Nezar mengungkapkan di Indonesia sendiri sudah ada UMKM yang berhasil, misalnya Efishery yang merupakan akuakultural dalam budidaya ikan lele. Pemanfaatan teknlogi yang dilakukan sejak 2013 ini bahkan meraup pendapatan Rp6 triliun. Berawal dari usaha kecil, saat ini Efishery sudah menjadi unicorn di Indonesia.
Adopsi teknologi digital sendiri sangat berperan untuk UMKM. Nezar menerangkan bahwa pemerintah sudah melakukan upaya seperti pelatihan pengembangan usaha warga ke kelas yang lebih modern, selanjutnya mengarahkan untuk digitalisasi produk dengan mengenalkan ke media sosial. Termasuk cara-cara pemasaran menggunakan teknologi tersebut.
Pengembangan UMKM juga memiliki tujuan agar Indonesia keluar dari middle income track. Hal itu juga untuk mencapai Indonesia Emas pada 2045 mendatang.
"Jadi ada tiga hal untuk keluar dari middle income track, pertama harus punya inovasi. Kedua harus memiliki adopsi teknologi, ketiga adalah investasi. Tiga ini menjadi syarat," terang dia.
Baca Juga:Pemerintah Prabowo Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Ekonom UGM: Ambisius
Terpisah PP Kagama, Paripurna P Soeganda yang membuka acara Pra Munas XIV Kagama tersebut tak menampik bahwa peningkatan UMKM saat ini perlu banyak berkolaborasi meski harus berkompetisi.
"Kita memang harus berkompetisi untuk membuat daya saing lebih kuat. Tapi dalam menciptakan jaringan yang lebih kuat ya kita perlu berkolaborasi, untuk mendapatkan banyak dukungan," ujar Paripurna Soeganda.
Sejumlah narasumber dalam seminar itu juga membagikan pengalamannya, mulai dari Division Head Digital Innovation BRI, Kaspar Situmorang, Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S Asngari, Direktur DPKM UGM, Rustamji dan perwakilan Kagama UGM, Iwan J Prasetyo.