SuaraJogja.id - Siang itu, seorang lelaki renta terlihat berjalan agak tertatih menenteng sebuah ember kecil di tangannya, menyusuri pematang sungai kecil yang telah kering di pinggiran Pedukuhan Mojosari, Kalurahan Playen, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul. Sesekali ia berhenti untuk menegakkan tubuhnya yang terlihat agak membungkuk.
Di ujung jalan dusun, ia lantas terduduk bersandar di sebuah pohon mahoni yang cukup berumur. Ia lantas mengeluarkan bungkusan kecil dari kantong saku kiri bajunya yang telah dekil. Bungkusan tembakau tanpa merek dan kertas putih ia keluarkan dari bungkusan plastik. Dengan terampil ia lantas meracik tembakau dan melintingnya menjadi gulungan rokok kecil hingga menyalakannya dengan korek merah.
Waryadi (74), kakek yang telah uzur ini, tampak menolak tua dan tetap beraktivitas di sawah. Siang itu, Waryadi menuturkan baru saja dari sawah untuk menyirami tanaman jagung yang baru berumur dua minggu. Hampir setiap hari, ia memang harus menyirami tanaman jagungnya agar tetap tumbuh sesuai dengan yang diharapkan nantinya.
Waryadi memang harus bekerja lebih giat lagi di sawah kala kemarau mendera wilayah ini. Bagaimana tidak? Sumber-sumber air yang puluhan tahun silam menjadi sumber pemenuhan kebutuhan air bersih ataupun pengairan di sawah-sawahnya telah mengering, dan untuk menggantinya, warga Mojosari kini menggantungkannya pada sumur Bor Playen I ataupun Bogoran.
"Lha pripun, sendang-sendang alit kalian belik sampun mati [ya bagaimana, telaga-telaga kecil atau sumur kecil sudah mati]," tutur Waryadi, Sabtu (10/10/2020).
Di musim kemarau seperti sekarang ini, ia terpaksa harus mendatangkan air dari sumur bor milik kalurahan. Jika demikian, tentu ia harus merogoh kocek lebih dalam lagi agar tanaman jagungnya mendapat air untuk bertahan hidup. Sebab, untuk mengalirkan air ke sawahnya melalui larik atau sungai-sungai kecil, ia harus mengganti ongkos solar sumur bor tersebut.
Jika harus menggunakan air dari sumur bor Bogoran, maka ia harus merogoh kocek Rp75.000 setiap jamnya. Sementara jika dari sumur bor Playen I, maka ia harus merogoh kocek Rp45.000 setiap jamnya. Padahal sekali mengairi sawahnya, minimal ia harus mengalirkan air selama 3 jam.
"Neng biasane kulo rombongan tiyang sekawan po gangsal [tetapi biasanya saya rombongan 4 atau lima orang]," ujarnya.
Untuk sekali masa tanam, ia harus mengairi pohon jagungnya minimal 10 kali, dan di musim kemarau menjelang penghujan ini, Waryadi mengaku telah mengairi sawahnya dari sumur bor Playen I ataupun Bogoran sebanyak tujuh kali. Bisa dibayangkan berapa ongkos yang harus ia keluarkan karena terkadang, hasil panenannya tak mampu menutup ongkos solar yang ia keluarkan.
Baca Juga: Pulang dari Pondok Pesantren, Gadis 12 Tahun Dicabuli Ayah Kandung
Kepala Dusun Mojosari Suratman mengakui bahwa sumber-sumber mata air di bantaran kali Mojosari telah menghilang dalam 10 tahun terakhir. Padahal di zaman dulu, kawasan Mojosari tak pernah kering karena air terus mengalir di kali Mojosari; mata air kecil masih terus mengeluarkan air.
"Di bantaran kali Mojosari kalau ndak salah ada 44 titik mata air. Kini telah kering akibat berbagai faktor," terangnya.
Kini, dimotori Komunitas Garangan, mereka berusaha menghidupkan kembali sumber-sumber mata air yang telah mati. Komunitas Garangan adalah komunitas yang memang berkomitmen untuk melestarikan sumber mata air yang kini masih ada dan menghidupkan mata air yang kini sudah tidak mengeluarkan air lagi.
Adalah Edi Padmo (42), salah satu penggagas komunitas Garangan. Ia memang sengaja menginisiasi pembentukan komunitas tersebut karena berawal dari kegundahan hatinya dengan julukan yang masih terus disematkan untuk Gunungkidul hingga saat ini.
"Image yang terbangun untuk Gunungkidul hingga kini adalah selalu kekurangan air. Saya risih dengan sebutan itu," ujarnya.
Meski sejatinya sebagian wilayah Gunungkidul telah berlimpah air, tetapi ia mengakui, masih banyak daerah-daerah di Gunungkidul yang kekurangan air. Pemicunya adalah matinya sumber-sumber mata air yang selama ini menjadi pemasok kebutuhan warga sekitarnya.
Berita Terkait
-
15 Daerah Tolak SK Kepengurusan NPCI Sulsel Periode 2020-2025
-
Masika ICMI Sulsel Rayakan Ulang Tahun ke-27 Dengan Berbagi Bantuan
-
Pulang dari Pondok Pesantren, Gadis 12 Tahun Dicabuli Ayah Kandung
-
Pemerintah Pastikan Komunitas Adat Terpencil Dapat Bantuan Sosial
-
APK Dirusak, Tim Immawan-Martanty Lapor Ke Bawaslu Gunungkidul
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Film Dan Bandung Sapa Penonton Yogyakarta: Angkat Kisah Cinta, Persahabatan, dan Keluarga
-
Cherrypop 2026 Siap Guncang Prambanan, Puluhan Musisi Lintas Generasi Meriahkan Repelita Musik
-
42 Kasus Kebakaran Tercatat hingga Juli 2026 di Kota Jogja, Warga Diminta Tak Bakar Sampah
-
1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro Kembali dengan 'Rasa Merdeka': Sambut Agustusan dengan Rasa dan Tawa
-
Belum Genap Tiga Tahun, Puluhan Becak Listrik Danais Rusak, Dishub Sebut Baru Proyek Percontohan