Daya Beli Warga Jogja Turun, Pedagang Terpaksa Pangkas Dagangan

Daya beli warga Yogyakarta melemah akibat lonjakan harga pangan. Pedagang pasar dan kecil merugi karena omzet turun, sementara pembeli terpaksa berhemat

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 16 Oktober 2026 | 16:57 WIB
Daya Beli Warga Jogja Turun, Pedagang Terpaksa Pangkas Dagangan
Pedagang mengaku kenaikan harga di Pasar Beringharjo, Jumat (16/10/2026). (Suarajogja.id/Putu Ayu Palupi)
Baca 10 detik
  • Pedagang di Kota Yogyakarta menghadapi lonjakan harga bahan pangan signifikan sejak September hingga Oktober 2026.
  • Warga Kota Yogyakarta terpaksa mengurangi jumlah belanja pangan dan mengubah menu harian demi menghemat pengeluaran.
  • Para pedagang kecil memilih memangkas volume dagangan serta merelakan penurunan laba agar pelanggan tetap bertahan.

Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari cara pelanggan mengatur pengeluaran. Beberapa pembeli bahkan sengaja menggunakan pembayaran nontunai agar dapat memantau uang yang dihabiskan untuk jajan.

Pelanggan dari kalangan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan tempatnya berjualan juga ikut mengurangi pengeluaran.

"Ada yang pakai QRIS biar kelihatan pengeluaran jajan saya sekarang berapa. Ada juga ASN yang bilang pendapatannya berkurang jadi mereka juga mengurangi jajan di tempat saya," paparnya.

Di tengah penurunan jumlah pembeli, modal belanja Yanti justru meningkat. Harga bahan makanan beku yang dijualnya naik dari Rp 12.000 menjadi Rp 14.500. Sementara itu, harga kudapan seperti odeng meningkat dari Rp 21.000 menjadi Rp 24.000.

Baca Juga:Sambut HUT ke-15, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Gelar Donor Darah: Perkuat Kepedulian Terhadap Sesama

Meski menghadapi kenaikan modal, Yanti memilih tidak menaikkan harga jual. Ia juga tidak mengurangi ukuran porsi karena ingin mempertahankan pelanggan.

"Kalau kualitas nasi dua centong, ya tetap dua centong. Daripada porsi saya kurangi, saya lebih memilih mengurangi laba saya," ungkapnya.

Sementara itu, Amik, seorang warga Jetis, mengaku mengurangi belanja kebutuhan pangan, terutama ayam yang harganya masih di atas Rp 40.000 per kilogram. Ia tidak lagi membeli daging setiap hari dan memilih menyelinginya dengan tempe serta tahu.

"Kalau tiap hari beli ayam bisa bisa tidak bayar listrik," imbuhnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Baca Juga:Ketua Yayasan Little Aresha Dituntut 10 Tahun Penjara, 83 Anak Korban Minta Restitusi Rp2,12 Miliar

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak