Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan

Pencegahan stunting tak cukup lewat penyuluhan. Lewat Program Tangkas Gizi di Sleman, keluarga diberdayakan mandiri sediakan pangan dari pekarangan.

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 09 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Cegah Stunting Tak Cukup dengan Edukasi, Keluarga Perlu Mandiri Pangan
Ilustrasi Fakta Penting Tentang Stunting. (dok. WVI)
Baca 10 detik
  • Dosen Unisa Yogyakarta Erni Saharuddin meluncurkan Program Tangkas Gizi di Sleman pada Juli-Agustus 2026.
  • Program tersebut melatih kader PKK mengolah makanan bergizi, membudidayakan ayam petelur, serta menanam sayuran secara vertikal.
  • Inisiatif ini bertujuan memberdayakan keluarga agar mampu menyediakan pangan bergizi secara mandiri untuk mencegah stunting.

Menurut Erni, pemanfaatan pekarangan dapat membantu keluarga menjaga ketersediaan bahan pangan bergizi tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar rumah.

“Telur tidak harus selalu dibeli dari luar. Sayuran tidak selalu bergantung pada pasar. Sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari lingkungan rumah sendiri,” ujarnya.

Meski demikian, kemandirian pangan bukan berarti seluruh kebutuhan gizi keluarga harus diproduksi sendiri. Upaya tersebut menjadi salah satu alternatif untuk memperluas akses terhadap bahan makanan bergizi sesuai kemampuan dan kondisi lingkungan masing-masing keluarga.

Kader PKK Jadi Penggerak Keberlanjutan

Baca Juga:Cuaca Panas Menyengat, Warga Diminta Tak Beraktivitas di Luar, Ini Alasannya

Erni menilai keberlanjutan program pemberdayaan sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, kader PKK memiliki peran penting untuk meneruskan edukasi dan menjaga kegiatan tetap berjalan setelah pendampingan dari perguruan tinggi berakhir.

Melalui kader yang dekat dengan warga, pengetahuan tentang gizi dan pengelolaan pangan diharapkan dapat diterapkan lebih luas di lingkungan keluarga.

Program Tangkas Gizi juga diarahkan pada penguatan kelembagaan kelompok, termasuk penyusunan mekanisme pengelolaan budidaya ayam petelur dan sayuran, pengelolaan kas, serta pemanfaatan hasil produksi.

Hasil produksi diprioritaskan untuk mendukung pemenuhan gizi balita dan kegiatan PKK. Sementara itu, kelebihan hasil dapat dimanfaatkan untuk menjaga keberlanjutan usaha kelompok, misalnya untuk membeli bibit dan pakan.

Pola tersebut diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima bantuan atau penyuluhan, tetapi memiliki kemampuan mengelola sumber daya secara mandiri.

Baca Juga:Berkaca Kasus Keracunan, Jogja Uji MBG Prasmanan dan Tak Lagi Pakai Ompreng

“Melawan stunting memang membutuhkan kebijakan yang kuat, namun perubahan yang bertahan lama juga membutuhkan keluarga dan masyarakat yang tangguh,” kata Erni.

Dengan demikian, pencegahan stunting perlu berjalan melalui dua pendekatan yang saling melengkapi: peningkatan pengetahuan tentang gizi dan penguatan kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan. Keduanya menjadi bagian penting agar pemenuhan gizi anak tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak