- Jogja Cultural Wellness Festival 2026 digelar pada 6–8 November 2026.
- Jogja Cultural Wellness Festival 2026 memadukan tradisi Jawa dan kebugaran.
- Jogja Cultural Wellness Festival 2026 mendorong kunjungan wisatawan berkualitas.
SuaraJogja.id - Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 akan digelar selama tiga hari berturut-turut pada 6–8 November 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta. Perubahan format penyelenggaraan ini ditujukan untuk mempertemukan komunitas wellness dengan pelaku industri pariwisata sekaligus mendorong kunjungan wisatawan pada musim sepi di Yogyakarta.
Informasi tersebut disampaikan dalam konferensi pers JCWF 2026 di Loman Park Hotel Yogyakarta, Rabu (21/10/2026). Festival tahun keempat ini mengusung tema “Reconnecting People, Culture & Wellbeing”, dengan menghadirkan beragam pengalaman kebugaran yang terhubung dengan budaya lokal.
Inisiator sekaligus Ketua Umum JCWF 2026, GKR Bendara, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya festival berlangsung setiap Sabtu sepanjang November di lokasi berbeda, kali ini seluruh kegiatan dipusatkan selama tiga hari.
“Tujuan utama kami ada dua. Pertama, mengoneksikan industri pariwisata dengan komunitas wellness lokal. Kedua, menciptakan pasar dan permintaan baru (new demand) untuk menaikkan angka kunjungan wisatawan ke Yogyakarta pada periode low season November,” kata GKR Bendara dalam konferensi pers tersebut.
Baca Juga:Tak Hanya Jualan Candi dan Keraton untuk Dongkrak Pariwisata, Jogja Bidik Javanese Wellness Tourism
Rangkaian kegiatan dimulai pada Jumat (6/11/2026) melalui agenda business matching dan networking. Kegiatan ini mempertemukan komunitas wellness dengan pelaku usaha, seperti hotel, agen perjalanan, restoran, dan pengelola tempat kegiatan untuk menjajaki kerja sama pengembangan produk wisata.
Sementara itu, Sabtu dan Minggu (7–8/11/2026) menjadi rangkaian utama festival. Pengunjung dapat mengikuti beragam program, mulai dari meditasi, sound healing, aktivitas kebugaran, hingga kegiatan yang berkaitan dengan makanan sehat dan herbal. Panitia juga menyediakan program gratis serta kelas tertentu yang memerlukan pendaftaran dan biaya tersendiri.
Kurator program JCWF 2026, Fadli, menjelaskan bahwa festival ini berupaya memperkenalkan tradisi Jawa melalui pengalaman wellness. Menurutnya, praktik budaya lokal memiliki potensi untuk memberikan pengalaman yang berkaitan dengan ketenangan pikiran dan kesehatan holistik.
“Selama ini tradisi Jawa lebih banyak ditampilkan dari sisi atraksi budaya (cultural attraction), bukan dari sisi manfaat kesehatan holistiknya (wellness). Lewat JCWF, kami merangsang komunitas lokal yang menguri-nguri tradisi untuk memposisikan kearifan tersebut sebagai pengalaman wellness,” ujar Fadli.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata DIY, Eliya, menyatakan dukungan terhadap JCWF sebagai bagian dari upaya mengembangkan pariwisata berkualitas di Yogyakarta. Menurutnya, pengalaman wisata berbasis wellness berpotensi memperluas manfaat ekonomi bagi berbagai pelaku usaha.
Baca Juga:Belajar Hadapi Kekeringan dari Romo Kirjito, Mamanen Air Hujan yang Jatuh dari Langit
“Kita tidak lagi sekadar mengejar jumlah wisatawan (quantity tourism) yang membuat Jogja penuh tapi dampak ekonominya minim. Wisatawan wellness adalah high-spender yang tinggal lebih lama dan menyebar dampak ekonominya ke hotel, resto, hingga desa wisata,” kata Eliya.
General Manager Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono, mengatakan pihaknya siap menjadi lokasi penyelenggaraan sekaligus ruang pertemuan bagi komunitas dan pelaku industri pariwisata.
“JCWF menjadi etalase sempurna untuk menghubungkan komunitas dengan pelaku industri,” ujarnya.
JCWF 2026 terbuka bagi masyarakat yang ingin mengenal berbagai praktik wellness berbasis budaya. Informasi mengenai jadwal, program, dan pendaftaran dapat diakses melalui situs resmi (https://www.jcwf.id/). Tiket masuk area festival tersedia secara gratis dengan registrasi, sedangkan sejumlah kelas memiliki ketentuan pendaftaran dan biaya tersendiri.
Reorter: Fairus Farizki