Alarm! Pakar UGM Sebut Gen Alpha Rentan Depresi Akibat Digital, Orang Tua Wajib Tahu

Kasus bunuh diri picu alarm kesehatan mental Gen Alpha rentan akibat era digital. Pakar UGM desak prioritas kesejahteraan mental anak & peran aktif orang tua-sekolah.

Budi Arista Romadhoni | Hiskia Andika Weadcaksana
Jum'at, 14 November 2025 | 14:05 WIB
Alarm! Pakar UGM Sebut Gen Alpha Rentan Depresi Akibat Digital, Orang Tua Wajib Tahu
ilustrasi orang tua Milenial dan anak gen Alpha (freepik/Lifestylememory)
Baca 10 detik
  • Kasus bunuh diri terkini menjadi alarm bagi kesehatan mental Generasi Alpha yang rentan akibat tekanan psikologis lingkungan digital.
  • Generasi Alpha berisiko tinggi mengalami kelelahan emosional dini karena interaksi intensif dunia maya tanpa kemampuan pengelolaan emosi matang.
  • CPMH UGM dan Dinkes Sleman menekankan perlunya peran aktif orang tua serta sekolah dalam meningkatkan literasi dan menyediakan dukungan psikologis.

SuaraJogja.id - Sederet kasus bunuh diri yang terjadi belakangan ini menjadi alarm darurat bagi kondisi kesehatan mental generasi termuda.

Sorotan tajam kini mengarah pada Generasi Alpha (kelahiran 2010-2024) yang disebut memiliki kerentanan unik terhadap tekanan psikologis akibat tumbuh di era digital.

Pakar dari Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa situasi ini memerlukan langkah cepat dan kolaboratif untuk melindungi masa depan anak-anak.

Manajer CPMH UGM, Nurul Kusuma Hidayati, memandang rentetan kasus ini sebagai peringatan keras bagi semua pihak.

Baca Juga:Arya Daru Putuskan Bunuh Diri? Keluarga Akui Tak Pernah Dengar Almarhum Mengeluh soal Kerjaan

Menurutnya, kesejahteraan mental anak harus menjadi prioritas utama, setara dengan pencapaian akademis mereka.

"Ini sudah semacam wake-up call yang harus membuat semua pihak waspada. Sudah saatnya setiap elemen bangsa melihat kesehatan mental anak sebagai hal yang penting untuk diperhatikan. Anak tidak hanya perlu sejahtera secara prestasi, tetapi juga secara mental," kata Nurul dikutip, Jumat (14/11/2025).

Risiko Kelelahan Emosional di Usia Dini

Nurul menjelaskan, karakteristik Generasi Alpha yang lahir dan besar di tengah kepungan teknologi digital membuat mereka lebih rentan. Paparan informasi tanpa henti dan interaksi intensif di dunia maya membawa risiko tersendiri.

Meskipun akrab dengan dunia digital, generasi ini justru menghadapi ancaman kelelahan emosional atau emotional burnout jauh lebih dini dibandingkan generasi sebelumnya.

Baca Juga:Misteri Kematian Diplomat Arya Daru: Polisi Sebut Bunuh Diri, Keluarga Bantah Keras!

Kondisi ini menjadi berbahaya ketika kemampuan mereka untuk mengelola pikiran dan emosi belum sepenuhnya matang.

"Mereka berisiko lebih dini mengalami kelelahan emosional. Sementara kemampuan pengelolaan pikirannya belum matang. Kombinasi ini berpotensi membuat anak terjebak dalam tekanan mental yang berat hingga berujung pada tindakan ekstrem," ungkapnya.

Tantangan terbesar, menurut Nurul, adalah rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat.

Banyak orang tua dan guru belum mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis, sehingga intervensi seringkali terlambat.

Jarak komunikasi antar generasi juga memperburuk keadaan.

"Kurangnya dialog yang empatik antara orang tua dan anak membuat proses pertolongan pertama psikologis tidak berjalan dengan baik," paparnya.

Ditambah lagi, peran pengasuhan yang kini tak sedikit digantikan oleh gawai membuat anak minim kesempatan belajar emosi secara langsung dari orang tuanya.

"Paparan dunia digital yang tidak terkontrol semakin memperparah kondisi ini karena anak-anak seringkali tidak memiliki filter dalam menyerap informasi atau membandingkan diri dengan orang lain di media sosial," tambahnya.

Peran Kunci Orang Tua dan Sekolah

Untuk menekan risiko depresi, Nurul menyarankan beberapa langkah konkret.

Pertama, pengaturan screen time atau waktu menatap layar yang berlaku untuk seluruh anggota keluarga, bukan hanya anak.

Langkah ini bertujuan menciptakan momen interaksi berkualitas, di mana orang tua bisa berperan aktif sebagai 'pelatih emosi' dengan memberi contoh ekspresi emosi yang sehat dan terbuka.

"Keluarga perlu membangun komunikasi yang suportif dan meningkatkan literasi kesehatan mental agar bisa mendeteksi tanda-tanda awal perubahan perilaku anak," ujarnya.

Di sisi lain, sekolah memegang peran strategis.

"Sekolah harus memastikan bahwa setiap anak merasa aman, terbebas dari tekanan sosial maupun perundungan," tuturnya.

Ini bisa diwujudkan dengan menyediakan akses ke psikolog atau konselor, melatih guru sebagai 'gatekeeper' yang peka terhadap perubahan perilaku siswa, dan mengintegrasikan pembelajaran sosial-emosional (SEL) dalam kurikulum.

Data Lokal Tunjukkan Urgensi

Secara lokal, data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menunjukkan adanya peningkatan kasus bunuh diri dari 16 kasus pada 2022 menjadi 25 kasus pada 2024. Meskipun tren menurun dengan catatan 6 kasus hingga Oktober 2025, angka ini tetap menjadi perhatian serius.

Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, menyebut faktor pemicunya beragam, mulai dari tekanan ekonomi, perundungan (*bullying*), hingga relasi interpersonal yang bermasalah.

"Yang paling [pengaruh], kalau orang tua, teman hidup. Sudah masalah ekonomi sedikit, teman hidupnya ngeyel, nanti pasti kena masalah-masalah seperti itu. Nah, ini harus hati-hati," ucapnya.

Menanggapi hal ini, Dinkes Sleman telah menempatkan satu hingga dua psikolog di setiap Puskesmas dan aktif melakukan asesmen ke sekolah-sekolah untuk deteksi dini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak