Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan

Pencegahan stunting tak cukup lewat penyuluhan. Lewat Program Tangkas Gizi di Sleman, keluarga diberdayakan mandiri sediakan pangan dari pekarangan.

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan
Ilustrasi Fakta Penting Tentang Stunting. (dok. WVI)
Baca 10 detik
  • Dosen Unisa Yogyakarta Erni Saharuddin meluncurkan Program Tangkas Gizi di Sleman pada Juli-Agustus 2026.
  • Program tersebut melatih kader PKK mengolah makanan bergizi, membudidayakan ayam petelur, serta menanam sayuran secara vertikal.
  • Inisiatif ini bertujuan memberdayakan keluarga agar mampu menyediakan pangan bergizi secara mandiri untuk mencegah stunting.

SuaraJogja.id - Pencegahan stunting pada anak tidak cukup hanya melalui penyuluhan tentang gizi seimbang. Keluarga juga perlu memiliki kemampuan menyediakan pangan bergizi secara mandiri agar kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Dosen Program Studi Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Erni Saharuddin, mengatakan pemberdayaan keluarga untuk memproduksi bahan pangan sendiri dapat menjadi salah satu langkah memperkuat pencegahan stunting.

“Penguatan kemampuan keluarga menyediakan pangan bergizi secara mandiri dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun pencegahan stunting yang lebih berkelanjutan,” kata Erni di Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya memahami pentingnya makanan bergizi. Pengetahuan tersebut harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui pengolahan makanan dan pemanfaatan lingkungan rumah untuk menyediakan sumber pangan keluarga.

Baca Juga:Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Luar, Ini Alasannya

Urgensi upaya tersebut terlihat dari prevalensi stunting nasional yang mencapai 19,8 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 14,2 persen pada 2029.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 4,4 juta balita masih mengalami stunting pada 2024. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting masih membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga keluarga dan masyarakat.

Erni menjelaskan, stunting merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk kondisi ibu selama kehamilan, kualitas asupan gizi, pola pengasuhan, sanitasi, akses pelayanan kesehatan, serta kemampuan keluarga memperoleh makanan bergizi.

Karena itu, penanganannya tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI (MPASI), pemantauan pertumbuhan balita, akses air minum dan sanitasi layak, serta pendampingan keluarga berisiko stunting juga perlu diperhatikan.

Dari Pekarangan Rumah hingga Sumber Protein Keluarga

Baca Juga:Berkaca Kasus Keracunan, Jogja Uji MBG Prasmanan dan Tak Lagi Pakai Ompreng

Gagasan kemandirian pangan tersebut diterapkan melalui Program Tangkas Gizi atau Tangguh Atasi Stunting dan Advokasi Kesehatan Gizi di Padukuhan Gentingan, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman.

Program pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Erni Saharuddin bersama anggota Nor Eka Noviani dan Nur Fitri Mutmainah itu mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

Rangkaian kegiatan berlangsung pada 6 Juli hingga 2 Agustus 2026 dengan melibatkan kader PKK setempat. Peserta tidak hanya memperoleh edukasi mengenai gizi seimbang, tetapi juga diajak mempraktikkan cara mengolah makanan dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber pangan.

Salah satu materi yang diberikan adalah konsep Isi Piringku untuk mengenalkan komposisi makanan beragam dan bergizi. Setelah itu, peserta mempraktikkan pembuatan sosis rumahan berbahan dasar daging sebagai sarana belajar memilih bahan pangan dan mengolah makanan secara higienis.

Program tersebut juga mengenalkan budidaya ayam petelur menggunakan sistem kandang baterai, termasuk pengelolaan pakan dan sanitasi. Warga diajari mengelola kotoran ayam agar tidak menimbulkan bau maupun mencemari lingkungan.

Selain menghasilkan telur sebagai sumber protein hewani, masyarakat diperkenalkan dengan teknik menanam sayuran cepat panen, seperti bayam, sawi, dan kangkung, menggunakan rak tanam vertikal untuk mengoptimalkan lahan yang terbatas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak