SuaraJogja.id - Transmisi lokal Covid-19 di DIY mulai banyak terjadi, termasuk di Kabupaten Gunungkidul. Di Gunungkidul, dua pasien positif terbaru terpapar corona akibat berinteraksi langsung dengan pasien positif ketiga terakhir, yaitu seorang nenek berusia 74 tahun asal Kecamatan Wonosari.
Wacana untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai bermunculan layaknya kota ataupun provinsi lain di wilayah Pulau Jawa. Gunungkidul, yang juga mengalami transmisi lokal Covid-19 tersebut, juga berpeluang memberlakukan PSBB.
Wakil Bupati Gunungkidul yang juga Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Gunungkidul Immawan Wahyudi angkat bicara soal wacana tersebut. Secara subjektif, Immawan berpendapat bahwawilayah Gunungkidul belum siap melaksanakan PSBB.
Alasan pertama Gunungkidul belum siap memberlakukan PSBB berkaitan dengan faktor ekonomi. Menurutnya, masih banyak masyarakat Gunungkidul yang harus keluar rumah untuk mencari nafkah menghidupi keluarga mereka. Wilayah Gunungkidul, yang masuk daerah termiskin di DIY, menuntut warga untuk tetap mencari penghasilan.
"Selain perantau, Gunungkidul juga dikenal banyak penglaju. Setiap hari ribuan orang pulang-pergi Gunungkidul-Kota Yogyakarta untuk mencari nafkah. Ya karena tuntutan perut," tutur Immawan ketika dikonfirmasi, Kamis (23/4/2020).
Alasan kedua adalah dari sudut pandang sosial masyarakat pedesaan, baik yang basisnya perdagangan, pertanian, maupun profesi lainnya. Rasa sosial warga Gunungkidul, kata dia, berperan cukup besar dalam hal-hal sepele hingga hal yang cukup berat sekalipun.
Semangat kegotongroyongan untuk memikul beban yang berat sudah terawat dengan baik sejak puluhan tahun yang lalu. Warga akan dengan sukarela membantu kerepotan warga yang lain karena jiwa sosial mereka yang masih sangat tinggi. Hal inilah yang cukup sulit ditemukan di kota-kota besar bahkan di kota lain di DIY.
"Persaudaraan kami sangat kuat. Bahkan di perantauan pun juga demikian," tambahnya.
Alasan ketiga yang paling mendasar adalah dari kecukupan anggaran untuk mem-back up jaring pengaman sosial. Gunungkidul hanya memiliki Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang kecil dibandingkan dengan daerah tingkat 2 lain di wilayah DIY.
Baca Juga: Ayah Ibu Kena Corona di Asrama Haji Sukolilo, Anaknya Ikut Tertular
Terlebih, tahun ini ini pihaknya memperkirakan akan kehilangan pendapatan asli daerah sebesar Rp24 miliar hingga triwulan ke-2. Meskipun telah melakukan redesain anggaran sebanyak tiga kali untuk keperluan penanganan wabah corona ini, tetapi menurutnya itu tak mampu untuk mem-back up jaring pengaman sosial.
"Itu pendapat subjektif saya, tapi jika Ibu Bupati berkenan untuk menerapkan PSBB saya ya sami'na wa atho'na," ujarnya.
Menurut Immawan, PSBB memang belum perlu diberlakukan di wilayah DIY, khususnya di Gunungkidul. Sebab, apa yang sedang diterapkan saat ini masih cukup efektif mengatasi pandemi Covid-19.
Diberitakan SuaraJogja.id sebelumnya, berdasarkan kajian epidemiologi dari Tim Perencanaan, Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan COVID-19 DIY, sebanyak 51 kasus dari total 713 kasus yang terkonfirmasi pada Rabu (22/4/2020), ditemukan 12 kasus yang tertular dari generasi pertama (G1).
Dari hasil penyelidikan tersebut diketahui 51 kasus merupakan kasus yang mempunyai riwayat paparan berupa kunjungan ke wilayah yang dianggap zona merah. Mereka ada yang baru pulang dari berkunjung ke luar negeri ataupun daerah lain di Indonesia.
Dengan adanya transmisi lokal, maka DIY bisa saja mengajukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti halnya yang sudah diberlakukan di Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah. Sebab, salah satu kriteria PSBB adalah munculnya kasus transmisi lokal COVID-19 di satu daerah.
Berita Terkait
-
Sudah Prediksi Bansos Bermasalah, PDIP: Anies Kebanyakan Jadi Jubir Corona
-
Alasan Walkot Batam Ogah PSBB; Seluruh Harga Kebutuhan di Batam Bisa Naik
-
Ikuti PSBB, Jakarta Bebas Ganjil Genap Diperpanjang Sampai 22 Mei
-
Takut Ekonomi Lumpuh Total, Wali Kota Batam Ogah Terapkan PSBB
-
Medan Tolak Lakukan PSBB Corona, Cuma Isolasi Kluster
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Puncak AXIS Nation Cup 2026 Segera Tiba, Tim Futsal SMA Terbaik Siap Adu Kekuatan
-
JKT48, Bernadya, dan Inul Daratista Satu Panggung di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang