Selain aktif di Omah Kreatif, Agustin Yustina juga aktif menjadi narasumber atau ikut kegiatan diskusi. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, Agustin masih menjadi narasumber meski lewat live streaming atau Youtube.
Mematahkan rantai stigma
Sepintas, tato tidak terlihat sebagai fokus utama kegiatan di komunitas ini. Meski terlibat dengan komunitas tato lainnya, hal tersebut tidak menjadi aktivitas rutin.
"Kami kan membawa nama tato, pasti akan terlibat dengan komunitas yang memang khusus berbicara tato," jelas Agustin yang pernah berpatisipasi sebagai juri untuk Miss Tato Indonesia di Blitar.
Namun, kegiatan yang tidak berhubungan dengan tato jauh lebih banyak. Saat pandemi Covid-19 berlangsung, Agustin sempat turun tangan untuk membantu lewat pembentukan dapur umum.
Salah satu kegiatan mereka saat itu adalah mendonasikan susu untuk membantu gizi anak-anak yang keluarganya terdampak Covid-19. Agustin juga melakukan donasi sembako di kampung pemulung dan kampung pinggir sungai.
Kemudian, Agustin sendiri memberikan fasilitas internet gratis untuk belajar online. Kala itu, Agustin rela mengantar-jemput anak-anak yang membutuhkan jaringan internet untuk belajar di teras rumahnya sendiri.
Tidak hanya itu, Perempuan Tattoo Indonesia adalah penggagas Festival Dolanan Anak selama dua tahun berturut-turut. Banyak panitia saat itu adalah orang-orang dengan tato. Mereka pun sering mendapat pertanyaan, kenapa PTI malah membicarakan soal anak-anak?
"Tujuan mengampanyekan tato bukan kriminal, tidak hanya pada orang dewasa. Sedangkan stigma itu, kan, diterima dari pola pikir anak kecil. Anak kecil diwariskan dari pikiran-pikiran orangtua. Kenapa aku dan teman-teman fokus ke anak-anak? Kami ingin mematahkan rantai stigma itu," jelas Agustin.
Baca Juga: Program Community Accelerator dari Facebook Dukung Komunitas Tumbuh
"Jadi kami bertato, tapi kami cenderung berbicara tidak dengan tato. Anak adalah salah satu generasi pemutus rantai stigma: bahwa tato itu buruk, tato itu kriminal, tato itu sangat dibenci orang-orang. Tapi saat masih kecil kita kenalkan, bahwa kami bertato tapi kami tidak sesuai dengan apa yang orangtua ajarkan atau terlihat di media, ini tindakan langsung," tegasnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Flo, admin komunitas PTI. Meski dirinya tidak bertato, Flo juga tidak menyukai stigma yang sering beredar di masyarakat.
"Kalau saya mikirnya orang bertato itu nggak bisa langsung kita nilai 'kowe bertato jauhi dia' (kamu bertato, jauhi dia-red). Kalau biasanya, kan, ada ibu-ibu, bawa anak, yang pikirannya masih kolot langsung nge-judge gitu," kata Flo.
"Contohnya PTI sendiri, dia berkegiatan, dia langsung turun untuk membuat contoh nyata bahwa tato bukan kriminal yang sering masyarakat dengar. Itu sebagai jawaban untuk menghantam omongan-omongan orang yang langsung nge-judge," lanjut Flo.
Bukan sekadar perempuan dan tato
Meski nama komunitas mereka adalah Perempuan Tattoo Indonesia, Agustin tidak memberi batasan untuk anggota. Siapa pun, perempuan atau laki-laki, bertato atau tidak bertato, boleh bergabung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Duh! Penumpang KRL di Jogja Melonjak 30 Persen, Gangguan Listrik Picu Keterlambatan Perjalanan
-
Masih Ada 1,94 Juta Anak Tak Sekolah, Pemerintah Genjot Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman
-
BPPTKG Tegaskan Pendakian Gunung Merapi Sangat Tidak Disarankan, Ancaman Erupsi Masih Tinggi
-
Berangkat ke Rumah Anak Tak Pernah Tiba, Mbah Kasemo Ditemukan Meninggal Setelah 7 Hari Dicari
-
DIY Terbitkan Pergub Larangan Sekolah Jual Seragam, Antisipasi Pungutan dan Titipan Vendor