- Luas lahan pertanian Kabupaten Sleman saat ini menyusut menjadi sekitar 15.000 hektare dan diperkirakan terus berkurang.
- Meskipun lahan berkurang, produksi beras Sleman tahun 2025 masih surplus dan diperkirakan aman hingga 30 tahun ke depan.
- Dinas Pertanian Sleman mengalihkan fokus ke pemanfaatan potensi lahan pekarangan seluas 20.000 hektare untuk menambah cadangan pangan.
SuaraJogja.id - Luas lahan pertanian di Kabupaten Sleman terus mengalami penyusutan signifikan. Tercatat kini lahan pertanian yang tersisa sudah berada di angka sekitar 15.000 hektare.
"Kami sekarang hanya memiliki lahan pertanian tidak lebih seluas 15.000 hektare," kata Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, Jumat (6/3/2026).
Saat ini pihaknya sedang menunggu ketetapan resmi mengenai luasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang tidak boleh dialihfungsikan lagi.
Sementara ini, Rofiq bilang penyusutan diperkirakan akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Namun pemerintah berupaya menetapkan ambang batas bawah agar ketahanan pangan tetap terjaga.
Baca Juga:Sleman Dikepung Pohon Tumbang dan Kerusakan Rumah Akibat Angin Kencang
"Mungkin angkanya nanti tidak 15.000 (hektare), mungkin hanya 12.000 atau bahkan hanya 10.000 yang itu sudah angka tahan nggak boleh bergeser lagi. Harapannya nanti seperti itu," ucapnya.
Berdasarkan perhitungan produksi, kebutuhan beras untuk 1,3 juta penduduk Sleman setiap tahunnya berada di angka 75.000 ton. Meski luas lahan berkurang, produksi pada tahun 2025 tercatat masih surplus dengan mampu menghasilkan 135.103,56 ton setara beras.
"Bahkan kemarin kita membuat estimasi kalau sampai sawah kita hanya tinggal 10.000 (hektare), kita itu akan impas nanti di tahun 30 tahun depan. Dengan sawah yang tidak boleh berkurang lagi," tuturnya.
"Artinya kalau dari sisi pangan pokok untuk yang karbohidrat dari beras kita aman," imbuhnya.
Namun, tren penurunan produksi tetap menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Pada tahun 2026, produksi beras diprediksi akan menurun ke angka 132.980,2 ton seiring dengan berlanjutnya pergeseran luas sawah.
Baca Juga:10 Pemain Tak Masalah, PSIM Yogyakarta Tak Tertembus Semen Padang
"Kami tidak menepis bahwa tiap tahun tetap ada pergeseran luas sawah tadi," tuturnya.
Menyikapi fenomena berkurangnya bentang sawah tersebut, Dinas Pertanian kini mulai melirik potensi lahan pekarangan sebagai kompensasi atas hilangnya lahan pertanian produktif.
Menariknya, Rofiq mengungkapkan data tata ruang menunjukkan bahwa luasan pekarangan di Sleman justru mengalami peningkatan.
"Tadi saya sampaikan sawah kita itu semakin berkurang, tapi setelah saya intip data di teman-teman tata ruang, ternyata pekarangan yang ada di Kabupaten Sleman itu malah yang bertambah luas," ungkapnya.
Dengan potensi pekarangan mencapai 20.000 hektare, pihaknya berharap masyarakat bisa tetap memproduksi pangan. Meski tidak lagi memiliki akses langsung ke area persawahan yang luas.
"Kita ada potensi sekitar 15 sampai 20.000 hektare pekarangan, asumsi kita yang bisa dimanfaatkan hanya sepertiganya atau 7.000 hektar. Maka angka kita itu akan mencapai sekitar 21.000 ton per tahun. Dan ini luar biasa untuk menambah cadangan pangan kita melalui lahan-lahan yang ada," tandasnya.