- IHKS 2026 di Yogyakarta mempertemukan 100 ahli ortopedi dan peneliti dari 15 negara untuk membahas upaya mempertahankan atau mengganti sendi secara optimal.
- AI dan teknologi robotik semakin berperan dalam penanganan masalah sendi, terutama untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan presisi operasi, namun tetap sebagai alat bantu dokter.
- Forum juga menyoroti penanganan tumor tulang dan kemandirian implan medis Indonesia, termasuk pentingnya kolaborasi riset dan pengembangan teknologi lokal.
Menurut Norman, AI berpotensi membantu empat aspek kedokteran, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun, teknologi tersebut tetap sebatas alat bantu bagi tenaga medis.
“AI itu bisa sangat membantu dalam mendiagnosis penyakit orang,” jelasnya.
Norman juga mengingatkan pengembangan AI di Indonesia masih menghadapi persoalan pengelolaan big data. Karena itu, forum IHKS 2026 dinilai penting sebagai ruang edukasi sekaligus penguatan riset dan teknologi kedokteran.
Selain teknologi operasi dan AI, forum tersebut turut membahas penanganan tumor muskuloskeletal dan kanker tulang.
Baca Juga:Video AI Catut Gubernur DIY Beredar di WhatsApp, Publik Diimbau Waspada Modus Penipuan
Presiden Indonesian Musculoskeletal Oncology Society (INAMSOS), Mujadid Idul Haram, mengatakan tema “Preserve or Replace” juga relevan dalam penanganan tumor tulang.
Ia menyoroti stigma di masyarakat yang menganggap tumor tulang selalu berujung pada amputasi.
“Stigma yang ada selama ini, tumor tulang berarti amputasi. Padahal, tidak selalu demikian. Jika memungkinkan, bagian tulang yang terkena tumor bisa diganti dengan implan khusus sehingga fungsi anggota gerak terjaga,” terangnya.
Dalam penjelasan lainnya, Mujadid mencontohkan tulang yang terkena tumor dapat diangkat dan kemudian diganti menggunakan sendi buatan.
“Tulang yang terkena tumor itu bisa dibuang dan nanti akan diganti dengan sendi buatan,” ujarnya.
Baca Juga:Emoji Bukan Sekadar Hiasan, Peneliti Temukan Simbol Bisa Bantu AI Mendeteksi Spam di Medsos
Mujadid menekankan penanganan tumor muskuloskeletal membutuhkan kolaborasi berbagai bidang, mulai dari radiologi, patologi, rehabilitasi hingga ortopedi.
Di sisi lain, Norman turut menyoroti persoalan kemandirian Indonesia dalam produksi implan medis.
“Saat ini, ketahanan nasional kita di bidang implan masih rendah. Tahun 2013, 96 persen implan medis di Indonesia masih impor. Setelah berbagai upaya bersama LIPI dan lembaga riset lain, angka itu baru turun menjadi 94 persen pada 2017,” paparnya.
Menurut Norman, produksi implan medis memiliki standar yang tinggi, mulai dari biomaterial, desain yang sesuai anatomi tubuh, hingga kemampuan tubuh menerima implan tanpa menimbulkan reaksi berbahaya.
“Standar produksi implan medis sangat tinggi, mulai dari biomaterial, desain yang sesuai anatomi, hingga kemampuan tubuh menerima implan tanpa reaksi berbahaya. Karena itu, riset biomaterial dan inovasi lokal menjadi sangat penting,” lanjutnya.
IHKS 2026 terlaksana melalui kerja sama antara Indonesian Hip and Knee Society (IHKS), Indonesian Musculoskeletal Oncology Society (INAMSOS), dan Indonesian Orthopaedic & Traumatology Research Society (IOTRS).