Chandra Iswinarno
Kamis, 04 April 2019 | 15:56 WIB
Jembatan bambu menjadi satu-satunya akses menuju MA Ummatan Wasathon lantaran jembatan beton yang sebelumnya ada, putus akibat diterjang banjir, beberapa waktu lalu. [Suara.com/Sri Handayani]

Jembatan utama itu dulunya dibangun dengan dana bantuan dari sebuah lembaga zakat nasional. Subardi berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Bantul akan memperbaiki jembatan utama tersebut karena pihak sekolah tak mempunyai dana yang cukup untuk membangun kembali.

Subardi menceritakan, ada 26 siswa yang akan mengikuti UNBK hari kedua. Ujian dibagi dalam dua sesi, sebab jumlah komputer yang ada tak mencukupi untuk menguji seluruh siswa secara bersamaan.

Ujian dilakukan di Laboratorium Komputer yang telah dipindahkan ke lantai atas.

Kebijakan memindahkan laboratorium ke lantai atas dilakukan setelah banjir menerjang sekolah itu sebanyak dua kali.

Pada 2017, sekolah tersebut juga terdampak luapan Sungai Celeng. Namun, ketinggian air hanya mencapai sekitar 20-30 sentimeter. Luapan pada 17 Maret berdampak lebih besar, sebab ketinggian air mencapai satu meter.

Selain laboratorium, semua fasilitas penting seperti perpustakaan dan ruang guru MA Ummatan Wasathon juga dipindah ke lantai atas. Hingga kini buku-buku dari perpustakaan masih menumpuk di pojok sekolah dan teras-teras.

Kontributor : Sri Handayani

Load More