SuaraJogja.id - Pemerintah telah memastikan adanya kenaikan iuran BPJS dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai 1 Januari 2020 mendatang.
Salah satu alasan yang dikemukakan, untuk memenuhi kebutuhan obat yang tinggi bagi pasien BPJS di Rumah Sakit (RS).
Padahal, saat ini ada teknologi yang bisa jadi alternatif untuk penyediaan pengobatan murah namun berkualitas bagi masyarakat.
Salah satunya pemanfaatan kedokteran nuklir untuk pengobatan sejumlah penyakit seperti kanker yang jadi salah satu penyakit paling banyak terjadi di Indonesia.
"Di kedokteran nuklir ada metode ablasi yang cukup sekali operasinya untuk menghilangkan sisa kanker, ini tentu meringankan pemerintah untuk pembayaran klaim BPJS," ungkap Ketua Perhimpunan Dokter Nuklir Eko Purnomo disela Indonesia Nuclear Expo (NEXPO) di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Jumat (6/9/2019).
Dicontohkan Eko, satu kali operasi kanker tiroid di Kedokteran nuklir sebesar Rp 9 juta dan semuanya masuk klaim BPJS. Sedangkan, bila pengobatan dilakukan dengan kemoterapi bisa mencapai Rp 100 juta per paket karena obatnya harus impor dari luar negeri.
"Untuk kasus hypertyroid dengan penanganan kedokteran nuklir juga jauh lebih murah penanganannya sehingga bisa menghemat BPJS," ujarnya.
Sementara, Dokter Nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Husein Kartasasmita mengungkapkan, meski kedokeran nuklir bisa jadi alternatif, Indonesia saat ini masih kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kedokteran nuklir. Baru ada sekitar 50-an saja dokter spesialis kedokteran nuklir.
"Kebanyakan dokter nuklir ada di kota-kota besar," ujarnya.
Baca Juga: Soal BPJS Naik, Gerindra: Mentang-mentang Menang, Sekarang Bebani Rakyat
Karenanya pengembangan SDM di bidang kedokteran nuklir sangat dibutuhkan. Saat ini baru ada beberapa Rumah Sakit (RS) yang memiliki fasilitas kesehatan dengan penerapan kedokterna nuklir.
Diantaranya RS Adam Malik Medan, RSPAD Gatot Subroto, RSCM, RS Darmais, RS Pusat Pertamina, RS Jantung Harapan Kita, RS Siloam, RS Gading Pluit, RS Abdi Waluyo. Selain itu RS Hasan Sadikin Bandung, Cancer Center Kopo Santosa, RSUP Dr Sardjito, RS Karyadi, RS Surabaya dan RS Samarinda, RS Bali Mandara dan RS Manado Kandouw.
Pakar Kedokteran Nuklir, Johan Mansyur mengungkapkan meski mulai berkembang tahun 60-an, teknologi nuklir baik radioaktif maupun radioisotop bisa dimanfaatkan untuk fungsi diagnostic dan terapi. Pengobatan ini jauh lebih aman dan murah pasien.
"Pengobatan ablasi dalam kedokteran nuklir cukup diminum, bukan ditusuk seperti kemoterapi," katanya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Tanah Adat Dirampas, Konflik dengan Negara Kian Memanas, RUU Masyarakat Adat Mendesak Disahkan
-
Dua Dekade Gempa Jogja, Ancaman Megathrust dan Pentingnya Klaster Bencana
-
Dampak Konflik Geopolitik: Shamsi Ali Ungkap Bahaya Retorika Trump bagi Komunitas Muslim di Amerika
-
Leo Pictures Gelar Gala Premiere Terbesar: 'Jangan Buang Ibu' Bakal Sentuh Hati Penonton Indonesia
-
Rupiah Melemah, Purbaya Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Kuat, Kurs Kembali ke Rp15 Ribu