Ketika SD Negeri di Jogja Kekurangan Murid, Guru Patungan demi Tetap Bisa Bermimpi

SD Negeri Pingit Yogyakarta berjuang bertahan meski hanya mendapat 11 siswa baru. Minimnya murid dan dana BOS memaksa guru gotong royong agar sekolah tetap berjalan

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 14 Juli 2026 | 16:07 WIB
Ketika SD Negeri di Jogja Kekurangan Murid, Guru Patungan demi Tetap Bisa Bermimpi
Murid baru mengikuti MPLS belajar di SD Negeri Pingit, Kota Yogyakarta, Selasa (14/7/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • SD Negeri Pingit, Yogyakarta hanya menerima 11 siswa baru pada tahun ajaran 2026 akibat penurunan jumlah anak usia sekolah.
  • Kekurangan siswa menyebabkan dana Bantuan Operasional Siswa menyusut dan menghambat kemampuan sekolah dalam menghadirkan program pendidikan unggulan bagi murid.
  • Pihak sekolah berupaya menjemput bola mencari murid serta bergotong royong dengan pihak eksternal demi mempertahankan kegiatan belajar mengajar.

SuaraJogja.id - Pagi ini hanya terdengar suara 11 siswa yang memenuhi ruang kelas 1 SD Negeri Pingit, Kota Yogyakarta dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari kedua, Selasa (14/7/2026).  Tidak ada hiruk-pikuk puluhan atau bahkan ratusan murid baru seperti yang lazim ditemui setiap tahun ajaran baru di sekolah-sekolah lain. 

Di sekolah yang telah berdiri sejak 1984 itu, 11 murid baru itu di kelas I bahkan lebih sedikit dibanding guru dan tenaga kependidikan yang mencapai 13 orang. Namun kehadiran mereka tetap jadi cara sekolah negeri tersebut tetap bernapas.

"Tahun ini kami memang hanya dapat sebelas murid baru, jumlah ini lebih besar dari tahun lalu yang hanya tujuh siswa," ujar Kepala SN Negeri Pingit, Kota Yogyakarta,  Sri Puji Haryanti di sela MPLS.

Sejak menjadi Kepala Sekolah dua tahun terakhir, Sri Puji mengaku menyimpan kegelisahan yang mungkin juga dirasakan banyak kepala sekolah SD Negeri lain di Kota Yogyakarta. Alih-alih kualitas pendidikan atau prestasi yang mereka khawatirkan, namun bagaimana membuat sekolah negeri seperti mereka tetap hidup ketika murid terus menghilang.

Baca Juga:Militerisasi Kehidupan Sipil Tak Menyejahterakan Rakyat, Hanya Menyenangkan Pemimpin

Sejak beberapa tahun terakhir, SD Negeri tersebut selalu kekurangan murid baru. Tiap tahun tak lebih dari 20 siswa yang mau mengisi ruang-ruang kelas sekolah itu. Padahal target minimal rombongan belajar (rombel) di tiap kelas mencapai 28 siswa.

Angka itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi sekolah negeri kecil, sebelas murid berarti dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) yang didapat dari pemerintah ikut menyusut. Semakin sedikit siswa, semakin kecil anggaran yang diterima. 

Padahal biaya operasional sekolah tidak ikut mengecil. Ironisnya, sekolah yang tidak memungut biaya justru semakin sulit mendapatkan murid.

"Sekolah negeri kan gratis, jadi kami tidak melakukan pungutan ke siswa. Apalagi murid-murid kami berasal dari kalangan ekonomi yang rendah," ujarnya.

Di tengah fenomena kekurangan murid itu, Sri Puji mengaku sering bertanya kepada dirinya sendiri. Pertanyaan itu bukan tentang bisnis
melainkan tentang bagaimana SD Negeri seperti mereka bisa kembali menarik perhatian masyarakat yang kini lebih banyak memilih sekolah swasta, terutama yang berbasis agama.

Baca Juga:Ramai di Threads, Dosen Farmasi UMY Diduga Lecehkan Mahasiswi, Kampus Panggil yang Bersangkutan

Alih-alih menunggu calon siswa datang, Sri Puji memilih mendatangi mereka. Ia mengetuk pintu RT dan RW, berbicara dengan tokoh masyarakat, mencari anak-anak usia sekolah hingga ke luar wilayah Kota Yogyakarta, bahkan sampai Gamping, Sleman.

"Kalau di satu wilayah sudah tidak ada anak kecil, saya pindah ke wilayah lain. Yang bisa kami lakukan ya terus berusaha," paparnya.

Dana kecil dari pemerintah, lanjutnya membuat sekolah kesulitan menghadirkan program unggulan. Ketika program terbatas, masyarakat semakin ragu memilih sekolah tersebut.

Namun SD Negeri Pingit Memilih Tidak Menyerah

Karena dana tidak cukup, guru-guru justru memilih bergotong royong. Jika ada kegiatan yang tidak bisa dibiayai BOS, mereka urunan menggunakan uang pribadi.

"Kalau ada kegiatan yang tidak bisa ter-cover BOS, kami patungan. Itu yang membuat kami tetap bersemangat," akunya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak