- Tim kuasa hukum kecewa atas tuntutan 8,5 tahun penjara terhadap mantan Bupati Sleman di Tipikor Yogyakarta, Jumat (13/3/2026).
- Kuasa hukum menilai JPU mengabaikan fakta persidangan, khususnya terkait ketiadaan kaitan dana hibah dengan kepentingan politik praktis.
- Poin krusial lain adalah bantahan menikmati dana hibah Rp10,9 miliar, dengan pembelaan akan diajukan 27 Maret 2026.
SuaraJogja.id - Tim kuasa hukum mantan Bupati Sleman, Sri Purnomo, meluapkan kekecewaannya atas tuntutan delapan tahun enam bulan penjara yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Yogyakarta, Jumat (13/3/2026).
Pihak kuasa hukum menilai jaksa telah mengabaikan fakta-fakta penting yang muncul selama proses pembuktian di persidangan.
Soepriyadi, selaku kuasa hukum Sri Purnomo, menyatakan bahwa banyak keterangan saksi dan fakta-fakta persidangan yang tidak dimuat secara dalam dokumen tuntutan.
Pihak kuasa hukum juga menyoroti narasi jaksa yang mencoba mengaitkan dana hibah dengan kepentingan politik praktis.
"Kami sangat kecewa, karena kenapa? Banyak fakta-fakta persidangan yang tidak diungkapkan tadi dalam tuntutannya, termasuk kelompok-kelompok masyarakat yang menyatakan bahwasanya tidak ada kaitan dengan Pilkada," kata Soepriyadi, usai sidang, Jumat sore.
Menurutnya upaya jaksa mengaitkan kasus ini dengan Pilkada merupakan langkah frustasi.
"Kami melihat tuntutan ini sebagai bentuk frustrasi jaksa melihat fakta-fakta persidangan yang tidak ada satu pun dapat dibuktikan atas dakwaannya. Ini bentuk frustrasi," ungkapnya.
Selain masalah narasi politik, tim hukum membantah adanya intervensi dari Sri Purnomo dalam pembuatan Peraturan Bupati (Perbup) yang menjadi objek perkara.
"Dalam persidangan juga terungkap Pak Bupati tidak pernah mengintervensi pembuatan Perbup. Itu yang harus digarisbawahi, itu clear itu di persidangan," ucapnya.
Baca Juga: Nekat Terjang Jalur Jip saat Sepi, Mobil Pajero Terjebak Lumpur Kali Kuning di Lereng Merapi
Poin paling krusial yang ditegaskan kuasa hukum adalah mengenai tuntutan uang pengganti sebesar Rp10,9 miliar. Soepriyadi menekankan bahwa Sri Purnomo sama sekali tidak menikmati aliran dana hibah tersebut secara pribadi.
"Ini juga kelirunya jaksa dalam membuat tuntutan. Subsidier pengganti kerugian negara itu apabila dinikmati oleh Pak Sri Purnomo. Saya tegaskan sekali lagi, ini sudah berapa kali menegaskan, satu rupiah pun Pak Sri Purnomo tidak menikmati uang dana hibah tersebut," tuturnya.
Sebagai langkah hukum selanjutnya, tim pengacara akan menyusun nota pembelaan (pleidoi) secara komprehensif untuk membantah seluruh poin tuntutan jaksa.
Nota pembelaan tersebut rencananya akan dibacakan pada persidangan berikutnya yang dijadwalkan pada 27 Maret 2026 mendatang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Gandeng 43 Kampus Muhammadiyah, PERADI Profesional Perkuat Pendidikan dan Integritas Advokat
-
Coach Justin Nilai AXIS Nation Cup Buka Jalan Talenta Muda ke Level Profesional
-
Gratis! Grand Final AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan 16 Tim dan Deretan Artis
-
Pasca Ramai Seruan Boikot, RANS Carnival di Maguwoharjo Ditinggal Musisi dan UMKM
-
Polresta Sleman Sita 561 Botol Miras Ilegal Selama Oktober 2026