- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,5 mengguncang Bantul pada Kamis (20/8/2026) sore akibat aktivitas Sesar Opak.
- BMKG menjelaskan gempa dangkal tersebut memicu suara gemuruh karena gelombang seismik frekuensi tinggi merambat dekat permukaan.
- Kepala Stageof BMKG Sleman mengimbau masyarakat agar selalu mengandalkan kanal resmi BMKG untuk menghindari informasi yang menyesatkan.
SuaraJogja.id - Sejumlah warga mengaku mendengar suara gemuruh seperti dentuman saat gempa bumi mengguncang Bantul dan sekitarnya, Kamis (20/8/2026) sore.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena tersebut bukan sesuatu yang aneh. Mengingat gempa yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Sesar Opak.
Kepala Stasiun Geofisika (Stageof) BMKG Sleman, Ardhianto Septiadhi, mengatakan gempa dangkal memang dapat menimbulkan suara yang terdengar langsung di sekitar wilayah yang mengalami guncangan. Kondisi itu berbeda dengan gempa yang sumbernya jauh lebih dalam.
"Gempa bumi dangkal (shallow crustal earthquake) sangat lazim disertai dengan suara gemuruh, dentuman, atau ledakan," kata Ardhianto saat dikonfirmasi, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga:Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Dijelaskan Ardhianto, kondisi itu terjadi sebab pusat gempa berada relatif dekat dengan permukaan. Sehingga gelombang seismik berfrekuensi tinggi dapat lebih mudah terdengar atau terasa di sekitar lokasi.
"Hal ini karena kedalaman pusat gempa yang sangat dekat dengan permukaan membuat gelombang seismik frekuensi tinggi langsung terdengar atau terasa di udara sekitar," tandasnya.
Adapun gempa yang terjadi Kamis sore tersebut tercatat bermagnitudo 3,5setelah pembaruan analisis BMKG. Episenternya berada di darat, sekitar11kilometer arah timur laut Bantul, dengan kedalaman21kilometer.
Ia bilang Sesar Opak merupakan sesar aktif yang masih menunjukkan aktivitas kegempaan. Berdasarkan observasi Stageof Sleman, gempa di kawasan sesar tersebut cukup sering terjadi, meski sebagian besar memiliki kekuatan kecil.
"Untuk aktifitas kegempaan sesar opak merupakan sesar aktif dimana dari observasikamimenunjukkan frekuensi gempa bumi yang tinggi namun gempabuminya didominasi kekuatan kecil," ungkapnya.
Baca Juga:Tak Cuma Rp1 Miliar, Pemda DIY Desak Kampus Ringankan UKT Mahasiswa NTT
Apalagi Sesar Opak memiliki bentang yang cukup panjang. Disebutkan bahwa panjang sesar tersebut membentang sekitar 45 kilometer, mulai dari wilayah Kabupaten Bantul hingga Kabupaten Klaten.
Meski gempa yang terjadikemarinberkekuatan relatif kecil, aktivitas Sesar Opak tetap perlu menjadi perhatian.
"Untuk dampak gempa bumi dari sesar opak yang pernah terjadi gempa bumi merusak tahun 2006, merupakan pembelajaran penting di mana dampak yang signifikan mengakibatkan bangunan roboh dan korban jiwa," tandasnya.
Ardhianto menekankan mitigasi tidak boleh baru dilakukan setelah gempa besar terjadi. Pembangunan di kawasan rawan gempa perlu mempertimbangkan aspek kebencanaan.
"Untuk itu pembangunan berbasis mitigasi bencana, identifikasi daerah rawan bencana dan kesiapsiagaan masyarakat dengan literasi dan edukasi yang berkesinambungan perlu dilakukan dengan sinergi semua pihak," ucapnya.
Di sisi lain, masyarakat diminta tidak menjadikan informasi dari sumber yang tidak jelas sebagai rujukan ketika terjadi gempa. Informasi mengenai aktivitas kegempaan dan perkembangan situasi sebaiknya diperoleh dari kanal resmi BMKG untuk mencegah kepanikan maupun kabar yang menyesatkan.