SuaraJogja.id - Slamet Tohari alias Mbah Slamet tengah disorot publik akibat aksinya yang keji melakukan pemunuhan berantai. Warga Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara itu setidaknya telah membunuh 10 orang korbannya dengan kedok sebagai dukun pengganda uang.
Bahkan dalam klaimnya, Mbah Slamet bisa menggandakan uang sampai Rp5 miliar. Hingga Selasa (4/4/2023), kepolisian menemukan 11 mayat yang dikubur pelaku di ladang miliknya.
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyoroti pendidikan di tengah masyarakat. Mengingat ternyata masih ada yang percaya dengan modus-modus dukun apalagi dalam menggandakan uang.
"Ya harus didik, itu namanya masyarakat tidak terdidik. Dukunnya dihukum sesuai hukum yang ada," ujar Gus Yahya kepada awak media di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa.
Menurutnya ke depan diperlukan lagi penguatan di bidang pendidikan. Terkhusus bagi masyarakat akar rumput agar tak terjerumus dalam kasus serupa.
"Namanya masyarakat, kalau masih percaya begitu-begitu ya berarti memang belum terdidik, harus dididik. Kita punya masalah penguatan pendidikan, masyarakat akar rumput ini supaya tidak mudah [percaya hal begitu]," imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Mbah Slamet adalah pembunuh berantai berkedok dukun pengganda uang yang berasal dari Banjarnegara. Hingga Senin (3/4/2023) kemarin, kepolisian menemukan 10 mayat yang dikubur pelaku di ladang milik Mbah Slamet.
Beberapa mayat korban bahkan diperkirakan sudah dikubur dalam waktu yang lama karena saat ditemukan hanya tinggal tulang.
Dalam aksinya, Mbah Slamet menggunakan modus iming-iming korban dengan keuntungan besar jika menggandakan uang di tempatnya.
Baca Juga:Istri Ungkap Perilaku Mbah Slamet, Dukun Pengganda Uang Sekaligus Pembunuh Berantai di Banjarnegara
Mbah Slamet beraksi menjerat para korban secara online lewat Facebook, di mana aksinya ini dibantu oleh kaki tangannya yang berinisial BS. Akibat perbuatannya, Mbah Slamet terancam hukuman mati dan seumur hidup.