak akan merasakan pencemaran itu," kata Joko pada awak media, Selasa (8/6/2021).

Baca Juga: Kisah Penyedot Tinja: Rezeki dan Malapetaka di Balik Tahi

Belum lagi ditambah dengan kawasan permukiman di Bumi Binangun yang terus berkembang. Dibarengi munculnya sejumlah objek strategis nasional mulai dari bandara hingga pendukung pariwisata nasional lainnya.

Menurutnya persoalan kebersihan air itu perlu untuk lebih lantang disuarakan. Pasalnya pencemaran air sumur dengan tinja itu bukan tidak mungkin berdampak kepada kesehatan masyarakat Kulon Progo sendiri.

"Kalau hal ini tidak kita suarakan dari sekarang, kapan lagi. Pencemaran ke air sumur dari tinja itu mengandung bakteri Escherichia coli [E. coli]. Bakteri itu bisa berdampak terhadap penyakit diare. Kalau itu menimpa ke anak-anak bisa mengakibatkan stunting karena gizi susah dicerna," ungkapnya.

Joko tidak memungkiri memang saat ini pihaknya baru bisa sebatas memberikan arahan berupa perbaikan septic tank secara mandiri dari warga.

Kendati demikian, pihaknya akan tetap berkoordinasi dengan dinas terkait agar perbaikan septic tank dapat dilakukan secara maksimal. Termasuk komunikasi dengan Dinas PU terkhusus pada bidang Cipta Karya.

Baca Juga: Disangka Harta Karun Terkubur, Saat Digali Bikin Kecewa Berat

Mengenai pemberian bantuan sendiri, kata Joko, telah diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah oleh dinas-dinas terkait.

"Khususnya, untuk septic tank atau sanitasi, dan juga peresapan. Setiap tahunnya, sekitar 200 KK yang dapat," imbuhnya.

Diketahui bahwa sebelumnya tepatnya pada tahun 2019 lalu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo telah memberikan bantuan sebanyak 750 unit jamban sehat. Pemberian bantuan tersebut dilakukan secara swadaya kepada masyarakat.

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinkes Kulonprogo Slamet Riyanto menyatakan bantuan jamban sehat itu guna merealisasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Setiap penerima satu unit jemban sehat nantinya akan diberikan dana sebesar Rp.1,5 juta.

“Bantuan jamban sehat itu akan diberikan bagi setiap kepala keluarga yang mengajukan proposal bantuan. Nantinya dikoordinasikan dengan desa,” kata Riyanto.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait