- Komisi Informasi Daerah DIY mencatat 41 sengketa informasi pertanahan selama periode 2024 hingga Mei 2026.
- Sengketa pertanahan mendominasi hingga 70 persen total perkara karena adanya penolakan data oleh badan publik.
- Masyarakat memanfaatkan keterbukaan informasi untuk menelusuri status kepemilikan tanah dan mengungkap dugaan praktik mafia tanah.
SuaraJogja.id - Sengketa informasi publik yang berkaitan dengan persoalan pertanahan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus mendominasi perkara yang ditangani Komisi Informasi Daerah (KID) DIY. Dalam kurun tiga tahun terakhir, tercatat sedikitnya 41 sengketa pertanahan yang masuk dan diproses lembaga tersebut.
Ketua KID DIY, Erniati di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (13/5/2026) menyebut meningkatnya permohonan informasi pertanahan menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk mengakses data publik.
Banyak warga memanfaatkan mekanisme keterbukaan informasi untuk menelusuri persoalan kepemilikan tanah, termasuk dugaan praktik mafia tanah.
"Mayoritas sengketa informasi yang masuk ke Komisi Informasi Daerah adalah terkait dengan informasi pertanahan," ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir jumlah sengketa informasi yang ditangani menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2024 tercatat 23 sengketa, kemudian turun menjadi 13 perkara pada 2025.
Hingga Mei 2026, pihaknya sudah menerima lima sengketa baru sehingga total tiga tahun terakhir sudah mencapai 41 kasus.
Dari total perkara tersebut, sekitar 60–70 persen berkaitan dengan persoalan tanah. Sengketa biasanya muncul ketika masyarakat mengajukan permohonan informasi kepada badan publik, misalnya pemerintah kalurahan namun informasi yang diminta dinilai sebagai informasi yang dikecualikan sehingga tidak diberikan kepada pemohon.
"Dalam beberapa kasus, pemohon meminta data tertentu, sementara pihak kalurahan menyatakan informasi tersebut termasuk informasi yang dikecualikan. Di Komisi Informasi Daerah kami mengkaji apakah informasi itu memang bisa diakses oleh publik atau tidak," jelasnya.
Salah satu contoh sengketa yang sering muncul adalah permintaan informasi terkait Tanah Kas Desa (TKD). Permohonan tersebut biasanya berkaitan dengan dokumen administrasi pertanahan seperti Letter C, riwayat kepemilikan, maupun status pemanfaatan lahan.
Baca Juga: Menyambut Derby DIY di Super League Musim Depan, Bupati Sleman: Hilangkan Rivalitas Tidak Sehat
KID kemudian memeriksa sengketa dengan menilai apakah pemohon memiliki hubungan hukum dengan objek informasi yang diminta. Berdasarkan kajian tersebut, majelis komisioner dapat memutuskan apakah informasi tersebut harus dibuka kepada publik atau tetap dikecualikan.
"Putusannya bisa terbuka ataupun tertutup, tergantung apakah pemohon memiliki hubungan hukum dengan objek informasi yang dimohonkan," jelasnya.
Selain melibatkan pemerintah kalurahan, sengketa informasi pertanahan juga kerap melibatkan kantor pertanahan hingga badan usaha milik negara (BUMN), khususnya terkait klaim aset tanah.
Dalam sejumlah kasus, pemohon merasa memiliki hak atas objek tanah yang diklaim sebagai aset oleh BUMN, sehingga mereka meminta informasi mengenai dasar hukum penetapan aset tersebut.
Pemohon merasa memiliki hak atas objek tanah yang diklaim sebagai aset BUMN. Karena itu mereka meminta informasi terkait dasar hukum kepemilikan aset tersebut," ujarnya.
Selain persoalan tanah, sengketa informasi lain yang masuk ke KID biasanya berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa pemerintah, status aset lembaga negara, serta permohonan informasi terkait proses tertentu di institusi kepolisian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sosok Arnold Aristoteles, Mantan Jenderal yang Dimarahi Menteri PU Dody Hanggodo
- Apakah Kulkas Harus Dimatikan saat Membersihkan Bunga Es? Begini Cara yang Benar
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- 12 Pilihan Mesin Cuci Langsung Kering Tanpa Jemur
- Angka Hoki Shio untuk Menarik Rezeki dan Keberuntungan Finansial
Pilihan
-
Masinis Argo Bromo Anggrek Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta di Bekasi
-
Jejak Aparat pada Kematian Pedagang Cermin saat Demo 27 Agustus 2026
-
Hasil Rapat Haji di Istana, Masa Tunggu Jadi 14 Tahun
-
Hasil Investigasi di Lapas Cibinong: Kulkas Berisi Miras hingga Perabotan Mewah Milik Kasi Kamtib
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
Terkini
-
DIY Masuk Periode Kekeringan Berkepanjangan, Tiga Kabupaten Dibayangi Kebakaran
-
Raih Ekstra 27.000 GarudaMiles dari Transaksi dengan BRI Kartu Kredit Infinite Prioritas
-
Kemarau Diprediksi hingga Desember, Kulon Progo Perpanjang Siaga Kekeringan
-
Cara PIMPASA Imigrasi Yogyakarta Cegah Perdagangan Orang Lewat Pangan dan Wayang
-
Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja