- Seniman tradisi kethoprak Yogyakarta, Sumisih Yuningsih (Yu Beruk), meninggal dunia Sabtu, 14 Februari 2026.
- Yu Beruk meninggal setelah dirawat akibat sesak napas yang diperparah komplikasi infeksi dan faktor usia.
- Beliau dikenal sebagai 'Ratu Panggung' yang menghidupi tujuh anak serta mengembangkan seni di Sanggar Busana Nawangsih.
SuaraJogja.id - Dunia seni tradisi Yogyakarta kembali berduka. Sosok yang selama ini dijuluki “Ratu Panggung” oleh para pegiat kethoprak, Sumisih Yuningsih atau yang akrab disapa Yu Beruk, meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026) sekitar pukul 08.30 WIB.
Ratusan pelayat dan sejumlah pekerja seni pun hadir dan memberikan penghormatan terakhir di rumah duka almarhumah di Mantrijeron. Permaisuri Keraton Yogyakarta, GKR Hemas dan Kadipaten Pakualaman, GKBRAA Paku Alam tampak ikut hadir melayat di rumah duka.
Putri kelima Yu Beruk, Lisa Pawestri mengungkapkan, sang bu sempat mengalami sakit sesak napas sekitar 10 hari sebelum meninggal. Dia memang memiliki riwayat gangguan paru-paru akibat infeksi.
"Kemarin itu mungkin kecapekan banyak kegiatan habis ngapem. Habis ngapem, dua hari langsung ambruk. Biasanya sakit biasa, tapi ini disertai sesak," jelasnya.
Baca Juga:Driver Ojol di Sleman Dianiaya Orang Tak Dikenal, Polisi Lakukan Penyelidikan
Lisa menyebut, ibunya juga sempat dirawat tiga hari di rumah sakit. Bahka pada hari kedua, kondisinya membaik karena sudah bisa makan dan mengobrol.
Namun hari ketiga Yu Beruk kembali drop, napas berat. Tak sadarkan diri, Yu Beruk kemudian dipindahkan ke ICU di PKU Muhammadiyah Yogyakarta sekitar enam hari.
Karena tak ada perubahan yang signifikan, keluarga memindahkannya ke RSUP Dr Sardjito. Di sana ia mendapat penanganan intensif selama tiga hari. Namun infeksi yang menyebar dan faktor usia memicu komplikasi.
"Sebetulnya penanganannya luar biasa, cuma karena infeksinya sudah menyebar dan usia juga berpengaruh, jadi komplikasi. Pagi tadi sekitar setengah sembilan Ibu dipanggil oleh Allah SWT," jelasnya.
Di mata Lisa dan saudaranya, Yu Beruk dikenal sebagai perempuan tangguh. Ia membesarkan tujuh anak lewat jalan kesenian.
Baca Juga:Gagal Gondol Burung Tengah Malam, Maling di Sleman Semprot Spray Gun saat Diringkus Warga
Namun hanya Lisa yang menjadi satu-satunya anak Yu Beruk yang terjun ke dunia seni. Ibunya jadi inspirasi dalam berkarya karena seni bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa.
"Ibu itu sosok perempuan yang luar biasa. Beliau sangat kuat. Ibu menghidupi kami semuanya dengan berkesenian. Itu membuat kami belajar kuat dari Ibu," ungkapnya.
Salah seorang seniman senior, Pritt Timothy mengungkapkan, Yu Beruk merupakan sosok yang memiliki kepribadian luar biasa.
"Beliau semanak, grapyak, prasaja, andhap asor, kooperatif selama berkesenian bareng di kesenian kethoprak. Beliau itu seniman tradisional yang luar biasa. Aktingnya sesuai karakter dan sangat wajar," paparnya.
Selain aktif di panggung kethoprak, Yu Beruk juga membina perajin dan mengembangkan karya di Sanggar Busana Nawangsih, Mantrijeron. Sanggar itu menjadi ruang kreatif yang melahirkan banyak karya busana tradisional.
Ia juga pernah terlibat dalam sandiwara radio di salah satu stasiun radio bersama sutradara Maria Kadarsih.
"Kepiawaiannya menghidupkan karakter tak hanya memikat secara visual, tetapi juga melalui olah suara," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi